Kamis, 24 September 2015

Naru-Hina Fanfiction
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 4
Pecundang yang Kalah


Hinata terbangun dan mencoba membuka matanya. Ia mencoba mengenali langit-langit yang ada dihadapannya ketika ia bangun dan memastikan jika itu adalah langit-langit kamarnya. Ia putuskan untuk tetap berbaring.Kepalanya masih terasa sangat berat, ia mencoba memegangi dan berharap bisa sedikit mengurangi sakitnya.
Tapi saat ia mencoba mengangkat tangan yang menuju ke kepalanya itu justru membuat sakit kepalanya jadi lebih parah.  Ia mendapati sebuah cincin berlian bermata indigo itu di jari manis tangan kanannya yang mungil. 

“Tidak,…ini bukan mimpi.” Tandasnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulai menangis. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Nee-chan,…Kau sudah bangun ya??” Hanabi segera menyeruak masuk kekamar kakaknya itu, seperti biasa tanpa mengetuk.
Ia melihat kakaknya menangis. Dan ia berusaha bertanya dan memastikan apa yang baru saja membuat kakaknya itu sesenggukan.

“Nee-chan serius menerima lamaran pria tanpa alis itu?” Hanabi bertanya, “Kupikir selama ini Nee-chan hanya menyukai Naruto Senpai. Tapi kenapa tiba-tiba jadi menerima ajakan pernikahan orang lain??”

“itulah yang aku herankan,… aku tidak menjawab apapun, dia memasangkan sendiri cincinnya ditanganku dan aku nyaris pingsan.” Hinata menjelaskan sambil berlinangan air mata, ia mencoba menyeka airmatanya dengan punggung tangannya.

“Tahu apa yang terjadi setelah itu? Si cowok tanpa alis itu datang menggendongmu dan menjelaskan pada Tousan kalau kau kegirangan menerima lamarannya sampai pingsan. Dan hebatnya Tousan malah terlihat senang sekali menerima penjelasan itu.”

“Aapaa.??? Terus sekarang harus bagaimana?”Hinata jadi semakin panik dan airmatanya semakin deras berlinang.

“Hinata!” panggil seseorang dari balik pintu, yang kemudian mulai melangkah memasuki kamar Hinata.
Hiashi mendekati anak gadisnya yang berusaha duduk di kasurnya dan menghapus air matanya cepat-cepat.

“Hinata, aku senang akhirnya Gaara melamarmu. Kami juga sudah membicarakan tentang acara pertunangan resmimu dalam waktu dekat. Dan Gaara berharap bisa menikah denganmu di musim semi tahun depan.”

“Oh tidak,… sudah sejauh itukah rencana mereka???” bisik Hinata dalam hati
“Tousan,… maaf sepertinya Tousan salah paham,… sebenarnya aku tidak pernah menjawab lamaran Gaara. Aku tidak pernah setuju atas hubungan ini,.. aku…”

“Kau… menyukai bocah Kyuubi itu kan??” Potong ayahnya.
Hinata tersentak, ia terkejut dan tak mampu bicara.
“Apa yang kau harapkan darinya?? Dia tidak punya orang tua dan bahkan tidak pernah tahu bagaimana bersikap sopan dihadapanku. Cuma bocah ninja berandalan yang ingin jadi Hokage?? Menunggu berapa tahun lagi pun belum tentu bisa bersikap baik padamu. Kau bodoh Hinata….” Hiashi menuding Hinata dengan telunjuknya sebelum melanjutkan.
“Apa dia pernah berusaha mengerti perasaanmu bertahun-tahun ini untuknya?? Apa pengorbananmu untuknya saat melawan Pain dihargai? Dimengerti olehnya? Tidak kan?? Dia tidak memilihmu dan mau sampai kapan kau merendahkan klan Hyuga dengan sikapmu yang menghamba pada seorang pria seperti itu.” Hiashi memperkeras  nada biacaranya.

“Tousan,… tapi… Naruto-kun tidak,…” Sela Hinata

“Apa?? Kau adalah penerus klan Hyuga yang gagal, kau sampah!!! Dan yang lebih menyedihkan sampah sepertimu juga diacuhkan oleh seorang bocah yang yang berotak sampah. Itu memalukan ”

“Tousan,…. Tolong jangan menghina sesorang seperti  itu, Naruto hanya…..”

“Kau masih membelanya Hinata??” Ujar Hiashi mulai geram. “Lihat dirimu, kau adalah bangsawan, dan begitupun dengan Gaara. Dinikahi oleh seorang pria yang benar-benar menginginkanmu akan lebih baik daripada menunggu seseorang yang tidak pernah bisa memberikan apapun padamu, termasuk hatinya. Dia bahkan tidak pernah peduli pada perasaanmu. Selama ini yang dia pedulikan adalah bagaimana agar dia menjadi Hokage, dia sama sekali tidak membutuhkanmu. Kau harus sadar itu! Jadi, mulai sekarang lupakan bocah itu dan belajarlah menerima Gaara yang benar-benar mencintaimu.” Hiashi segera berlalu dari kamar putri sulungnya itu setelah member ultimatum atas perasaannya pada Naruto.

Hinata hanya mampu menangis, iatak sanggup melawan atau berkata apapun. Hanabi melingkarkan tangan ditubuh kakaknya itu dan mencoba menenangkannya dengan pelukan. Tapi itu tidak cukup membantu kakaknya terus menangis dan menangis

***
Naruto merenung sendiri dikamarnya. Ia tidak mengerti apa yang dilihatnya, Gaara melamar Hinata dan memasangkan sebuah cincin di jari manisnya. Naruto seperti mendapati sebuah lubang besar diperutnya saat mengingat hal itu. Kenapa ia tidak menghalangi gaara melakukannya pada Hinata, seperti ia hilang kendali atas dirinya. Dan ia pun hanya mampu pergi tanpa melihat kejadian itu lebih lama lagi. Itu seperti bukan dirinya yang harusnya marah atau berteriak. Tapi Naruto lebih memilih untuk diam dalam mengekspresikan rasa kecewanya itu.
“SIIIIIAAALLL” Ujarnya sambil memukulkan kepalan tangannya ke kasurnya.
Ia putuskan segera beranjak pergi dari tempat tidur yang ia duduki itu. Ia berusaha mencari sesosok orang yang lebih pantas menerima tinjunya itu.

Ia mencoba mencari sosok itu di setiap sudut desa konoha. Dan saat ia menemukan sosok itu tanpa pikir panjang dia segera melayangkan tinjunya kearah orang tersebut.

“GGAAARRRAAAAAAA!!!!!”  Sembari menghantamkan tinjunya ke wajah orang itu.

PLAK

“Keparat kau!! Apa maksudmu melamar Hinata seperti itu? Memangnya kau suka padanya?? Haah??” Ujar Naruto saat melayangkan tinjunya.

Gaara membalas, pasirnya berhamburan membentuk lengan raksasa dan mencengkeram leher Naruto dan segera membantingnya ke pohon.

BUUUKK
“Memangnya kenapa jika aku mencintainya, buatku tak perlu lama untuk menemukan perasaan yang sesungguhnya untuk gadis sebaik dan berharga seperti dia. Aku bukanlah lelaki pengecut yang tidak bisa memahami perasaannya sendiri seperti kau, Naruto.”

“Diam Kau!! Kagebunshin No jutsu”

Gaaara segera mengubah pasirnya menjadi sebuah kubah raksasa dan melindungi dirinya dari bunshin Naruto.

“Rasengan”

Gaara  menghindar, sehingga ia lolos dari seranagan Naruto. “Tsuna Shuriken.” Pasir Gaara berubah menjadi sebuah shuriken besar yang  menghantam naruto hingga jatuh ketanah.


“Apa kau benar-benar menyukai Hinata dank au serius akan menikahinya?” Tanya Naruto berusaha duduk dengan terengah-engah.
“Ya,… Perasaanku pada Hinata berubah. Aku ingin menjaganya dan tidak ingin melihat dia kecewa dan menangis lagi.Apa yang bisa kau berikan padanya??? Selama ini yang kau berikan padanya hanya tangis dan kecewa. Apa kau bisa mengerti perasaannya padamu?? Kau tidak cukup pantas untuknya, kau tak punya apapun untuk diberikan kepadanya.”

Mata naruto terbelalak mendengar ucapan Gaara. Dia terdiam mencari jawaban atas ucapan Gaara. Dan celakanya, yang diucapkan Gaara itu dirasanya benar.

“Dibanding denganmu, aku selalu ada untuknya. Melihatnya menangis adalah hal yang sangat aku benci. Aku ingin membuatnya bahagia.  Aku mampu melindunginya. Aku seorang Kazekage dan aku bisa berbuat apapun demi membahagiakannya. Apa kau bisa melakukan hal itu untuknya?” Tandas Gaara mencoba mendekati Naruto yang mulai bangkit dan mencoba berdiri.

“Baik.” Naruto menatap Gaara. “Kau adalah temanku. Ku tidak ingin kita berkelahi demi seorang wanita, dan merusak semua hubungan baik kita sebelumnya. Aku akan percaya padamu. Kau harus menepati janji untuk membahagiakan Hinata. Apapun resikonya kau harus membuatnya bahagia.” Ucap Naruto.

“Aku janji.” Jawab Gara singkat dan yakin.

Naruto menyeka darah yang mengalir dari hidungnya dengan punggung tangannya. Ia meninggalkan Gaara ditempat itu dan pulang dengan langkah kaki yang gontai untuk pertama kalinya tanpa ada berita duka dari pertempuran. Sama gontainya saat dia mendengar kematian guru pertapa genit. Malam itu malam yang berat untuknya. Ia berusaha bersembunyi dibalik kamar kecilnya yang gelap. Di dinginnya malam musim dingin dan senyap.

 ****

Dua hari Naruto tidak keluar dari kamarnya.ada dua alasan mengapa ia melakukan hal itu, yang pertama ia ingin memulihkan dirinya sendiri setelah bertarung dengan Gaara, mencoba menghindari pertanyaan kenapa bisa lebam dan terluka seperti itu dari semua temannya. Dan yang kedua, adalah dia berusaha menghadapi hatinya sendiri yang terluka tak tahu cara untuk menyembuhkannya. Sebelum mampu menyembuhkannya, Naruto harus bisa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya.  Tapi , jalan satu-satunya untuk mendapatkan jawaban adalah menemui Hinata, begitu pikirnya. Sehingga ia putuskan ia harus menemui Hinata untu menuntaskan jawaban dan membuat keputusan atas hubungan mereka selanjutnya.

Berbeda dengan Hinata. Hinata merasa tidak punya kekuatan lagi untuk bertemu dengan Naruto setelah kejadian lamaran Gaara.  Terlebih lagi, para tetua Hyuga menyatakan setuju akan  pernikahan Gaara dan Hinata, bagi mereka klan Hyuga akan mendapatkan dukungan dari desa Tsunagakure.  Klan hyuga sangat terdesak posisinya di konoha. Hiashi tak lagi memiliki otoritasi terhadap pemerintahan atau bangunan milik hyuga sejak kehancuran yang terjadi  pada perang dunia shinobi ke empat. Klan hyuga juga tidak memiliki kekuatan untuk menerapkan aturan klan tanpa persetujuan dari hokage. Dan entah apa yang terjadi di konoha, posisi klan hyuga tak lagi disegani semenjak banyaknya klan hyuga yang meninggal pada perang dunia shinobi ke 4. Sehingga tujuan selain pernikahan mereka adalah pernikahan politik yang sangat menguntungkan bagi klan Hyuga juga akan mendapat perlindungan bagi kelangsungan klan mereka dari Hokage dan Kazekage secara langsung.
Dan menurut mereka sebagai penerus utama klan, Hinata harus menerima keputusan tetua tersebut. Hinata yang memikirkan akan hal itu merasa sangat tertekan, tapi mungkin lebih tertekan lagi jika ia menghadapi Naruto dan menjawab berbagai pertanyaan Naruto yang bisa menyudutkan alasannya. Tidak mungkin jika ia berusaha meninggalkan tanggung jawab klan yang ada di tangannya, tapi tidak mungkin juga baginya untu menjelaskan kepada Naruto tentang alasan pernikahan politiknya tersebut.

Hinata berjalan keluar ruangan kelasnya setelah mengajar dengan langkah yang berat. Tapi, alangkah terkejutnya dia saat disudut ruangan itu ternyata orang yang ingin dia hindari dari pertanyaan atau penjelasan itu tengah berdiri disudut ruangan dan menunggunya.

“Hinata, ayo kita bicara.” Tukas Naruto singkat sambil berjalan kesuatu tempat.
Hinata tak menjawab, ia mengangguk dan mengikutinya karena tak ada pilihan lain lagi untuk mengindar.

Naruto mengajak hinata ke taman konoha. Tempat dimana Naruto dan Hinata biasa bertemu.
Tanpa basa-basi lagi, Naruto tak ingin semakin memberatkan dirinya untuk mencari jawaban, iapun mencoba untuk mencari jawaban dari hatinya itu.

“Hinata, Apa kau menyukai Gaara?” Tanya Naruto.
Iris mata hinata melebar, ia terkejut namun tak mampu menjawab dan memalingkan wajahnya memandang kosong kearah yang lain.
“Kau setuju menikah dengannya?” Timpal Naruto lagi, ia mencoba menatap dan mencari kebenaran dari mata lavender byakugan dihadapannya itu.
Hinata menguatkan dirinya, mencoba menahan air matanya dan menatap Naruto. “ Ya, kami akan menikah.”
Naruto terdiam sejenak, membiarkan ia tenggelam dalam mata gadis itu beberapa detik sebelum melanjutkan.
“Katakan Hinata,… Katakan jika kau mencintaiku, kau mencintaiku dari sejak pertama kali kita bertemu disini, bukan?”
Hinata terdiam. Menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan membalikkan tubuhnya.
“Katakan jika kau tidak pernah mencintai orang lain selain aku,… katakan jika sebenarnya kau tidak menyukai Gaara!!” pinta Naruto
Hinata masih terdiam menutup mata dan tak kuat menahan airmatanya, ia mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak terjatuh dan masih membelakangi Naruto agar Naruto tidak melihat airmata itu mengalir dari matanya.
“Katakan Hinata, kumohon,…jujurlah padaku tentang yang sebenarnya terjadi.”
“Kau sungguh ingin tahu, Naruto-kun??” Tanya Hinata sambil tetap membelakangi Naruto dan mulai mengusap air matanya.
“ Ya, aku sungguh ingin tahu. “
“Kau tahu,… Aku benci melihatmu. Jadi aku memilih untuk mencintai Gaara mulai dari sekarang. Aku benci melihatmu berada dibelakang Sakura-chan dan mengikutinya kemana-mana seperti anak itik lalu meninggalkanku dengan janji yang kau batalkan dan memilih pergi kencan dengan Sakura. Aku benci mendengarkan semua ceritamu tentang Sakura-chan. Aku benci semua itu, dan aku lelah dengan semua itu.” Ujar Hinata dengan tertunduk.

Naruto terdiam, ia tertegun mendengar ucapan Hinata.

“Apa kau tahu Naruto-kun, tentang perasaanku padamu? Apa kau pernah peduli apa yang sebenarnya yang aku rasakan kepadamu? Apa yang aku inginkan dan impikan? Tidak pernah bukan? Didunia ini tidak ada yang lebih penting bagimu selain menjadi seorang Hokage. Apa kau pernah peduli padaku?” Tanya Hinata yang mulai mengangkat kepalanya sejenak dan menatap Naruto. 

Naruto terdiam. Ia menyesal mendengar hal itu adalah sebuah kebenaran yang tak pernah ia sadari dan menyakitkan Hinata.
Hinata membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi namun Naruto menarik tubuh Hinata kedalam pelukkannya.
“Hinata Gomen ni,… aku telah menyakitimu selama ini, ano…”Naruto mendekap tubuh mengil hinata itu erat-erat.
Hinata meneteskan airmatanya, lebih deras lagi dan tak mampu berkata, seketika itu tubuhnya melunglai di dada naruto yang bidang itu.
“Aku mohon, katakan padaku… apa kau mencintaiku, Hinata? Jika ya aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi, aku berjanji akan selalu disisimu dan menjagamu. Kau masih menyukaiku, kau menyukai ku kan??” Ujar Naruto lagi.
Hinata tak mampu menjawab,mendengar kalimat itu terlontar dari pria yang selama ini dicintainya tentu membuatnya sangat senang, tapi  dalam keadaan seperti ini yang lebih ia dengar itu adalah sebuah kata yang sangat menyedihkan untuknya.
“Lepaskan aku, Naruto.” Hinata mencoba menghindar dan melepaskan pelukan naruto lalu beranjak melangkah pergi dari Naruto.
“Hinata, Aishiteru,yo….sungguh.” Ucap Naruto menghentikan langkah Hinata.
Hinata tidak mampu berbalik. Ia sangat terharu mendengar kalimat itu akhirnya keluar dari Naruto. Namun ia tak mampu kembali dan berbalik kearah Naruto. Semua sudah diputuskan dan tak mungkin ia bisa meninggalkan tanggung jawabnya dan berlari kepelukan Naruto meskipun dia ingin melakukannya.
Hinata kemudian melangkahkan lagi kakinya yang sempat terhenti karena ucapan Naruto.

“Hinata,… Aku akan menunggumu disini.  Sampai besok pagi. Sampai kau yakin kalau perasaanmu tak pernah berubah terhadapku.  Sampai kau tahu bahwa perasaan cintamu padaku masih ada.  Aku akan terus menunggumu disini sepanjang malam, kau akan datang menemuiku kan??”

Hinata terdiam dan terus melangkah menjauh.

“Hinata, Kau dengar itu kan?? Aku akan terus menunggumu disini! Sampai kau menyatakan perasaanmu yang sejujurnya padaku.”

Hinata menangis sambil tertunduk, tak mampu menjawab dan segera berlari meninggalkan Naruto. Tak lagi berbalik dan menangis sepanjang jalan menuju rumahnya.

“Naruto-kun,… Aishiteru yoo…maafkan aku… maaf aku tidak bisa…”begitu ucap hinata dalam hati

***

Sudah hampir jam 11 malam ketika Hinata tersadar dari tidurnya yang tak disengaja karena kelelahan menangis. I merasa kerongkongannya begitu kering sehingga ia memutuskan untuk pergi kedapur  dan berusaha membasahi kerongkongannya dengan segelas air. Saat ia kembali kedapur ia mendapati adiknya tengah tertidur diruang tengah dengan TV yang menyala, Hinata berinisiatif untuk mematikan TV itu sebelum kembali kekamarnya. Ia mencari remote control , namun ketika ia akan mematikannya ada sebuah berita mengejutkan yang ia dengar dari televisi tersebut.

“Pemirsa, malam ini diramalkan menjadi malam terdingin sepanjang sejarah di Konoha. Diperkirakan suhu akan turun mencapai 10 derajat  celcius dibawah nol pada dini hari nanti. Malam ini juga diperkirakan badai salju akan melingkupi konohagakure. Dan pastikan agar anda tidak keluar rumah tanpa mantel bulu hangat dan sebaiknya bertahan didalam rumah sampai cuaca lebih bersahabat. Terimakasih. Selamat malam.”

Hinata teringat sesuatu. Sesuatu yang harus ia pastikan sebelum pagi.

“Oh, tidak,… mungkinkah Naruto masih….” Hinata bergegas mengambil baju hangatnya dan pergi kesuatu tempat.

Hinata berlari secepat mungkin menuju taman konoha. Ia berharap Naruto sudah pulang kerumahnya sehingga tidak ada suatu hal buruk terjadi kepadanya. Ketika ia sampai di taman konoha itu ia begitu terkejut dan tidak mendapati Naruto disana. Ia lega sekaligus kecewa. Ia lega Naruto sudah pulang di cuaca terdingin hari itu, sekaligus kecewa karena ia tidak lagi menunggu Hinata.

‘Kling-kling’

Handphone Hinata berdering.

“Hallo Hinata, ini aku Sasuke. Bisa datang secepat mungkin ke apartemen Naruto?” Hinata segera menutup telponnya dan berlari melawan salju yang mulai turun menuju apartemen Naruto.

Jika sasuke yang menghubunginya dan bukan Naruto, itu berarti sesuatu yang buruk mungkin telah menimpa Naruto, begitu pikirnya. Ketika ia sampai di kamar Naruto ia melihat Sakura sedang berusaha menyelimuti Naruto dengan beberapa selimut tebal, Naruto nyaris membeku dan membiru karena kedinginan di tengah hujan salju.

“Lihatlah yang berhasil kau lakukan padanya.” Ucap sasuke dengan sinis.
“Hinata,… Syukurlah Kau datang. “ Sakura mencoba menggandeng tangan Hinata dan mendekatkannya kea rah Naruto yang sedang terbaring dan menggigil. “ Kami baru saja menemukannya pingsan di taman, dan dia terus…”

“Hii…naa…taa… kaa…uu… aa…kan da..tang…” ucap Naruto sambil menggigil, dia mengigau.

Hinata menangis.

“Naruto mengalami Hipotermia, mungkin dalam fase ini dia akan terus mengigau. Dia tak sadarkan diri dan terus memanggil namamu.” Ucap Sakura.
Hinata menggenggam tangan Naruto dan mencoba menggosokk-nggosoknya berusaha menghangatkan tangan yang hampir membeku itu.

“Hinata…Jangan menyerah,… kalahkan neji..” ucap Naruto lagi
“Naruto-kun, kumohon.. buka matamu,… aku disini,… ini aku… apa kau bisa mendengarku??” Ucap Hinata panic.
“ Hinata, Jangan datang kesini,… pain… bukan tandinganmu!” Naruto tetap mengigau.
Hinata semakin menangis, “ Maafkan aku Naruto-kun.”
“Hinata,… jangan menikah,… aishiteru…” naruto masih terus mengigau.
“Bodoh! Menunggu orang yang mau menikah ditengah salju sampai membeku.” Ucap Sasuke.
“Hinata,.. aku harus segera pulang sebelum badai salju datang, aku mohon jagalah Naruto malam ini. Kau tahu kan cara merawat orang yang sedang mengalami hipotermia?”
Hinata mengangguk.
“ Besok pagi aku dan Sasuke-kun akan datang kesini lagi. Maaf aku tidak bisa menemanimu menjaga Naruto malam ini.”

Sakura segera pergi bersama Sasuke meninggalkan Hinata dan Naruto di kamar kecil itu. Hinata mencoba mngompres dahi naruto dengan kompres air hangat dan menyalakan pemanas ruangan karena ia harus segera menormalkan suhu tubuh Naruto yang menurun itu.

“Hinata, ayo pergi makan Ramen.”
“Hinata, aku sudah putus dengan Sakura,..”
“Hinata, aku minta maaf,…”
“jangan pergi..”
“Jangan menikah dengan Gaara”
“aku tidak akan membiarkan pergi begitu saja…”
“aku mencintaimu,…”

Dan Naruto terus mengigau, sementara Hinata semakin tak kuasa menahan tangisnya. Naruto tak kunjung sadar, hinata mencoba membuka selimutnya dan masuk kedalamnya dan memeluk erat tubuh Naruto, berharap membagi panas tubuhnya akan memepercepat proses kenaikan suhu tubuh Naruto.
“Kau dengar Naruto-kun, aku disini,… aku sedang memeluk dan memegang tanganmu, aku tidak kemana-mana.” Ucap Hinata sambil terus menangis.

Hinata merasa itu adalah sebuah ucapan terjujur Naruto tentang dirinya, tentang perasaannya, saat dia tidak sadarkan diri dan tekanan apapun. Tapi Hinata sangat sedih karna disaat Naruto menyadari perasaannya, Hinata tak mampu lagi memperjuangkan perasaan yang selama ini juga menjalari hatinya. Pertunangan akan digelar sebentar lagi dan pernikahan akan diadakan empat bulan setelahnya.

“Naruto-kun, aku mohon kuatlah dan jangan mencariku. Kalau kau seperti ini bagaimana bisa aku meninggalkanmu? Tersenyum dan teruslah maju jangan menyerah seperti saat kau selalu menyemangatiku,… jangan seperti ini,..hiks…” Sambil melingkarkan tangannya ketubuh Naruto, Hinata menangis.

“Aku juga mencintaimu, Naruto-kun. Lebih dari siapapun didunia ini. Lebih dari diriku sendiri. Apa kau dengar?? Sadarlah dan lihatlah aku sekarang.” Ucap Hinata.
Namun Naruto masih terus mengigau dan terus mengingat kejadian-kejadian bersama Hinata dimasa lalunya. Membuat Hinata semakin sedih dan terus meneteskan airmata. Mungkin ini adalah momen tersedih yang harus dilewati Naruto dan Hinata.  Perpisahan.
Hinata terus terjaga, memeluk tubuh Naruto dan mengganti kompres air hangatnya setiap beberapa menit. Tidak sedikitpun ia tertidur sepanjang malam, meskipun Naruto sudah mulai membaik dan tidak lagi mengigau tapi Hinata tidak beranjak pergi dari tugasnya menjaga Naruto. Hinata membaringkan tubuh Naruto dan membuatnya lebih nyaman dengan menyandarkan kepala Naruto diatas bantal. Ia memandangi  Naruto dengan lekat-lekat. Diapandangi tubuh tegap yang lemas terbaring dan tidak berdaya yang sempat memanggil-manggil namanya itu. Naruto terlihat sangat tampan dimata Hinata, pira paling tampan yang dicintainya sepanjang hidupnya. Paling mengagumkan dan bersemangat, mengisnpirasi dan selalu ada dalam pikirannya. Hinata tidak lagi mencintainya, tapi ia memujanya lebih dari cinta yang ia rasakan. Tapi ia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan keputusannya sekarang.

“Naruto-kun, maaf jika aku tidak bisa lagi datang padamu dan mengucapkan aku mencintaimu. Akupun tidak mampu datang padamu dengan sebuah kalimat perpisahan, sehingga aku hanya bisa menyakitimu. Mungkin ini akan jadi lebih mudah bagimu merelakan keputusanku jika aku menunjukkan ketidak pedulianku dan kejam padamu. Kau harus kuat,… aku… aku harus pergi…. Maafkan aku Naruto….aku mencintaimu,…sampai kapanpun.”
Hinata menyeka airmata dengan punggung tangannya, menangis dan kemudian mengecup lembut kening Naruto. Sasuke yang mendengarnya segera memasuki pintu kamar Naruto dan mencoba menanyakan keputusan Hinata sesungguhnya.

“Kau,..akan tetap bertunangan dengan Gaara sore ini?” Tanya Sasuke singkat.
“Benar, tolong jaga Naruto… Sasuke-kun.  “ Ucap Hinata memohon.
“Hn. Kenapa bukan kau sendiri yang menjaganya? Menyakiti hati orang lain bukanlah keahlianmu Hinata.”
“Benar, aku tidak bisa menyakitinya. Tapi mungkin inilah caraku mencintainya, dia akan baik-baik saja kan.”
“Kau sudah tau jawabannya, dia tidak sedang baik-baik saja karenamu. Siapapun di konoha tahu bagaimana perasaanmu kepadanya. Kau terlalu keras padanya dan dirimu sendiri. Kejam bukanlah caramu Hinata.” Sakura menerobos masuk dan memotong pemcicaraan mereka berdua.
“Sakura-chan….” Bisik Hinata lirih.
“Kau menyukai Naruto sejak ada di akademi, mengorbankan banyak hal dan menunggu kesempatan sampai Naruto juga mencintaimu. Dan sekarang saat Naruto benar-benar tahu perasaan cintanya padamu kenapa kau memilih untuk pergi meninggalkannya, Hinata?”Tanya Sakura yang mulai gemas mengetahui keputusan Hinata.
“Karena aku tidak boleh egois, Sakura.” Hinata terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Kau masih ingat permintaanku saat kita mandi di pemandian air panas tempo hari? Tolong jagalah Naruto untukku. Maaf merepotkan kalian. Aku harus segera pergi.” Hinata membungkukkan badannya dan segera pergi meninggalkan apartemen kecil Naruto.

****
Hinata tengah memakai gaun panjang semi kimono  tanpa lengan berwarna ungu muda, dan sarung tangan sepanjang siku berhiaskan payet-payet berlian dan hiasan renda brokat transparan kecil didadanya. Dan sebuah Obi yang lebar dan panjang menjuntai melebihi panjang gaunnya berwarna  ungu yang lebih tua dan kemilau. Ia tampak sangat cantik dan anggun mengenakan gaun ungu muda itu, tentunya sangat kontras dengan wajahnya yang pucat, tak bersemangat dan pandangan matanya yang kosong. Tampak dari luar ia sedang menyembunyikan kesedihannya dengan riasan yang sedang dipoles diwajahnya.

“Hinata nee-chan, apa kau mau makan dulu? Semalaman kau tidak tidur dan tidak makan apapun sejak pagi tadi. Apa kau ingin sesuatu,biar kuambilkan.” Hanabi mulai khawatir ketika melihat wajah Hinata yang pucat pasi.
“Tidak Hanabi,… terimakasih aku tidak sedang ingin apapun.” Sahut Hinata lirih.


Ditempat yang berbeda dan diwaktu yang sama….
Naruto baru saja tersadar dari tidurnya. Ia baru sadar kalau tempatnya berbaring adalah kamarnya, bukan taman konoha tempatnya menunggu Hinata semalam. Ia mendapati Sasuke sedang berdiri bersandar disudut jendela dan sakura tengah duduk disampingnya sambil menyelesaikan ninjutsu medisnya.

“Apa yang sedang terjadi Sakura? Bukankah kemarin aku sedang berada di taman konoha.” Tanya Naruto yang mencoba duduk di tempat tidurnya.
“Baka Dobe! Kau pingsan!” Sahut Sasuke.
“Benar Naruto, kau pingsan dan hampir mati membeku ditengah badai salju, lalu aku dan Sasuke membawamu pulang.”Sakura menjelaskan.
“Tidak!!!!!! jam berapa sekarang, apa ini sudah pagi?? Hinata,… Hinata.”
“Diamlah kau, Dobe. Lupakan soal wanita itu, dia akan bertunangan sore ini!” Sahut Sasuke.
“Dia menjagamu semalaman.” Potong Sakura. “dia menjagamu dan tidak meninggalkanmu, dia masih mencintaimu. Yakinlah jika perasaannya masih sama terhadapmu. Ini sudah jam 4 sore, acara petunangannya akan segera dimulai sejam lagi.”
 “Apaaa???” Naruto segera menyingkap selimutnya dan mencoba bangkit dari tempat tidurnya. “aku tidak boleh membiarkannya terjadi. Hinata tidak boleh pergi bersama Gaara ke desa Tsuna. Aku harus cepat-cepat kesana.”

Naruto mencoba berdiri tetapi ia mendapati kakinya masih terasa kaku dan ngilu karena efek hipotermia semalam. Tapi ia tidak mempedulikannya, ia segera mengumpulkan kekuatannya dan mencoba berlari secepat mungkin meskipun terkadang ia harus tertaih karena kelelahan. Hipotermia memang membarikan efek cukup signifikan pada gerakannya sehingga ia membutuhkan tenaga dua kali lipat untuk mencapai tempat yang ditujunya.

Sesampainya disana, ia sedapat mungkin berusaha menemukan Hinata. Namun acara pertunangan telah dimulai. Hinata melangkah turun dari tangga menuju tempat berkumpulnya para undangan dan kerabatnya sambil dituntun oleh Hanabi dan ayahnya, Hiashi berjalan menghampiri Gaara yang tengah berdiri ditengah altar.  Naruto terpesona dibuatnya, ia tak pernah melihat Hinata secantik itu sebelumnya. Tapi, entah apa yang membuat Naruto yakin bahwa Hinata tak mampu tersenyum dan hanya diam menghadapi semua itu adalah tanda ia tidak menginginkan berlangsungnya pertunangan ini.

“Hinaaataaa!!!!” Teriak Naruto di depan pintu masuk gedung tempat acara pertunangan itu berlangsung.

Hinata segara mencari arah datangnya suara. Dan mendapati Naruto sedang memanggilnya dan dihadang oleh beberapa orang ninja penjaga dari desa Tsuna. Dengan menahan airmata, Hinata berusaha tidak terpengaruh akan suara itu.

“Hinata, jangan!! Aku mohon. Hinata, beri aku kesempatan.Aku mohon.” Ucap Naruto memohon dengan airmata yang mulai mengalir.

Hinata mengalihkan pandagannya yang awalnya tertuju pada Naruto kini memusatkannya pada seorang laki-laki tanpa alis yang ada dihadapannya. “Tolong lanjutkan pertunangan ini, dan jangan pedulikan apapun.” Pinta Hinata pada Gaara.

Gaara tidak menjawab, ia hanya tersenyum memandang Hinata.  Lalu dia memasangkan sebuah kalung bermata berlian berbentuk bunga-bunga kecil berwarna ungu yang sangat indah di leher Hinata yang jenjang.

“Aku telah memberikan sebuah cincin saat aku meminta kesediaanmu menerimaku. Dan kalung ini kuberikan kepadamu, Hinata Hyuga ketika kau resmi jadi tunanganku.” Ucap Gaara sembari memasangkan kalung itu dan kemudian mengecup kening Hinata di muka umum.

Tepuk tangan para undangan riuh memecah suasana. Gaara melingkarkan tangannya memeluk Hinata yang berdiri disampingnya. Seketika itu Naruto menitikkan airmatanya sambil berbisik lirih dihatinya memanggil nama Hinata, kakinya melemas dan tak memiliki kekuatan. Ia segera diusung oleh para ninja penjaga ke sebuah ruangan kosong sehingga tidak mengganggu berlangsungnya prosesi pertunangan tersebut. Melihat Naruto begitu terpukul melihat pertunangannya Hinata berusaha melepas pelukan Gaara.

“Permisi, aku rasa aku harus ke toilet.” Hinata menundukkan kepala dan menjauh.
“Silakan.” Ucap Gaara dengan tersenyum, jelas Gaara terlihat sangat bahagia dengan pertunangannya itu.
Hinata berjalan tertatih merapat kearah dinding. Kakinya seperti tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya, mungkin sebentar lagi akan pingsan.  Samar-samar dalam pandangan matanya ia melihat disudut ruangan itu ada sebuah pintu yang baru saja di dobrak. Dan seseorang berambut pirang jabrik keluar dari ruangan itu berjalan menghampirinya. Berusaha menopang tubuhnya yang nyaris jatuh ke tanah.

“Kau tidak apa-apa kan Hinata??” Tanya orang itu pada Hinata.

Ya,…orang itu adalah Naruto yang baru saja berhasil meloloskan diri dari kurungan ninja penjaga disebuah ruangan kosong.

Hinata tak menjawab ia berusaha menangkis perhatian Naruto itu dengan pelan. Namun Naruto masih bersikeras menangkap tubuh Hinata yang mulai lemas itu.
“Tidak, aku mohon pergilah dariku.” Ucap Hinata.
“Hinata,… aku mohon dengarkan aku. Kau tidak boleh meneruskan pertunangan ini. Kau harus,…”
“Singkirkan tanganmu darinya!!!” Seseorang mencoba menghalangi tangan Naruto yang mencoba memegangi tubuhHinata. “Dia tunanganku sekarang, jangan berani mendekatinya. Dia sendiri telah menentukan pilihannya jadi tolong hormati keputusannya.”

Naruto memandang wajah Hinata dengan wajah yang memelas. Ia merasa tidak ada gunanya lagi bertarung atau bahkan mengatakan apapun. Hinata telah menentukan pilihan. Dan sejauh apapun Naruto berusaha, jika Hinata menolaknya maka tetap saja tidak ada jalan.

“Kita pergi sekarang?” Gaara bertanya pada Hinata, dan Hinata mengangguk membalasnya.

Naruto memandang bayangan Hinata yang semakin jauh dan mengecil.  Ia merasa ia adalah seorang pecundang yang kalah dan tak mampu berbuat apapun.

“Hinata,… sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu saat aku meninggalkanmu pergi karena gadis lain,…” ujar Naruto lirih menyesal dan tertunduk.

Jumat, 11 September 2015

Naru-Hina Fanfiction
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 3
Perasaan Yang Sebenarnya



Beberapa hari berlalu.
Jika Naruto mencoba mengingat kata-kata temannya perutnya terasa begitu penuh hingga ia tak ingin makan apapun bahkan Ramen sekalipun. Jadi ia memutuskan untuk tidak mengingat-ngingat lagi.  Ia mencoba menmandangi Sakura yang berjalan disebelahnya. Terlihat cerah dan sangat bersemangat sekali hari ini gadis itu.  Bagaimana tidak. Hari ini Sasuke kembali dari misinya. Dan Sakura sangat bahagia mendengar kabar itu dari Rokudaime, Kakashi Sensei. Naruto tentu ikut bahagia ketika mendengar kabar itu juga, dan berniat minta traktir makanan enak pada sahabat yang merangkap saingan abadinya itu. Sosok yang ditunggu-tunggu itupun kian terlihat memasuki pintu gerbang Konohagakure.
Seketika Sakura melesat kearah Sasuke dan memeluknya, “ Kyaaaa….Sasuke-kun” Sakura senang sekali.
Naruto yang melihat sakura kegirangan hanya mampu meyeringai.
“Okaeri,Teme .Kau sudah pulang, ya.” Naruto menyapa Sasuke sambil mengepalkan tinjunya pelan kearah tangan Sasuke yang juga membalas hal yang sama.
Sakura mendadak merasa tidak nyaman, bagaimana jika Naruto mencoba mengatakan kalau Sakura sekarang jadi pacarnya. Sehingga, sakura merasa harus terus berada diantara keduanya untuk beberapa waktu.
“Dobe, matamu kenapa? Kurang tidur.” Tanya Sasuke.
“Oh.. ya mungkin karena semalam aku mencoba menantang Shikamaru bermain Shogi.” Tukas Naruto.
“Melawan Shikamaru, … Kau pasti kalah” Jawab Sasuke.
Lalu mereka saling tersenyum satu sama lain.
Mereka bercakap-cakap sambil berjalan menuju Kantor Rokudaime Hokage untuk melapor. Yahh, kakashi sensei akan sangat senang jika Sasuke membawa pulang berita tentang keberhasilan misi itu. Ditambah lagi ketiganya adalah tim 7 yang sangat disayangi Kakashi.

***
“Hinata,… Ayo pergi!” Ajak Gaara yang mendadak muncul dihadapan Hinata, beberapa saat setelah Hinata selesai mengajar di Akademi.
“Kemana?” Tanya Hinata
“Kita akan pergi jalan-jalan, tapi kali ini aku akan mengajakmu menaiki pasirku.”
Mulut Hinata terbuka dan masih kebingungan. Tapi Gaara sudah menarik tangannya untuk naik keatas pasir.
“Ayooo!!” Gaara bersemangat.

“Kyaaaa!!!! Aku takut Gaaraa…Ini cepat sekali bisakah kita lebih pelan??”
“Tenang saja Hinata kau tidak akan jatuh,… kalau jatuhpun aku akan menangkapmu.” Sahut Gara sambil tersenyum kearah Hinata.
Hinata terlihat canggung, tapi tak bisa berbuat apa-apa diatas pasir tebang itu.
“Kemarilah!!” Gaara meminta Hinata untuk berada didepannya dan Gaara memegangi Hinata.
“Ttttaa…tttaa…pii.” Hinata gugup dan memejamkan mata.
“Jangan takut,… sekarang cobalah buka matamu.”
Hinata akhirnya mencoba memberanikan diri untuk membuka mata. Ia melihat pemandangan desa Konoha dari udara yang begitu indah. Ini pertama kalinya ia terbang setinggi itu dengan pasir terbang.
Beberapa orang dibawanya yang melihat itu mencoba mengenali siapa yang sedang terbang diatasnya.
“indah sekali..” Hinata terkesan.
“Kau suka??” Tanya Gaara.
Hinata mengangguk.
“Kalau begitu kita tingkatkan level keberanianmu!”
“Apa??” Hinata penasaran.
Gaara mencoba memutar pasir terbangnya 360 derajat sehingga Hinata sangat terkejut dan berteriak karena itu. Dia menggenggam tangan Gaara dengan kuat karenanya.
“Kau jahat sekali, aku sampai takut.” Seru Hinata sambil tersenyum simpul.
“Mau kuulangi sekali lagi??” Gaara menggoda.
“Jangan… jangan.” Hinata mencoba meyakinkan Gaara untuk tidak mengulanginya, tapi ia mendapati Gaara menatap kedalam matanya.
Gaara mencoba menyampaikan lewat pandangan matanya sebuah perasaan dalam hatinya untuk Hinata tanpa ia sadari. Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.
Hinata tertunduk, semburat merah jambu sedikit mewarnai wajah bulatnya.
Gaara tersenyum dan kemudian kembali konsentrasi pada kendaraan terbangnya itu.

Sasuke yang telah melaporkan keberhasilan misinya itu berbincang-bincang dihalaman kantor Hokage bersama 2 anggota tim yang lain dan Kakashi sensei.  Sudah lama tim 7 tidak berkumpul jadi reuni kecil itu sangat menarik bagi satu sama lain. Tapi ternyata pembicaraan mereka mendadak teralihkan oleh pasir terbang yang melintas diatas mereka.
“ Hah… Hinata?” Sasuke mengenali seseorang yang sedang menaiki pasir terbang itu, dan orang yang lain sudah pasti pemilik senjata pasir, Gaara.
“Dasar pasangan baru.” Sahut Kakashi menggeleng.
“ Pasangan??” Ulangi  Sasuke, ia melihat kearah Naruto, “Dobe,..benarkah?”
Naruto tidak menjawab, ia memandangi pasir terbang itu yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.
“Yaa mereka terlihat sering berkencan akhir-akhir ini, aku rasa Gaara sangat tertarik pada Hinata.” Kakashi mencoba menjelaskan.
Sakura hanya tersenyum.

“……ada sesuatu yang hilang saat kau tak bisa bersama atau memilikinya. Dan kau merasa menemukan sesuatu saat kau bersamanya tanpa banyak melakukan sesuatu. Kau cemburu, merasa marah saat kau melihatnya dimiliki atau bersama dengan orang lain……”

Kalimat itu kemudian muncul lagi di kepala Naruto.

“Kakashi Sensei, Sakura, Teme,… aku pulang dulu. Maaf aku ada urusan lain. Jaa.” Naruto pamit meninggalkan mereka bertiga.

Naruto meninggalkan timnya dengan kebingungan. Tidak biasanya dia seperti itu. Naruto berjalan menuju apartemen kecilnya. Tapi ternyata kakinya tidak dikontrol oleh pikirannya. Tak tahu mengapa kaki itu malah berhenti didepan sebuah dojo besar yang megah, kediaman Hyuga. Dojo besar itu terlihat sepi, tidak terdengar siapapun bersuara dari dalam. Atau bahkan Naruto tidak merasakan chakra Hinata.
Mungkin Hinata belum sampai dirumah itu yang dibilang Naruto pada dirinya sendiri. Naruto mencoba bersandar di tiang listrik dekat pintu masuk dojo itu. Disana dia mencoba untuk menunggu kepulangan Hinata.

1 jam… 2jam….
Akhirnya Naruto melihat Hinata berjalan dari arah kejauhan. Tentu saja tidak sendiri, Gaara ada di sampingnya. Sesampainya didepan pintu Gaara berpamitan pada Hinata. Ketika Hinata berbalik dan hendak memasuki pintu itu, Naruto memanggilnya.
“Hinata,…!!!” Panggil Naruto.
Hinata menoleh kesumber suara.
“Ayo kita bicara!” ajak Naruto.
“Maaf Naruto-kun hari ini aku lelah sekali, mungkin….”
“Jangan membuat alasan lagi untuk menghindariku. “ Sela Naruto.
“Baiklah Naruto-kun ada apa?” Akhirnya Hinata menuruti pemintaan Naruto.
“Akhir-akhir ini kau kenapa Hinata? Kau bahkan tidak menjawab telpon atau membalas smsku,menolak ajakan teman-teman untuk makan dan berkumpul, di pemandian kemarinpun kau terlihat tidak menyapaku, kau marah padaku??” Tanya Naruto.
Marah?? Bolehkah aku marah??” Tanya Hinata dalam hatinya sendiri. Sebelum akhirnya Hinata bersuara, “Tidak Naruto, aku memang cukup sibuk akhir-akhir ini. Gaara memberiku beberapa pekerjaan tambahan jadi aku lebih sibuk dari biasanya.”
“Oh jadi Gaara ya,… akan ku katakan padanya kalau jangan memberimu tugas lagi. Supaya kau tidak terlalu sibuk.”
“Naruto, bukan begitu,…”
“Kenapa?? Kau melarangku bicara seperti itu, apa kau senang bisa terus bersamanya?” Nada bicara Naruto mulai sedikit meninggi.
Hinata terdiam. Naruto melanjutkan, “Kulihat Gaara tertarik padamu. Apa kau juga menyukainya, Hinata??”
Hinata tak menjawab dan membiarkan beberapa detik senyap ada diantara mereka berdua.
“Apa kau menyukai Gaara, Hinata?” Ulangi Naruto sekali lagi dan memecah keheningan.
“Naruto-kun,…”
“Yaa,…”
“Pulanglah,… Sakura mungkin akan berprasangka buruk padaku,…” Hinata mulai melangkah untuk memasuki pintu rumahnya tapi Naruto memegang tangannya dan menghalangi.
“Kenapa kau peduli pada perasaan orang lain? Yang aku tanyakan saat ini adalah tentang perasaanmu sendiri. Kenapa kau tak mau menjawabnya Hinata?” Naruto mempertegas keingintahuannya.
“Naruto-kun,…Sakura akan,…”
“Baiklah, apa ini semua karena Sakura?? Kau menghindariku karena Sakura?? Kalau begitu aku akan segera memutuskannya!” Kata Naruto sambil menatap Hinata.
Sontak Hinata terkejut mendengarnya.  Iris matanya membesar dan menatap mata blue sapphire didepannya itu.
“Itu yang kau mau agar mau menemuiku lagi??”
“Naruto, aku….”
“Aku akan memutuskan Sakura, temui aku besok di taman konoha sepulang kau mengajar dari akademi.” Tukas Naruto yang melepas tangan Hinata dan segera berlalu.

Malam begitu panjang kala itu, Hinata tak hentinya menghitung detik yang berputar di jam dinding kamarnya. Sementara Naruto begitu gelisah menunggu kedatangan Sakura. Yang pasti Sakura sedang tidak bersama Naruto, jika Sasuke sedang ada di desa sudah pasti Sakura akan mengikutinya kemana-mana.
“Sakura-chan” Naruto memanggil nama itu ketika sosoknya mednekati dirinya, “Ayo kita bicara.!”
“Ada apa malam-malam begini menunggu didepan rumahku? Aku baru saja pulang kencan dengan Sasuke.?”
“Iya aku tahu,… karena itu aku merelakanmu dengan Teme.”
Sakura cukup terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Naruto dan membiarkan Naruto melanjutkannya.
“Aku pikir, dengan pacaran denganmu aku bisa bahagia karena aku mencintaimu. Jalan-jalan, menghabiskan waktu dneganmu, pergi kencan, atau mungkin mencoba mengatakan hal romantic. Ternyata itu salah….aku tidak bisa melakukannya. Aku malah merasa tidak menemukan apapun saat bersamamu, dan semakin merasakan kehilangan,…”
“Hinata??” Potong Sakura sambil tersenyum. “Akhirnya kau sadar ya…” Sakura semakin memperlebar senyumnya.
“Eh…kok bisa tahu??” Naruto keheranan sambil menggaruk kepalanya.
“Aku menerimamu memang sengaja,supaya kau bisa menemukan perasaanmu yg sebenarnya memang untuk Hinata. Tapi kau memang terlihat sangat obsesif dan tidak bisa tahu betul perasaanmu jadi aku berpikir aku harus membetulkan cara berpikirmu dan benar kan kalau kau menyukainya. Lagipula Hinata sangat mencintaimu Naruto, dan itu tidak diragukan lagi. Menurutmu siapa lagi yang memebersihkan kamarmu saat kau pergi, yang mengirimkan beberapa ramen instant, susu dan buah-buahan di gantungan pintu kamar apartemenmu tanpa ada yang mengetahuinya kalau bukan dia. Kalau kau memergokinya waktu itu dia mungkin bisa langsung pingsan,…hahaha tapi sudahlah, yang penting kau sudah mengerti perasaannya.”
“Tapii… bagaimana ya,..??” Naruto terlihat frustasi.
“Ada apa?? Kau belum yakin juga?”
“Yang belum yakin Hinata. Bagaimana kalau dia menolakku, besok dattebayo?”
“Kau berencana mengatakannya besok?”
“Aku memang  janji menemuinya stelah memutuskanmu besok setelah dia pulang mengajar, tapi aku tidak tahu apa pasti besok kukatakan atau tidak.”
“Tentu kau harus mengatakannya! Hinata sudah menunggumu bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya kau sadar.Jadi kau juga harus mengatakan perasaanmu padanya.”
“Yooshh!!! Baiklah aku akan mengatakannya besok dattebayo!!”Naruto segera pergi dengan bersemangat. Ia tak sabar menunggu besok.

***

Naruto berjalan menuju tempat yang dituju untuk Hinata datangi,Lapangan Konoha.  Ia melihat Hinata tampak disana, sedang duduk di sebuah ayunan.  Mungkin sudah lama ia datang sebelum Naruto, tapi tidak sedikitpun terlihat gelisah. Mungkin Hinata memang sudah terbiasa untuk menunggu kedatangan Naruto.
“Hai hinata,…” Sapa Naruto.
“…Naa..ruto kun kau sudah datang.” Hinata sedikit terkejut melihat Naruto didepannya, memebuat semua hemoglobin ditubuhnya berkumpul di wajahnya.
“Aku terlambat, maaf ya,…” Ucap naruto.
Hinata menggeleng, tanda ia memaklumi tindakan Naruto.
Naruto duduk di ayaunan yang ada disebelah Hinata, menyamankan duduknya dan bermain ayunan.
“Aku,…sudah putus dengan Sakura-chan.” Sahut Naruto sambil mengayunkan ayunannya pelan.
Hinata tidak menjawab,dia hanya melemparkan sebuah pandangan kearah Naruto dengan penuh pertanyaan didalamnya.
“Seperti yang kubilang padamu tadi malam, Hinata.”
Naruto tak mampu melanjutkan lagi kalimatnya, begitupun Hinata. Untuk pertama kalinya Naruto tidak memulai atau mengatakan apapun dan memilih untuk diam tanpa suara. Tatapan mata Hinata yang begitu teduh dan sayu membuat Naruto kian tenggelam kedalamnya. Jantung Naruto berdegup dengan kencang untuk pertama kali karenanya. Tak ada kata ataupun suara yang keluar dari mulut dua orang yang saling bertatapan itu. Hanya detak jantung mereka masing-masing yang kian tak teratur dan semakin cepat.
“E….e…ee…. Hinata.” Naruto mecoba memecah keheningan sebelum degupan jantungnya itu mendahuluinya untuk memecah keheningan. “ Ayo makan ramen di ichiraku, aku lapar.” Ucapnya sambil menggaruk kepalanya dan menampakkan muka bodohnya.
Hinata memerah lalu menunduk sambil tersenyum. “Baik.”
Naruto berjalan didepan Hinata sambil meletakkan kedua tanggan dibelakang kepalanya. Sesekali ia melihat Hinata dibelakangnya, tapi itu malah membuat degup jantungnya tidak karuan lagi.
Ditengah jalan Naruto menyadari ada sesuatu aneh yang mengikutinya, gumpalan pasir terbang dan tidak salah lagi pasti Gaara.
“Hinata!!!” Teriak Gaara sembari turun dari gumpalan pasir terbangnya.
“Oh,…Ga…Raa. Selamat siang.” Sapa Hinata.
“Aku mencarimu ke akademi, ternyata kau sudah pergi.” Ucap Gaara.
“Ada apa memangnya mencari Hinata? Hinata bukan pembantumu datebayo??” Sahut naruto setengah kesal.
Gaara tidak menjawab, ia segera berlutut didepan Hinata dan mengeluarkan sekuntum mawar merah dari balik bajunya lalu memberikan sekuntum mawar merah untuk Hinata.
“Jadilah milikku Hinata, aku akan menjagamu dengan semua kemampuanku.” Ucap Gaara kepada Hinata.
“Hah….??? A…a..paa??” Hinata terbata-bata bingung dan memerah. Iya bingung harus bagaimana. Gaara mengungkapkan perasaannya didepan Naruto. Bukan hanya itu, semua orang yang tengah ada di jalan konoha menjadi tertarik dengan apa yang terjadi. Itu membuat Hinata tak tahu bersikap apa.
Naruto mengepalkan tangannya, menahan kecewa.
Gaara memberi isyarat pada pasir-pasirnya untuk membentuk sebuah tulisan dilangit. “ Marry Me”
Dan itu semakin membuat Hinata terkejut dan kebingungan.Garaa tersenyum dan kemudian mengelaurkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah cincin permata berwarna lavender yang ia persembahkan untuk gadis indigo dihadapannya.
“Terimalah aku, Hinata.” Ucap Gaara lagi.

Hinata menelan ludahnya, mengatur nafas dan mencoba mengatur jantungnya yang tidak berhenti berdegup semakin kencang dan panik. Melihat sekelilingnya yang mulai riuh menyorakkan kalimat-kalimat dukungan untuk Gaara.
“Terima,….Terima,…!!!!”
“Beruntungnya gadis itu dilamar oleh Kazekage.”
“Wah lihat itu cincin berlian, romantisnya pria itu!!”
Hinata melihat Naruto yang menunduk dan menguasai dirinya.
Hinata tak mampu menjawab, ia masih bungkam.

Gaara segera memasangkan cincin itu di jari manis Hinata. Mata Hinata membelalak melihat Gaara bangkit dan menggenggam tangannya lalu diciumnya tangan itu. Seketika sorak-sorak orang didesa konoha semakin mengema. Hinata tidak mampu berkata apapun mendadak menjadi bisu. Naruto yang melihat itu segera berlalu pergi dan berlari sambil tertunduk. Hinata hanya bisa terdiam mematung tak punya kekuatan. Ia merasa kakinya lemas dan matanya kian gelap. Perlahan ia mendapati tubuhnya kian ringan. Dan suara-suara sorakan itu menghilang dengan tubuhnya yang akan terkapar ditanah.

Kamis, 27 Agustus 2015

Naru-Hina fanfiction
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 2
Dishonesty Feeling


Tidak biasanya Hinata merasa bermalas-malasan. Matahari sudah meninggi tapi ia tak kunjung beranjak dari tempat tidurnya. Tak ada semangat. Menatap langit di saat ia bangun tidur tak lagi ia lakukan seperti biasanya.
“Nee-chan, Ada apa?? Terjadi sesuatu kah? Ayo sarapan!” Hanabi memasuki kamar Hinata tanpa mengetuknya terlebih dahulu. “atau mungkin sedang sakit ya?”
“Tidak kok,… Cuma aku merasa kurang enak badan saja.” Jawab hinata sambil menyingkap selimutnya kemudian duduk.
“Ada tamu tuh…. Tousan sedang bicara dengannya.”
“Tamu? “ ulang hinata sekali lagi.
“Ya,.. tamu rambutnya merah tapi tidak punya alis. Jangan-jangan tousan sudah memilihkan pria buatmu??” ujar Hanabi memprovokasi.
“Gaara,..ada apa ya pagi-pagi sudah bertemu dengan tousan.” Hinata jadi ikut penasaran.

Hinata bersiap. Ia membersihkan dirinya, mandi, berpakaian dan menyisir rambutnya sebelum keluar dari kamarnya. Di ruang tamu ia mendapati ayahnya sedang berbicara dengan Kazekage keempat itu. Hinata tidak menuju ketempat ayahnya, tapi iya menuju dapur dan mengambil air untuknya sendiri.
“Hinata,…!!” Panggil Hiashi.
“Ya tousan,…ada apa?”
“ Kau kedatangan tamu pagi-pagi. Kazekage-sama datang kemari ingin bertemu denganmu.”
Segera Hanabi berbisik pada Hinata sebelum Hinata melangkah kearah mereka berdua, “ Benarkan kataku, tousan menjodohkan kau sama orang itu”

“Ohayo gosaimasu, Kazekage-sama. Apa yang membuatmu datang menemuiku?” sapa Hinata pada Gaara.
“ Ohayo,… tidak jangan bersikap formal begitu. Aku kesini Cuma sekedar mampir. Juga mengembalikan ini padamu.” Ia mengeluarkan sebuah dompet berwarna putih dan notabene milik Hinata. “ Kau tidak sadar saat menjatuhkannya kemarin.”
“oh… Arigatou, Gaara. Kau sudah mau mengantarkan dompetku. Kalau tidak mungkin aku akan bingung mencarinya kemana. Aku sedang terburu-buru kemarin. Sekali lagi terimakasih. “ Hinata tampak sangat lega.
“Syukurlah. Kalau begitu aku pamit.” Ucap gara sembari melempar senyum balasan.
“Oh… kalau tidak keberatan ayo kita sarapan dulu, Kazekage-sama. Anggap saja sebagai rasa terima kasih kami karena sudah mengembalikan dompet Hinata. Kau tidak sedang buru- buru kan?” Sela Hiashi menghalangi Gaara yang hendak pamit.
“Baiklah, jika tidak merepotkan, aku akan sangat tersanjung menerima undangannya Hiashi-sama.” Jawab Gaara.
Hiashi mempersilahkan  Gaara untuk sarapan bersama di kediaman Hyuga pagi itu. Hiashi tampak begitu antusias dengan Gaara yang berada di Konoha saat itu. Gaara berencana untuk mendirikan akademi ninja untuk calon ninja di Tsunagakure. Gara juga sedang berada di Konoha untuk beberapa waktu kedepan karena sedang menyaksikan ujian chunin juga pertemuan para kage. Jadi setidaknya Gaara akan tinggal di Konoha satu bulan kedepan.

“ Oh,.. Hinata-sama maukan kau menemaniku untuk mengumpulkan beberapa hal yang diperlukan untuk membuat akademi baru seperti yang dipunyai Konoha? Kau juga mengajar di akademi itu kan?” Ucap Gaara meminta tolong pada Hinata.
“Tentu,..aku akan membantu.” Seru Hinata.
“Dan kalau kau tidak sibuk hari ini,… bersediakah kau menemaniku jalan-jalan di konoha setelah dari sana. Aku bosan harus berada di kamar terus. Hari ini agenda pertemuan dibatalkan jadi besok.”
“Baiklah,” Jawab Hinata singkat.

Setelah makan, Hinata dan Gaara segera menuju Akademi Ninja untuk mengumpulkan informasi. Hinata tidak terlalu banyak bicara, sehingga Gaara selalu berusaha untuk mencoba membuka pembicaraan. Tidak seperti yang Hinata bayangkan sebelumnya, Gaara ternyata tidak terlalu pendiam. Tapi itu tak cukup menyingkirkan sosok yang masih terbias di pikiran dan hatinya kemarin. Yang ia cintai lebih dari dirinya, dan yang menyakiti hatinya lebih dari siapapun.
“Hinata, setelah ini kira-kira kita jalan-jalan kemana ya? Kau lebih suka tempat yang ramai atau tenang?” Gaara mencoba menawarkan tempat yang akan mereka kunjungi setelah Akademi ninja konoha.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke danau dibelakang akademi? Saat siang begini rasanya akan sangat teduh jika bisa duduk bersantai dibawah pohon yang ada disana.” Jawab Hinata.
“ Ah… ide bagus.” Jawab Gaara.
Mereka saling tersenyum dan segera bergegas kesana.

Hinata menghela nafas panjang. Ia menghirup banyak-banyak udara disekitar danau yang masih sangat sejuk itu sebelum mengeluarkannya. Dikejauhan,… dibalik sebuah pohon besar. Ia mengenali seseorang yang ada dibaliknya. Berjaket olahraga warna hitam dengan kombinasi oranye, berambut kuning dan yang lain berambut pink dan mengenakan baju berwarna merah. Tidak salah lagi,.. itu adalah Naruto dan Sakura. Sepertinya Hinata telah salah memilih tempat yang jadi tujuannya untuk bersantai.
“Ada apa Hinata??” Tanya Gaara.
“Tidak, ….Tidak… Bukan apa-apa.” Jawab Hinata.
Gaara mencoba melihat kearah yang sama dengan yang dilihat Hinata.
“ Itu kan Naruto dan Sakura??? Apa mereka sedang berkencan??”
Hinata terdiam.
“Wah,… Naruto berani sekali. Dia mendekatkan kepalanya sepertinya dia akan mencium Sakura.Iya kan Hinata?” Ujar Gaara.
Hinata menangis. Hinata tak kuat menyaksikan semua itu. Tapi iapun tak dapat beranjak atau bergerak dari tempatnya berpijak. Gaara menoleh, dan melihat air mata Hinata yang mengalir jatuh ke tanah.
Gaara sepertinya paham mengapa Hinata sampai menangis sesenggukan begitu. Gaarapun segera membalikkan tubuh Hinata untuk disembunyikan dibalik dadanya. Dipeluknya gadis berambut indigo itu.
“Jangan melihat kearah sana,…Sekarang menangislah.” Pinta gaara pada Hinata.
Hinata semakin terisak. Ia menangis semakin sesenggukan. Dan Gaara mempererat pelukannya pada gadis yang tengah menangis itu.

Cukup lama Hinata bersembunyi dibalik pelukan pria berambut merah tak beralis itu. Satu jam atau mungkin hamper dua jam, sebelum Hinata mampu menguasai dirinya sendiri dan menghentikan air matanya yang menetes itu. Hinata menyeka airmatanya dengan kedua tangannya.
“Kau baik-baik saja??” Tanya Gaara.
Hinata menangguk dan mencoba tersenyum. Tapi ia tak mampu tersenyum banyak.
“ Aku tahu ini berat buatmu, tapi cobalah untuk tegar.” Ucap Gaara.
“ Ya,..akan kucoba.” Seru hinata.
“Mungkin akan lebih baik jika kau mencoba untuk menyelesaikan  perasaanmu dengan Naruto. Kau bisa mencoba untuk memeberitahunya” Gaara mencoba member saran.
“Tidak. Kurasa itu percuma. Sudah beberapa kali aku mengatakannya.”
“Lalu? Kau takkan mampu menyudahi kisahmu dengan Naruto bukan?”
“Bukan. Kisahku dan Naruto tak pernah dimulai, jadi bagaimana mungkin diakhiri?” Ujar Hinata sambil mencoba menatap kemata Gaara yang bersimpati padanya.
“Terus, apa yang akan kau lakukan Hinata?”
“Apalagi…. Aku harus tegar kan? Seperti yang kau bilang. Jadi akan kuanggap ini cuma cinta monyet anak-anak biasa. Jadi aku harus memulai kehidupanku dengan lebih baik dan dewasa.” Tandasnya dengan suara parau.
Gaara tersenyum kecil dan menggenggam tangan Hinata.  “ Ayo, kuantar kau pulang.”
Hinata mengangguk.

***
Hinata mencoba mengurangi kegiatannya akhir-akhir ini. Ia tidak ingin melakukan kegiatan yang kurang berguna dan malah akan mempertemukannya pada sosok Naruto dan Sakura. Sementara ini Hinata menghindarinya. Tapi itupun sangat sulit dilakukan olehnya. Setiap jalan di konoha, setiap tempat, dan setiap orang-orang yang ditemuinya selalu mengingatkannya pada Naruto. Hinata juga tidak menghadiri acara-acara yang sekiranya membuat ia bertemu dengan Naruto.  Setiap kali ada yang menelpon mengajak untuk pergi makan ia memilih untuk tidak mengahadirinya, ia membuat alasan dan mungkin membuat teman-temannya geram dan enggan mengajak Hinata lagi. Dia pun tidak mengangkat telepon dari Naruto.Beberapa kali Naruto mengirimkan sms menanyakan kabarnya atau mengajak keluar, tapi hinata berusaha untuk tidak membalasnya atau mengatakan kalau sedang sibuk. Ia menyibukkan diri dan mencoba untuk tidak lagi mengingat Naruto. Dua minggu berlalu, sepertinya Hinatapun sesungguhnya tak mampu menyembuhkan lukanya sendiri.

“Hinata kau sibuk?” Tanya seseorang dari balik jendela diruangan kerja Hinata di ruang Guru Akademi Ninja tersebut.

“Oh,…Gaara…Tidak… tidak sibuk.” Jawab Hinata.

“Ayo kita jalan-jalan.” Ajak Gaara.
Akhir-akhir ini memang Gaara mempunyai posisi rangkap selain sebagai Kazekage, yaitu sebagai teman baru Hinata. Mungkin lebih dari itu. Gaara memang sejak lama mengagumi gadis indigo bermata byakugan yang pendiam itu, hanya saja Gaara tidak terlalu serius dengan perasaannya. Gaara belum tahu pasti perasaannya kepada Hinata. Gaara merasa cukup nyaman untuk pergi bersama gadis itu. Selebihnya Gaara belum memperhitungkannya lagi. Anggap saja sebagai teman baru, ini adalah pertama kalinya Gaara mencoba berteman dengan seorang perempuan. Gaara sangat protektif, terlebih saat mengetahui jika Hinata sudah banyak terluka oleh Naruto yang memilih dengan Sakura. Tidak ingin Hinata melihat mereka berdua, Gara mencoba member beberapa pekerjaan tambahan untuk Hinata, misalnya mengirimkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk Gaara, atau mungkin sekedar menemani Gaara mencari angin segar di konoha. Gaara tidak banyak bicara, juga bertanya tentang apa yang terjadi atau perasaannya terhadap Naruto, itu adalah salah satu alasan Hinata tidak keberatan menghabiskan waktu bersamanya.
“Ini,…” Gara menyodorkan satu cup eskrim untuk Hinata.
“Terima kasih” tukas Hinata.
“Hinata, sepertinya aku akan terus membutuhkanmu. Aku akan mencoba berbicara pada Rokudaime-sama jika aku membutuhkanmu di desaku untuk membuka Akademi Ninja. Tapi jika kau tidak keberatan.” Ucap Gaara yang memakan eskrim sambil berjalan pelan.
“ehmm… ano… aku….” Hinata bingung menggunakan kalimat apa untuk menjawab tawaran Kazekage yang berjalan disampingnya itu. “Akan… ku pertimbangkan, akan kutanyakan pada tousan..”

“Heii Hinataaaa!!!!!!!” teriak seseorang dari arah berlawanan dengan mereka. Seseorang berambut kuning berbaju olah raga hitam dan kombinasi oranye dari arah berlawanan menyapa dan melambaikan tangan dan memanggil mereka.

Hinata jadi ragu untuk melangkah menemui orang yang memanggil namanya itu. Tapi dia tidak mungkin mundur atau berbalik.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Gaara
“Entahlah.” Jawabnya pasrah.
“Kita temui mereka dan jika kau tidak mampu kita bisa segera pamit ada urusan, betulkan?” Gaara mencoba memberi solusi.

Naruto mendekati mereka mencoba berputar-putar mengelilingi Gaara dan Hinata, sambil menyeringai dan penasaran. Sakura yang juga penasaran dengan itu langsung saja nyeletuk.
“Hinata, kalian sedang kencan ya?” Tanya Sakura mencoba mengkorek informasi.
“….ee….ee….eee t..tt….ti…tid…” Hinata kelabakan menjawab pertanyaan Sakura, seketika Gaara menyela jawaban Hinata.
“Yaa, Benar sekali Sakura. Kami memang sedang kencan. Lagipula siapa yang bisa menolak tawaran dari seorang Kazekage sepertiku.” Ucap Garaa dengan sedikit sombong.
Sontak Hinata kaget dan melongo mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Gaara.
Naruto mengangkat satu alisnya tidak bicara namun memandang sinis kearah mereka berdua.
“Ahh…. Baguslah kalau sedang berkencan…” Sakura menggoda Hinata.
“Kalian sendiri,… apa yang sedang kalian berdua lakukan disini?? Tanya Gaara.
Naruto langsung mengepal tangannya dan bersemangat. “ Apa kau tidak lihat kami juga sedang kk……”
“SHANAROOO” . Sakura meninjukan kepalan tangannya ke kepala Naruto. “Diam kau Naruto” Ujarnya.
Gaara yang melihat itu hanya tersenyum ringan, sementara Hinata terdiam.
“Ayo kita pergi ke pemandian air panas, aku bosan berputar- putar dan diikuti orang bodoh seperti dia.” Ajak Sakura.
“Eh,… tapi kalian tahu kan Kazekage sangat sibuk,… mungkin sebaiknya kami….” Hinata mencoba menjawab namun di potong oleh Gaara.
“Air panas?? Sepertinya itu hal yang menarik??Ayo kita pergi kesana Hinata!!!” Seru Gaara.
“Ayo!!!!” Sakura menarik tangan Hinata dan menariknya pergi menuju kolam air panas. “ Eh, kau tidak bilang kalau saat ini sedang kencan sama Gaara. Berarti kemarin-kemarin tidak bisa keluar itu juga karena sibuk kencan dengannya yaa???” Bisik Sakura pada Hinata.
Hinata tak menjawab, hanya tertunduk.

****

“Jadi kau sering kencan dengan Hinata ya?? Pantas saja dia jadi tak pernah mau ku jak keluar akhir-akhir ini” Naruto mencoba menginterogasi Gaara saat berendam bersama Gaara.
“Ya,…dia gadis yang menyenangkan. Hanya saja tidak terlalu banyak bicara itu saja. Hemm kau sendiri kau sudah resmi pacaran dengan Sakura-chan ya??”
“Yosh…. hebat bukan dattebayo??” Ucap naruto semangat.
Gaara meringis. “Menurutmu apa itu pacaran?” Tanya Gaara.
“Apa ya,…???” Naruto bingung tak mampu menjelaskan. “Ah pokoknya pacaran dan aku sudah berhasil mengalahkan Sasuke dan mendapatkan Sakura-chan.”
“kalau begitu menururtku itu bukan pacaran,…”timpal Gaara. “Kau Cuma tidak ingin kalah dengan Sasuke.”
“Berjalan-jalan dengan orang yang kau suka kemana-mana juga dengan orang yang kau suka apa tidak bisa disebut dengan pacaran ya???”
“ Dengar, apa kau bisa bedakan suka dan cinta? Kau pacaran dengan orang yang kau suka memang. Tapi sebenarnya kau harusnya pacaran dengan orang yang kau cintai.”
“Ahhh… tidak ada bedanya. Sama saja kan dengan aku menyukai ramen dan aku mencintai ramen, jadi aku memakannya setiap hari.” Jawab naruto.
“Cinta itu akan membuatmu merasa ada sesuatu yang hilang saat kau tak bisa bersama atau memilikinya. Dan kau merasa menemukan sesuatu saat kau bersamanya tanpa banyak melakukan sesuatu. Kau cemburu, merasa marah saat kau melihatnya dimiliki atau bersama dengan orang lain. Kau rela mengorbankan sesuatu yang sangat berharga untukmu bahkan nyawamu tanpa kau perhitungkan sebelumnya.”
“Haash… Membingungkan” Jawab Naruto. “Yang penting Sakura sudah jadi milikku. Teme sudah kalah.” Naruto terbahak-bahak. Sementara Gaara hanya nyengir dan menggelengkan kepalanya mendengar kalimat itu terlontar dari Naruto.

Di tempat pemandian Hinata tak banyak berbicara pada Sakura.
“Hinata, apa kau sakit? Kau terlihat pucat.” Jawab Sakura.
Hinata menggeleng.
Sakura tersenyum lega dan kemudian ia bersandar didinding kolam menikmati air panas menyegarkan tubuhnya.
“Sakura,… tolong jaga dia buatku.” Ucap Hinata.
Sakura terkejut, ia mulai tidak mengerti.
“Kau tahu betul perasaanku padanya, aku hanya ingin dia bahagia. Jadi aku turut bahagia jika kalian juga bisa bahagia.” Kata Hinata pada Sakura.
“Hinata,… maaf kan aku aku menerima Naruto hanya ingin mebuat dia sadar kalau aku tidak mencintainya dan aku masih menunggu Sasuke-kun”
“Apa kau berniat mencampakkan Naruto?? Menyakitinya atau bahkan tidak peduli pada perasaannya?”
“Hinata, bukan begitu,….”
“Sakura,… aku mohon. Cobalah untuk berada disisinya. Orang yang disukainya adalah kamu, bukan aku. Aku tidak bisa menggantikan posisimu dihatinya atau bahkan memaksanya menyukaiku. Jadi aku mohon cobalah. Dia sangat mencintaimu,…” ujar hinata sambil tertunduk.
“Hinata, tidakkah kau juga mengerti perasaanku. Siapa yang aku sukapun kau sudah tahu sejak dulu. Iya kan?”
“Sakura,… kumohon,…bantulah aku juga Naruto. Aku merelakanmu bersamanya agar dia bisa bahagia dan memberikan apa yang tak bisa kuberikan padanya.” Hinata mengucap sambil menangis.
Sakura tak mampu berkata apapun. Ia hanya melihat Hinata yang menangis dan berusaha menyeka airmatanya. Kemudian segera keluar dari dalam kolam untuk segera berpakaian. Sakura mengikutinya dari belakang.
***

“Saatnya pulang, aku pamit dulu.” Ucap Gaara pada Naruto dan Sakura.
“Jaa Ne Naruto, Jaa Ne Sakura.” Hinata menundukkan kepalanya memberi salam, tapi entah apa yang terjadi, tubuh Hianta lemas dan sempoyongan setelahnya dengan sigap Gaara yang ada disebelahnya menangkap tubuh itu.
“Hinata, hati-hati, kau pasti kelelahan. Aku akan mengantarmu pulang. “ ucap Gaara khawatir.
Hinata menganggguk kemudian mencoba melangkahkan kakinya tapi malah merasa kepalanya semakin berputar dan iapun memegangi kepala itu.
“ Kau bisa berjalan??” Tanya Gaara. “Aku gendong saja ya, aku takut terjadi apa-apa denganmu.” Ucap Gaara pada Hinata.
Hinata tidak menjawab, tubuhnya semakin melunglai dan lemas.
Gaarapun segera mengangkat tubuh mungil Hinata itu dengan kedua tanggannya dan segera  pergi melompat ke udara, menghilang dan pergi.

“Mereka berdua serasi ya?” celetuk Sakura yang membuyarkan pandangan Naruto yang mengikuti semburat kepergian Hinata dan Gaara.
“Oh,… benarkah? Kulihat Hinata tidak bahagia.” Jawab Naruto Sinis.
“Itu karena Hinata sedang sakit,….bodoh….ahh… semoga mereka bahagia. ”ucap sakura sembari berlalu meninggalkan Naruto.
 Naruto teringat ucapan Gaara saat berendam di kolam tadi,
“……ada sesuatu yang hilang saat kau tak bisa bersama atau memilikinya. Dan kau merasa menemukan sesuatu saat kau bersamanya tanpa banyak melakukan sesuatu. Kau cemburu, merasa marah saat kau melihatnya dimiliki atau bersama dengan orang lain……”
 ****

Naruto duduk sendiri di Ichiraku Ramen setelah mengantar Sakura pulang. Sambil memegangi gelas Ocha didepanya pikirannya jauh melayang. Sekelebat bayangan Hinata tampak dalam fikiran itu. Naruto merasa ada yang tidak nyaman dihatinya. Tapi ia tidak tahu pasti perasaan apa itu. Itu bukan seperti Naruto biasanya. Karena Naruto pasti akan menyapa orang yang dipikirannya itu ketika dia memikirkannya entah melalui sms, telepon atau mungkin mencoba menemuinya. Tapi kali ini dia tidak begitu. Ada sesuatu yang menghalangi untuk melakukannya, perasaan itu lebih mirip perasaan kecewa. Tapi dia juga ingin marah tapi tak tahu untuk apa atau mungkin itu adalah perasaan khawatir karena Hinata tadi sempoyongan saat di pemandian air panas.
“Ahhhh Sial…” Katanya sambil mengacak-ngacak rambut jabrik kuningnya.
“Hei Naruto kau ini kenapa??” seseorang menepuk bahu Naruto dan segera duduk disampingnya.
“Eh,… Kiba, Shino. Darimana kalian?” Tanya Naruto.
“ Dari rumah Hinata,… kudengar dari Sakura dia sedang sakit tadi kami mengantar  surat dari Rokudaime-sama sebentar sekaligus melihatnya dan menemaninya sebentar karena tidak ada Hanabi karena masih belum pulang.” Shino menjelaskan.
“Eh… ternyata sudah ada si Gaara. Ya sudah kami berpikir untuk memberi kesempatan mereka berdua saja.” Celetuk Kiba.
“AAAAPPAAA??? Kalian tinggalkan Hinata dan Gaara sendirian saja dirumah? Kenapa dattebayo??” Naruto terlihat marah dan sedikit frustasi.
“Mereka sudah besar, lagipula Gaara sangat perhatian pada Hinata akhir-akhir ini. Ku pikir sebaiknya kami pergi.” Ucap shino sambil menyeruput kuah Ramen yang baru dihidangkan.
Naruto mendiamkan Ramennya dan mengaduk-ngaduknya.
“Hinata sangat aneh akhir-akhir ini. Dia tidak menjawab teleponku, juga jarang membalas smsku, beberapa kali aku dan teman-teman yang lain mencoba mengajaknya keluarpun dia selalu bilang sibuk. Sebenarnya sesibuk apa sih kalau tidak ada misi?” Naruto bingung.
“Semua orang didesa ini tahu jawabannya. Tapi malah kau sendiri tidak tahu.” Shino menimpali singkat.
“Kau ini memang benar-benar bodoh Naruto. Dia seperti itu tentu saja karenamu. Apalagi dalam hidupnya kalau bukan kau.” Kiba melanjutkan, “ seumur hidup dia menyukaimu, dan kau malah jadian dengan Sakura. Kalau dia menghindar ya sudah jelaslah alasannya tidak ingin melihatmu dan tidak ingin semakin melukainya lagi.”
“Dia menyukaiku? Yang benar saja?? Hinata sendiri yang selalu menyuruhku untuk mengungkapkan perasaan pada Sakura. Memberitahuku cara-cara kencan yang disukai Sakura, dia juga orang yang selalu menyemangatiku. Dia juga,…..” Naruto menyangkal.
“Baakaa!” ucap Shino singkat. “Kami mengenal Hinata lebih dari kau mengenalnya. Mana mungkin dia berani mengucapkan perasaannya padamu kalau kau sudah memilih Sakura duluan.”
Beberapa detik mereka bertiga terdiam.
“Sudahlah, kau kan sudah punya Sakura. Jadi biarkan Gaara yang menyembuhkan lukanya jangan menyakitinya lagi. Kau tidak kasihan padanya? Jangan mengusiknya lagi.” Shino menarik kesimpulan.
“Habiskan makananmu,… kau membiarkan ramen nya dingin!” Seru Kiba.
Malam itu Naruto tak bisa tidur setelah perkataan teman-temannya hinggap dikepalanya. Terlebih perkataan Gaara itu membuatnya bingung minta ampun. Sementara Kiba dan Shino menyarankan mereka untuk tidak lagi mengusik Hinata dan cukup memikirkan Sakura saja. Sakura,… betulkah hanya Sakura saja yang ada dipikirannya?. Naruto bahkan tak mampu mencium Sakura saat didanau meskipun Sakura sudah jadi pacarnya. Tak ada yang berubah antara Naruto dan Sakura setelah mereka pacaran. Sakura tetap mengharapkan Sasuke, dan saat mereka berdua membicarakan Sasuke Naruto tak keberatan atau bahkan tidak cemburu atau malah marah. Saat Naruto menemani Sakura dan Sakura membelikan sesuatu untuk Sasuke Naruto juga tidak melarangnya. Mungkinkah perasaan Naruto ke Sakura itu bukan cinta? Lalu kalau bukan cinta kenapa Naruto berusaha merebut perhatian Sakura dari Sasuke?
Naruto mengacak-ngacak rambutnya dan semakin frustasi.

****