Naru-Hina Fanfiction
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 4
Pecundang yang Kalah
Hinata terbangun dan mencoba membuka
matanya. Ia mencoba mengenali langit-langit yang ada dihadapannya ketika ia
bangun dan memastikan jika itu adalah langit-langit kamarnya. Ia putuskan untuk
tetap berbaring.Kepalanya masih terasa sangat berat, ia mencoba memegangi dan berharap
bisa sedikit mengurangi sakitnya.
Tapi saat ia mencoba mengangkat tangan
yang menuju ke kepalanya itu justru membuat sakit kepalanya jadi lebih
parah. Ia mendapati sebuah cincin
berlian bermata indigo itu di jari manis tangan kanannya yang mungil.
“Tidak,…ini bukan mimpi.” Tandasnya
menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulai menangis. “Apa yang
harus aku lakukan sekarang?”
“Nee-chan,…Kau sudah bangun ya??”
Hanabi segera menyeruak masuk kekamar kakaknya itu, seperti biasa tanpa mengetuk.
Ia melihat kakaknya menangis. Dan ia
berusaha bertanya dan memastikan apa yang baru saja membuat kakaknya itu
sesenggukan.
“Nee-chan serius menerima lamaran pria
tanpa alis itu?” Hanabi bertanya, “Kupikir selama ini Nee-chan hanya menyukai
Naruto Senpai. Tapi kenapa tiba-tiba jadi menerima ajakan pernikahan orang
lain??”
“itulah yang aku herankan,… aku tidak
menjawab apapun, dia memasangkan sendiri cincinnya ditanganku dan aku nyaris
pingsan.” Hinata menjelaskan sambil berlinangan air mata, ia mencoba menyeka
airmatanya dengan punggung tangannya.
“Tahu apa yang terjadi setelah itu? Si
cowok tanpa alis itu datang menggendongmu dan menjelaskan pada Tousan kalau kau
kegirangan menerima lamarannya sampai pingsan. Dan hebatnya Tousan malah
terlihat senang sekali menerima penjelasan itu.”
“Aapaa.??? Terus sekarang harus
bagaimana?”Hinata jadi semakin panik dan airmatanya semakin deras berlinang.
“Hinata!” panggil seseorang dari balik
pintu, yang kemudian mulai melangkah memasuki kamar Hinata.
Hiashi mendekati anak gadisnya yang
berusaha duduk di kasurnya dan menghapus air matanya cepat-cepat.
“Hinata, aku senang akhirnya Gaara
melamarmu. Kami juga sudah membicarakan tentang acara pertunangan resmimu dalam
waktu dekat. Dan Gaara berharap bisa menikah denganmu di musim semi tahun
depan.”
“Oh tidak,… sudah sejauh itukah rencana mereka???” bisik Hinata dalam
hati
“Tousan,… maaf sepertinya Tousan salah paham,… sebenarnya aku tidak pernah menjawab lamaran Gaara. Aku tidak pernah setuju atas hubungan ini,.. aku…”
“Tousan,… maaf sepertinya Tousan salah paham,… sebenarnya aku tidak pernah menjawab lamaran Gaara. Aku tidak pernah setuju atas hubungan ini,.. aku…”
“Kau… menyukai bocah Kyuubi itu kan??”
Potong ayahnya.
Hinata tersentak, ia terkejut dan tak
mampu bicara.
“Apa yang kau harapkan darinya?? Dia
tidak punya orang tua dan bahkan tidak pernah tahu bagaimana bersikap sopan
dihadapanku. Cuma bocah ninja berandalan yang ingin jadi Hokage?? Menunggu
berapa tahun lagi pun belum tentu bisa bersikap baik padamu. Kau bodoh
Hinata….” Hiashi menuding Hinata dengan telunjuknya sebelum melanjutkan.
“Apa dia pernah berusaha mengerti
perasaanmu bertahun-tahun ini untuknya?? Apa pengorbananmu untuknya saat
melawan Pain dihargai? Dimengerti olehnya? Tidak kan?? Dia tidak memilihmu dan
mau sampai kapan kau merendahkan klan Hyuga dengan sikapmu yang menghamba pada
seorang pria seperti itu.” Hiashi memperkeras
nada biacaranya.
“Tousan,… tapi… Naruto-kun tidak,…”
Sela Hinata
“Apa?? Kau adalah penerus klan Hyuga
yang gagal, kau sampah!!! Dan yang lebih menyedihkan sampah sepertimu juga
diacuhkan oleh seorang bocah yang yang berotak sampah. Itu memalukan ”
“Tousan,…. Tolong jangan menghina
sesorang seperti itu, Naruto hanya…..”
“Kau masih membelanya Hinata??” Ujar Hiashi mulai geram. “Lihat dirimu, kau adalah bangsawan, dan begitupun dengan Gaara. Dinikahi oleh seorang pria yang benar-benar menginginkanmu akan lebih baik daripada menunggu seseorang yang tidak pernah bisa memberikan apapun padamu, termasuk hatinya. Dia bahkan tidak pernah peduli pada perasaanmu. Selama ini yang dia pedulikan adalah bagaimana agar dia menjadi Hokage, dia sama sekali tidak membutuhkanmu. Kau harus sadar itu! Jadi, mulai sekarang lupakan bocah itu dan belajarlah menerima Gaara yang benar-benar mencintaimu.” Hiashi segera berlalu dari kamar putri sulungnya itu setelah member ultimatum atas perasaannya pada Naruto.
“Kau masih membelanya Hinata??” Ujar Hiashi mulai geram. “Lihat dirimu, kau adalah bangsawan, dan begitupun dengan Gaara. Dinikahi oleh seorang pria yang benar-benar menginginkanmu akan lebih baik daripada menunggu seseorang yang tidak pernah bisa memberikan apapun padamu, termasuk hatinya. Dia bahkan tidak pernah peduli pada perasaanmu. Selama ini yang dia pedulikan adalah bagaimana agar dia menjadi Hokage, dia sama sekali tidak membutuhkanmu. Kau harus sadar itu! Jadi, mulai sekarang lupakan bocah itu dan belajarlah menerima Gaara yang benar-benar mencintaimu.” Hiashi segera berlalu dari kamar putri sulungnya itu setelah member ultimatum atas perasaannya pada Naruto.
Hinata hanya mampu menangis, iatak
sanggup melawan atau berkata apapun. Hanabi melingkarkan tangan ditubuh kakaknya
itu dan mencoba menenangkannya dengan pelukan. Tapi itu tidak cukup membantu
kakaknya terus menangis dan menangis
***
Naruto merenung sendiri dikamarnya. Ia
tidak mengerti apa yang dilihatnya, Gaara melamar Hinata dan memasangkan sebuah
cincin di jari manisnya. Naruto seperti mendapati sebuah lubang besar
diperutnya saat mengingat hal itu. Kenapa ia tidak menghalangi gaara
melakukannya pada Hinata, seperti ia hilang kendali atas dirinya. Dan ia pun
hanya mampu pergi tanpa melihat kejadian itu lebih lama lagi. Itu seperti bukan
dirinya yang harusnya marah atau berteriak. Tapi Naruto lebih memilih untuk
diam dalam mengekspresikan rasa kecewanya itu.
“SIIIIIAAALLL” Ujarnya sambil
memukulkan kepalan tangannya ke kasurnya.
Ia putuskan segera beranjak pergi dari
tempat tidur yang ia duduki itu. Ia berusaha mencari sesosok orang yang lebih
pantas menerima tinjunya itu.
Ia mencoba mencari sosok itu di setiap
sudut desa konoha. Dan saat ia menemukan sosok itu tanpa pikir panjang dia
segera melayangkan tinjunya kearah orang tersebut.
“GGAAARRRAAAAAAA!!!!!” Sembari menghantamkan tinjunya ke wajah orang
itu.
PLAK
“Keparat kau!! Apa maksudmu melamar
Hinata seperti itu? Memangnya kau suka padanya?? Haah??” Ujar Naruto saat
melayangkan tinjunya.
Gaara membalas, pasirnya berhamburan
membentuk lengan raksasa dan mencengkeram leher Naruto dan segera membantingnya
ke pohon.
BUUUKK
“Memangnya kenapa jika aku
mencintainya, buatku tak perlu lama untuk menemukan perasaan yang sesungguhnya
untuk gadis sebaik dan berharga seperti dia. Aku bukanlah lelaki pengecut yang
tidak bisa memahami perasaannya sendiri seperti kau, Naruto.”
“Diam Kau!! Kagebunshin No jutsu”
Gaaara segera mengubah pasirnya
menjadi sebuah kubah raksasa dan melindungi dirinya dari bunshin Naruto.
“Rasengan”
Gaara
menghindar, sehingga ia lolos dari seranagan Naruto. “Tsuna Shuriken.”
Pasir Gaara berubah menjadi sebuah shuriken besar yang menghantam naruto hingga jatuh ketanah.
“Apa kau benar-benar menyukai Hinata
dank au serius akan menikahinya?” Tanya Naruto berusaha duduk dengan terengah-engah.
“Ya,… Perasaanku pada Hinata berubah.
Aku ingin menjaganya dan tidak ingin melihat dia kecewa dan menangis lagi.Apa
yang bisa kau berikan padanya??? Selama ini yang kau berikan padanya hanya
tangis dan kecewa. Apa kau bisa mengerti perasaannya padamu?? Kau tidak cukup
pantas untuknya, kau tak punya apapun untuk diberikan kepadanya.”
Mata naruto terbelalak mendengar
ucapan Gaara. Dia terdiam mencari jawaban atas ucapan Gaara. Dan celakanya,
yang diucapkan Gaara itu dirasanya benar.
“Dibanding denganmu, aku selalu ada
untuknya. Melihatnya menangis adalah hal yang sangat aku benci. Aku ingin
membuatnya bahagia. Aku mampu melindunginya.
Aku seorang Kazekage dan aku bisa berbuat apapun demi membahagiakannya. Apa kau
bisa melakukan hal itu untuknya?” Tandas Gaara mencoba mendekati Naruto yang
mulai bangkit dan mencoba berdiri.
“Baik.” Naruto menatap Gaara. “Kau
adalah temanku. Ku tidak ingin kita berkelahi demi seorang wanita, dan merusak
semua hubungan baik kita sebelumnya. Aku akan percaya padamu. Kau harus
menepati janji untuk membahagiakan Hinata. Apapun resikonya kau harus
membuatnya bahagia.” Ucap Naruto.
“Aku janji.” Jawab Gara singkat dan
yakin.
Naruto menyeka darah yang mengalir
dari hidungnya dengan punggung tangannya. Ia meninggalkan Gaara ditempat itu
dan pulang dengan langkah kaki yang gontai untuk pertama kalinya tanpa ada
berita duka dari pertempuran. Sama gontainya saat dia mendengar kematian guru
pertapa genit. Malam itu malam yang berat untuknya. Ia berusaha bersembunyi
dibalik kamar kecilnya yang gelap. Di dinginnya malam musim dingin dan senyap.
****
Dua hari Naruto tidak keluar dari
kamarnya.ada dua alasan mengapa ia melakukan hal itu, yang pertama ia ingin
memulihkan dirinya sendiri setelah bertarung dengan Gaara, mencoba menghindari
pertanyaan kenapa bisa lebam dan terluka seperti itu dari semua temannya. Dan
yang kedua, adalah dia berusaha menghadapi hatinya sendiri yang terluka tak
tahu cara untuk menyembuhkannya. Sebelum mampu menyembuhkannya, Naruto harus
bisa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya. Tapi , jalan satu-satunya untuk mendapatkan
jawaban adalah menemui Hinata, begitu pikirnya. Sehingga ia putuskan ia harus
menemui Hinata untu menuntaskan jawaban dan membuat keputusan atas hubungan
mereka selanjutnya.
Berbeda dengan Hinata. Hinata merasa
tidak punya kekuatan lagi untuk bertemu dengan Naruto setelah kejadian lamaran
Gaara. Terlebih lagi, para tetua Hyuga
menyatakan setuju akan pernikahan Gaara
dan Hinata, bagi mereka klan Hyuga akan mendapatkan dukungan dari desa
Tsunagakure. Klan hyuga sangat terdesak
posisinya di konoha. Hiashi tak lagi memiliki otoritasi terhadap pemerintahan
atau bangunan milik hyuga sejak kehancuran yang terjadi pada perang dunia shinobi ke empat. Klan
hyuga juga tidak memiliki kekuatan untuk menerapkan aturan klan tanpa
persetujuan dari hokage. Dan entah apa yang terjadi di konoha, posisi klan
hyuga tak lagi disegani semenjak banyaknya klan hyuga yang meninggal pada
perang dunia shinobi ke 4. Sehingga tujuan selain pernikahan mereka adalah
pernikahan politik yang sangat menguntungkan bagi klan Hyuga juga akan mendapat
perlindungan bagi kelangsungan klan mereka dari Hokage dan Kazekage secara
langsung.
Dan menurut mereka sebagai penerus
utama klan, Hinata harus menerima keputusan tetua tersebut. Hinata yang
memikirkan akan hal itu merasa sangat tertekan, tapi mungkin lebih tertekan
lagi jika ia menghadapi Naruto dan menjawab berbagai pertanyaan Naruto yang
bisa menyudutkan alasannya. Tidak mungkin jika ia berusaha meninggalkan
tanggung jawab klan yang ada di tangannya, tapi tidak mungkin juga baginya untu
menjelaskan kepada Naruto tentang alasan pernikahan politiknya tersebut.
Hinata berjalan keluar ruangan
kelasnya setelah mengajar dengan langkah yang berat. Tapi, alangkah terkejutnya
dia saat disudut ruangan itu ternyata orang yang ingin dia hindari dari
pertanyaan atau penjelasan itu tengah berdiri disudut ruangan dan menunggunya.
“Hinata, ayo kita bicara.” Tukas Naruto
singkat sambil berjalan kesuatu tempat.
Hinata tak menjawab, ia mengangguk dan
mengikutinya karena tak ada pilihan lain lagi untuk mengindar.
Naruto mengajak hinata ke taman
konoha. Tempat dimana Naruto dan Hinata biasa bertemu.
Tanpa basa-basi lagi, Naruto tak ingin
semakin memberatkan dirinya untuk mencari jawaban, iapun mencoba untuk mencari
jawaban dari hatinya itu.
“Hinata, Apa kau menyukai Gaara?”
Tanya Naruto.
Iris mata hinata melebar, ia terkejut
namun tak mampu menjawab dan memalingkan wajahnya memandang kosong kearah yang
lain.
“Kau setuju menikah dengannya?” Timpal
Naruto lagi, ia mencoba menatap dan mencari kebenaran dari mata lavender
byakugan dihadapannya itu.
Hinata menguatkan dirinya, mencoba
menahan air matanya dan menatap Naruto. “ Ya, kami akan menikah.”
Naruto terdiam sejenak, membiarkan ia tenggelam dalam mata gadis itu beberapa detik sebelum melanjutkan.
Naruto terdiam sejenak, membiarkan ia tenggelam dalam mata gadis itu beberapa detik sebelum melanjutkan.
“Katakan Hinata,… Katakan jika kau
mencintaiku, kau mencintaiku dari sejak pertama kali kita bertemu disini,
bukan?”
Hinata terdiam. Menyembunyikan
ekspresi wajahnya dengan membalikkan tubuhnya.
“Katakan jika kau tidak pernah
mencintai orang lain selain aku,… katakan jika sebenarnya kau tidak menyukai
Gaara!!” pinta Naruto
Hinata masih terdiam menutup mata dan
tak kuat menahan airmatanya, ia mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak
terjatuh dan masih membelakangi Naruto agar Naruto tidak melihat airmata itu
mengalir dari matanya.
“Katakan Hinata, kumohon,…jujurlah
padaku tentang yang sebenarnya terjadi.”
“Kau sungguh ingin tahu, Naruto-kun??” Tanya Hinata sambil tetap membelakangi Naruto dan mulai mengusap air matanya.
“Kau sungguh ingin tahu, Naruto-kun??” Tanya Hinata sambil tetap membelakangi Naruto dan mulai mengusap air matanya.
“ Ya, aku sungguh ingin tahu. “
“Kau tahu,… Aku benci melihatmu. Jadi
aku memilih untuk mencintai Gaara mulai dari sekarang. Aku benci melihatmu
berada dibelakang Sakura-chan dan mengikutinya kemana-mana seperti anak itik lalu
meninggalkanku dengan janji yang kau batalkan dan memilih pergi kencan dengan
Sakura. Aku benci mendengarkan semua ceritamu tentang Sakura-chan. Aku benci
semua itu, dan aku lelah dengan semua itu.” Ujar Hinata dengan tertunduk.
Naruto terdiam, ia tertegun mendengar
ucapan Hinata.
“Apa kau tahu Naruto-kun, tentang
perasaanku padamu? Apa kau pernah peduli apa yang sebenarnya yang aku rasakan
kepadamu? Apa yang aku inginkan dan impikan? Tidak pernah bukan? Didunia ini
tidak ada yang lebih penting bagimu selain menjadi seorang Hokage. Apa kau
pernah peduli padaku?” Tanya Hinata yang mulai mengangkat kepalanya sejenak dan
menatap Naruto.
Naruto terdiam. Ia menyesal mendengar
hal itu adalah sebuah kebenaran yang tak pernah ia sadari dan menyakitkan
Hinata.
Hinata membalikkan tubuhnya dan
beranjak pergi namun Naruto menarik tubuh Hinata kedalam pelukkannya.
“Hinata Gomen ni,… aku telah
menyakitimu selama ini, ano…”Naruto mendekap tubuh mengil hinata itu erat-erat.
Hinata meneteskan airmatanya, lebih
deras lagi dan tak mampu berkata, seketika itu tubuhnya melunglai di dada
naruto yang bidang itu.
“Aku mohon, katakan padaku… apa kau
mencintaiku, Hinata? Jika ya aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi, aku
berjanji akan selalu disisimu dan menjagamu. Kau masih menyukaiku, kau menyukai
ku kan??” Ujar Naruto lagi.
Hinata tak mampu menjawab,mendengar
kalimat itu terlontar dari pria yang selama ini dicintainya tentu membuatnya
sangat senang, tapi dalam keadaan
seperti ini yang lebih ia dengar itu adalah sebuah kata yang sangat menyedihkan
untuknya.
“Lepaskan aku, Naruto.” Hinata mencoba
menghindar dan melepaskan pelukan naruto lalu beranjak melangkah pergi dari
Naruto.
“Hinata, Aishiteru,yo….sungguh.” Ucap
Naruto menghentikan langkah Hinata.
Hinata tidak mampu berbalik. Ia sangat
terharu mendengar kalimat itu akhirnya keluar dari Naruto. Namun ia tak mampu
kembali dan berbalik kearah Naruto. Semua sudah diputuskan dan tak mungkin ia
bisa meninggalkan tanggung jawabnya dan berlari kepelukan Naruto meskipun dia
ingin melakukannya.
Hinata kemudian melangkahkan lagi
kakinya yang sempat terhenti karena ucapan Naruto.
“Hinata,… Aku akan menunggumu
disini. Sampai besok pagi. Sampai kau
yakin kalau perasaanmu tak pernah berubah terhadapku. Sampai kau tahu bahwa perasaan cintamu padaku
masih ada. Aku akan terus menunggumu
disini sepanjang malam, kau akan datang menemuiku kan??”
Hinata terdiam dan terus melangkah
menjauh.
“Hinata, Kau dengar itu kan?? Aku akan
terus menunggumu disini! Sampai kau menyatakan perasaanmu yang sejujurnya
padaku.”
Hinata menangis sambil tertunduk, tak
mampu menjawab dan segera berlari meninggalkan Naruto. Tak lagi berbalik dan
menangis sepanjang jalan menuju rumahnya.
“Naruto-kun,… Aishiteru yoo…maafkan aku… maaf aku tidak bisa…”begitu
ucap hinata dalam hati
***
Sudah hampir jam 11 malam ketika Hinata tersadar dari tidurnya yang tak disengaja karena kelelahan menangis. I merasa kerongkongannya begitu kering sehingga ia memutuskan untuk pergi kedapur dan berusaha membasahi kerongkongannya dengan segelas air. Saat ia kembali kedapur ia mendapati adiknya tengah tertidur diruang tengah dengan TV yang menyala, Hinata berinisiatif untuk mematikan TV itu sebelum kembali kekamarnya. Ia mencari remote control , namun ketika ia akan mematikannya ada sebuah berita mengejutkan yang ia dengar dari televisi tersebut.
Sudah hampir jam 11 malam ketika Hinata tersadar dari tidurnya yang tak disengaja karena kelelahan menangis. I merasa kerongkongannya begitu kering sehingga ia memutuskan untuk pergi kedapur dan berusaha membasahi kerongkongannya dengan segelas air. Saat ia kembali kedapur ia mendapati adiknya tengah tertidur diruang tengah dengan TV yang menyala, Hinata berinisiatif untuk mematikan TV itu sebelum kembali kekamarnya. Ia mencari remote control , namun ketika ia akan mematikannya ada sebuah berita mengejutkan yang ia dengar dari televisi tersebut.
“Pemirsa, malam ini diramalkan menjadi
malam terdingin sepanjang sejarah di Konoha. Diperkirakan suhu akan turun
mencapai 10 derajat celcius dibawah nol
pada dini hari nanti. Malam ini juga diperkirakan badai salju akan melingkupi
konohagakure. Dan pastikan agar anda tidak keluar rumah tanpa mantel bulu
hangat dan sebaiknya bertahan didalam rumah sampai cuaca lebih bersahabat.
Terimakasih. Selamat malam.”
Hinata teringat sesuatu. Sesuatu yang
harus ia pastikan sebelum pagi.
“Oh, tidak,… mungkinkah Naruto
masih….” Hinata bergegas mengambil baju hangatnya dan pergi kesuatu tempat.
Hinata berlari secepat mungkin menuju
taman konoha. Ia berharap Naruto sudah pulang kerumahnya sehingga tidak ada
suatu hal buruk terjadi kepadanya. Ketika ia sampai di taman konoha itu ia
begitu terkejut dan tidak mendapati Naruto disana. Ia lega sekaligus kecewa. Ia
lega Naruto sudah pulang di cuaca terdingin hari itu, sekaligus kecewa karena
ia tidak lagi menunggu Hinata.
‘Kling-kling’
Handphone Hinata berdering.
“Hallo Hinata, ini aku Sasuke. Bisa
datang secepat mungkin ke apartemen Naruto?” Hinata segera menutup telponnya
dan berlari melawan salju yang mulai turun menuju apartemen Naruto.
Jika sasuke yang menghubunginya dan
bukan Naruto, itu berarti sesuatu yang buruk mungkin telah menimpa Naruto,
begitu pikirnya. Ketika ia sampai di kamar Naruto ia melihat Sakura sedang
berusaha menyelimuti Naruto dengan beberapa selimut tebal, Naruto nyaris
membeku dan membiru karena kedinginan di tengah hujan salju.
“Lihatlah yang berhasil kau lakukan
padanya.” Ucap sasuke dengan sinis.
“Hinata,… Syukurlah Kau datang. “
Sakura mencoba menggandeng tangan Hinata dan mendekatkannya kea rah Naruto yang
sedang terbaring dan menggigil. “ Kami baru saja menemukannya pingsan di taman,
dan dia terus…”
“Hii…naa…taa… kaa…uu… aa…kan
da..tang…” ucap Naruto sambil menggigil, dia mengigau.
Hinata menangis.
“Naruto mengalami Hipotermia, mungkin
dalam fase ini dia akan terus mengigau. Dia tak sadarkan diri dan terus
memanggil namamu.” Ucap Sakura.
Hinata menggenggam tangan Naruto dan
mencoba menggosokk-nggosoknya berusaha menghangatkan tangan yang hampir membeku
itu.
“Hinata…Jangan menyerah,… kalahkan
neji..” ucap Naruto lagi
“Naruto-kun, kumohon.. buka matamu,…
aku disini,… ini aku… apa kau bisa mendengarku??” Ucap Hinata panic.
“ Hinata, Jangan datang kesini,… pain…
bukan tandinganmu!” Naruto tetap mengigau.
Hinata semakin menangis, “ Maafkan aku
Naruto-kun.”
“Hinata,… jangan menikah,… aishiteru…” naruto masih terus mengigau.
“Hinata,… jangan menikah,… aishiteru…” naruto masih terus mengigau.
“Bodoh! Menunggu orang yang mau
menikah ditengah salju sampai membeku.” Ucap Sasuke.
“Hinata,.. aku harus segera pulang
sebelum badai salju datang, aku mohon jagalah Naruto malam ini. Kau tahu kan
cara merawat orang yang sedang mengalami hipotermia?”
Hinata mengangguk.
“ Besok pagi aku dan Sasuke-kun akan
datang kesini lagi. Maaf aku tidak bisa menemanimu menjaga Naruto malam ini.”
Sakura segera pergi bersama Sasuke
meninggalkan Hinata dan Naruto di kamar kecil itu. Hinata mencoba mngompres
dahi naruto dengan kompres air hangat dan menyalakan pemanas ruangan karena ia
harus segera menormalkan suhu tubuh Naruto yang menurun itu.
“Hinata, ayo pergi makan Ramen.”
“Hinata, aku sudah putus dengan
Sakura,..”
“Hinata, aku minta maaf,…”
“Hinata, aku minta maaf,…”
“jangan pergi..”
“Jangan menikah dengan Gaara”
“aku tidak akan membiarkan pergi
begitu saja…”
“aku mencintaimu,…”
Dan Naruto terus mengigau, sementara
Hinata semakin tak kuasa menahan tangisnya. Naruto tak kunjung sadar, hinata
mencoba membuka selimutnya dan masuk kedalamnya dan memeluk erat tubuh Naruto,
berharap membagi panas tubuhnya akan memepercepat proses kenaikan suhu tubuh
Naruto.
“Kau dengar Naruto-kun, aku disini,…
aku sedang memeluk dan memegang tanganmu, aku tidak kemana-mana.” Ucap Hinata
sambil terus menangis.
Hinata merasa itu adalah sebuah ucapan
terjujur Naruto tentang dirinya, tentang perasaannya, saat dia tidak sadarkan
diri dan tekanan apapun. Tapi Hinata sangat sedih karna disaat Naruto menyadari
perasaannya, Hinata tak mampu lagi memperjuangkan perasaan yang selama ini juga
menjalari hatinya. Pertunangan akan digelar sebentar lagi dan pernikahan akan
diadakan empat bulan setelahnya.
“Naruto-kun, aku mohon kuatlah dan
jangan mencariku. Kalau kau seperti ini bagaimana bisa aku meninggalkanmu?
Tersenyum dan teruslah maju jangan menyerah seperti saat kau selalu
menyemangatiku,… jangan seperti ini,..hiks…” Sambil melingkarkan tangannya
ketubuh Naruto, Hinata menangis.
“Aku juga mencintaimu, Naruto-kun.
Lebih dari siapapun didunia ini. Lebih dari diriku sendiri. Apa kau dengar??
Sadarlah dan lihatlah aku sekarang.” Ucap Hinata.
Namun Naruto masih terus mengigau dan
terus mengingat kejadian-kejadian bersama Hinata dimasa lalunya. Membuat Hinata
semakin sedih dan terus meneteskan airmata. Mungkin ini adalah momen tersedih
yang harus dilewati Naruto dan Hinata. Perpisahan.
Hinata terus terjaga, memeluk tubuh
Naruto dan mengganti kompres air hangatnya setiap beberapa menit. Tidak
sedikitpun ia tertidur sepanjang malam, meskipun Naruto sudah mulai membaik dan
tidak lagi mengigau tapi Hinata tidak beranjak pergi dari tugasnya menjaga Naruto. Hinata
membaringkan tubuh Naruto dan membuatnya lebih nyaman dengan menyandarkan kepala
Naruto diatas bantal. Ia memandangi
Naruto dengan lekat-lekat. Diapandangi tubuh tegap yang lemas terbaring
dan tidak berdaya yang sempat memanggil-manggil namanya itu. Naruto terlihat
sangat tampan dimata Hinata, pira paling tampan yang dicintainya sepanjang
hidupnya. Paling mengagumkan dan bersemangat, mengisnpirasi dan selalu ada
dalam pikirannya. Hinata tidak lagi mencintainya, tapi ia memujanya lebih dari
cinta yang ia rasakan. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan
dengan keputusannya sekarang.
“Naruto-kun, maaf jika aku tidak bisa
lagi datang padamu dan mengucapkan aku mencintaimu. Akupun tidak mampu datang
padamu dengan sebuah kalimat perpisahan, sehingga aku hanya bisa menyakitimu.
Mungkin ini akan jadi lebih mudah bagimu merelakan keputusanku jika aku
menunjukkan ketidak pedulianku dan kejam padamu. Kau harus kuat,… aku… aku
harus pergi…. Maafkan aku Naruto….aku mencintaimu,…sampai kapanpun.”
Hinata menyeka airmata dengan punggung
tangannya, menangis dan kemudian mengecup lembut kening Naruto. Sasuke yang
mendengarnya segera memasuki pintu kamar Naruto dan mencoba menanyakan
keputusan Hinata sesungguhnya.
“Kau,..akan tetap bertunangan dengan
Gaara sore ini?” Tanya Sasuke singkat.
“Benar, tolong jaga Naruto…
Sasuke-kun. “ Ucap Hinata memohon.
“Hn. Kenapa bukan kau sendiri yang
menjaganya? Menyakiti hati orang lain bukanlah keahlianmu Hinata.”
“Benar, aku tidak bisa menyakitinya.
Tapi mungkin inilah caraku mencintainya, dia akan baik-baik saja kan.”
“Kau sudah tau jawabannya, dia tidak
sedang baik-baik saja karenamu. Siapapun di konoha tahu bagaimana perasaanmu
kepadanya. Kau terlalu keras padanya dan dirimu sendiri. Kejam bukanlah caramu
Hinata.” Sakura menerobos masuk dan memotong pemcicaraan mereka berdua.
“Sakura-chan….” Bisik Hinata lirih.
“Kau menyukai Naruto sejak ada di
akademi, mengorbankan banyak hal dan menunggu kesempatan sampai Naruto juga
mencintaimu. Dan sekarang saat Naruto benar-benar tahu perasaan cintanya padamu
kenapa kau memilih untuk pergi meninggalkannya, Hinata?”Tanya Sakura yang mulai
gemas mengetahui keputusan Hinata.
“Karena aku tidak boleh egois,
Sakura.” Hinata terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Kau masih ingat permintaanku
saat kita mandi di pemandian air panas tempo hari? Tolong jagalah Naruto
untukku. Maaf merepotkan kalian. Aku harus segera pergi.” Hinata membungkukkan
badannya dan segera pergi meninggalkan apartemen kecil Naruto.
****
Hinata tengah memakai gaun panjang semi
kimono tanpa lengan berwarna ungu muda,
dan sarung tangan sepanjang siku berhiaskan payet-payet berlian dan hiasan
renda brokat transparan kecil didadanya. Dan sebuah Obi yang lebar dan panjang
menjuntai melebihi panjang gaunnya berwarna ungu yang lebih tua dan kemilau. Ia tampak
sangat cantik dan anggun mengenakan gaun ungu muda itu, tentunya sangat kontras
dengan wajahnya yang pucat, tak bersemangat dan pandangan matanya yang kosong.
Tampak dari luar ia sedang menyembunyikan kesedihannya dengan riasan yang
sedang dipoles diwajahnya.
“Hinata nee-chan, apa kau mau makan
dulu? Semalaman kau tidak tidur dan tidak makan apapun sejak pagi tadi. Apa kau
ingin sesuatu,biar kuambilkan.” Hanabi mulai khawatir ketika melihat wajah
Hinata yang pucat pasi.
“Tidak Hanabi,… terimakasih aku tidak
sedang ingin apapun.” Sahut Hinata lirih.
Ditempat yang berbeda dan diwaktu yang
sama….
Naruto baru saja tersadar dari
tidurnya. Ia baru sadar kalau tempatnya berbaring adalah kamarnya, bukan taman
konoha tempatnya menunggu Hinata semalam. Ia mendapati Sasuke sedang berdiri
bersandar disudut jendela dan sakura tengah duduk disampingnya sambil menyelesaikan
ninjutsu medisnya.
“Apa yang sedang terjadi Sakura?
Bukankah kemarin aku sedang berada di taman konoha.” Tanya Naruto yang mencoba
duduk di tempat tidurnya.
“Baka Dobe! Kau pingsan!” Sahut
Sasuke.
“Benar Naruto, kau pingsan dan hampir
mati membeku ditengah badai salju, lalu aku dan Sasuke membawamu pulang.”Sakura
menjelaskan.
“Tidak!!!!!! jam berapa sekarang, apa
ini sudah pagi?? Hinata,… Hinata.”
“Diamlah kau, Dobe. Lupakan soal wanita itu, dia akan bertunangan sore ini!” Sahut Sasuke.
“Diamlah kau, Dobe. Lupakan soal wanita itu, dia akan bertunangan sore ini!” Sahut Sasuke.
“Dia menjagamu semalaman.” Potong
Sakura. “dia menjagamu dan tidak meninggalkanmu, dia masih mencintaimu.
Yakinlah jika perasaannya masih sama terhadapmu. Ini sudah jam 4 sore, acara
petunangannya akan segera dimulai sejam lagi.”
“Apaaa???” Naruto segera menyingkap selimutnya
dan mencoba bangkit dari tempat tidurnya. “aku tidak boleh membiarkannya
terjadi. Hinata tidak boleh pergi bersama Gaara ke desa Tsuna. Aku harus
cepat-cepat kesana.”
Naruto mencoba berdiri tetapi ia
mendapati kakinya masih terasa kaku dan ngilu karena efek hipotermia semalam.
Tapi ia tidak mempedulikannya, ia segera mengumpulkan kekuatannya dan mencoba
berlari secepat mungkin meskipun terkadang ia harus tertaih karena kelelahan.
Hipotermia memang membarikan efek cukup signifikan pada gerakannya sehingga ia
membutuhkan tenaga dua kali lipat untuk mencapai tempat yang ditujunya.
Sesampainya disana, ia sedapat mungkin
berusaha menemukan Hinata. Namun acara pertunangan telah dimulai. Hinata
melangkah turun dari tangga menuju tempat berkumpulnya para undangan dan
kerabatnya sambil dituntun oleh Hanabi dan ayahnya, Hiashi berjalan menghampiri
Gaara yang tengah berdiri ditengah altar.
Naruto terpesona dibuatnya, ia tak pernah melihat Hinata secantik itu
sebelumnya. Tapi, entah apa yang membuat Naruto yakin bahwa Hinata tak mampu
tersenyum dan hanya diam menghadapi semua itu adalah tanda ia tidak
menginginkan berlangsungnya pertunangan ini.
“Hinaaataaa!!!!” Teriak Naruto di
depan pintu masuk gedung tempat acara pertunangan itu berlangsung.
Hinata segara mencari arah datangnya
suara. Dan mendapati Naruto sedang memanggilnya dan dihadang oleh beberapa
orang ninja penjaga dari desa Tsuna. Dengan menahan airmata, Hinata berusaha
tidak terpengaruh akan suara itu.
“Hinata, jangan!! Aku mohon. Hinata,
beri aku kesempatan.Aku mohon.” Ucap Naruto memohon dengan airmata yang mulai
mengalir.
Hinata mengalihkan pandagannya yang
awalnya tertuju pada Naruto kini memusatkannya pada seorang laki-laki tanpa
alis yang ada dihadapannya. “Tolong lanjutkan pertunangan ini, dan jangan
pedulikan apapun.” Pinta Hinata pada Gaara.
Gaara tidak menjawab, ia hanya
tersenyum memandang Hinata. Lalu dia
memasangkan sebuah kalung bermata berlian berbentuk bunga-bunga kecil berwarna
ungu yang sangat indah di leher Hinata yang jenjang.
“Aku telah memberikan sebuah cincin
saat aku meminta kesediaanmu menerimaku. Dan kalung ini kuberikan kepadamu,
Hinata Hyuga ketika kau resmi jadi tunanganku.” Ucap Gaara sembari memasangkan
kalung itu dan kemudian mengecup kening Hinata di muka umum.
Tepuk tangan para undangan riuh memecah
suasana. Gaara melingkarkan tangannya memeluk Hinata yang berdiri disampingnya.
Seketika itu Naruto menitikkan airmatanya sambil berbisik lirih dihatinya
memanggil nama Hinata, kakinya melemas dan tak memiliki kekuatan. Ia segera diusung oleh para ninja penjaga ke sebuah
ruangan kosong sehingga tidak mengganggu berlangsungnya prosesi pertunangan
tersebut. Melihat Naruto begitu terpukul melihat pertunangannya Hinata berusaha
melepas pelukan Gaara.
“Permisi, aku rasa aku harus ke
toilet.” Hinata menundukkan kepala dan menjauh.
“Silakan.” Ucap Gaara dengan
tersenyum, jelas Gaara terlihat sangat bahagia dengan pertunangannya itu.
Hinata berjalan tertatih merapat
kearah dinding. Kakinya seperti tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya, mungkin
sebentar lagi akan pingsan. Samar-samar
dalam pandangan matanya ia melihat disudut ruangan itu ada sebuah pintu yang
baru saja di dobrak. Dan seseorang berambut pirang jabrik keluar dari ruangan
itu berjalan menghampirinya. Berusaha menopang tubuhnya yang nyaris jatuh ke
tanah.
“Kau tidak apa-apa kan Hinata??” Tanya
orang itu pada Hinata.
Ya,…orang itu adalah Naruto yang baru
saja berhasil meloloskan diri dari kurungan ninja penjaga disebuah ruangan
kosong.
Hinata tak menjawab ia berusaha
menangkis perhatian Naruto itu dengan pelan. Namun Naruto masih bersikeras
menangkap tubuh Hinata yang mulai lemas itu.
“Tidak, aku mohon pergilah dariku.”
Ucap Hinata.
“Hinata,… aku mohon dengarkan aku. Kau
tidak boleh meneruskan pertunangan ini. Kau harus,…”
“Singkirkan tanganmu darinya!!!”
Seseorang mencoba menghalangi tangan Naruto yang mencoba memegangi tubuhHinata.
“Dia tunanganku sekarang, jangan berani mendekatinya. Dia sendiri telah
menentukan pilihannya jadi tolong hormati keputusannya.”
Naruto memandang wajah Hinata dengan
wajah yang memelas. Ia merasa tidak ada gunanya lagi bertarung atau bahkan
mengatakan apapun. Hinata telah menentukan pilihan. Dan sejauh apapun Naruto
berusaha, jika Hinata menolaknya maka tetap saja tidak ada jalan.
“Kita pergi sekarang?” Gaara bertanya
pada Hinata, dan Hinata mengangguk membalasnya.
Naruto memandang bayangan Hinata yang
semakin jauh dan mengecil. Ia merasa ia
adalah seorang pecundang yang kalah dan tak mampu berbuat apapun.
“Hinata,… sekarang aku tahu bagaimana
perasaanmu saat aku meninggalkanmu pergi karena gadis lain,…” ujar Naruto lirih
menyesal dan tertunduk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar