Kamis, 27 Agustus 2015

Naru-Hina fanfiction
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 2
Dishonesty Feeling


Tidak biasanya Hinata merasa bermalas-malasan. Matahari sudah meninggi tapi ia tak kunjung beranjak dari tempat tidurnya. Tak ada semangat. Menatap langit di saat ia bangun tidur tak lagi ia lakukan seperti biasanya.
“Nee-chan, Ada apa?? Terjadi sesuatu kah? Ayo sarapan!” Hanabi memasuki kamar Hinata tanpa mengetuknya terlebih dahulu. “atau mungkin sedang sakit ya?”
“Tidak kok,… Cuma aku merasa kurang enak badan saja.” Jawab hinata sambil menyingkap selimutnya kemudian duduk.
“Ada tamu tuh…. Tousan sedang bicara dengannya.”
“Tamu? “ ulang hinata sekali lagi.
“Ya,.. tamu rambutnya merah tapi tidak punya alis. Jangan-jangan tousan sudah memilihkan pria buatmu??” ujar Hanabi memprovokasi.
“Gaara,..ada apa ya pagi-pagi sudah bertemu dengan tousan.” Hinata jadi ikut penasaran.

Hinata bersiap. Ia membersihkan dirinya, mandi, berpakaian dan menyisir rambutnya sebelum keluar dari kamarnya. Di ruang tamu ia mendapati ayahnya sedang berbicara dengan Kazekage keempat itu. Hinata tidak menuju ketempat ayahnya, tapi iya menuju dapur dan mengambil air untuknya sendiri.
“Hinata,…!!” Panggil Hiashi.
“Ya tousan,…ada apa?”
“ Kau kedatangan tamu pagi-pagi. Kazekage-sama datang kemari ingin bertemu denganmu.”
Segera Hanabi berbisik pada Hinata sebelum Hinata melangkah kearah mereka berdua, “ Benarkan kataku, tousan menjodohkan kau sama orang itu”

“Ohayo gosaimasu, Kazekage-sama. Apa yang membuatmu datang menemuiku?” sapa Hinata pada Gaara.
“ Ohayo,… tidak jangan bersikap formal begitu. Aku kesini Cuma sekedar mampir. Juga mengembalikan ini padamu.” Ia mengeluarkan sebuah dompet berwarna putih dan notabene milik Hinata. “ Kau tidak sadar saat menjatuhkannya kemarin.”
“oh… Arigatou, Gaara. Kau sudah mau mengantarkan dompetku. Kalau tidak mungkin aku akan bingung mencarinya kemana. Aku sedang terburu-buru kemarin. Sekali lagi terimakasih. “ Hinata tampak sangat lega.
“Syukurlah. Kalau begitu aku pamit.” Ucap gara sembari melempar senyum balasan.
“Oh… kalau tidak keberatan ayo kita sarapan dulu, Kazekage-sama. Anggap saja sebagai rasa terima kasih kami karena sudah mengembalikan dompet Hinata. Kau tidak sedang buru- buru kan?” Sela Hiashi menghalangi Gaara yang hendak pamit.
“Baiklah, jika tidak merepotkan, aku akan sangat tersanjung menerima undangannya Hiashi-sama.” Jawab Gaara.
Hiashi mempersilahkan  Gaara untuk sarapan bersama di kediaman Hyuga pagi itu. Hiashi tampak begitu antusias dengan Gaara yang berada di Konoha saat itu. Gaara berencana untuk mendirikan akademi ninja untuk calon ninja di Tsunagakure. Gara juga sedang berada di Konoha untuk beberapa waktu kedepan karena sedang menyaksikan ujian chunin juga pertemuan para kage. Jadi setidaknya Gaara akan tinggal di Konoha satu bulan kedepan.

“ Oh,.. Hinata-sama maukan kau menemaniku untuk mengumpulkan beberapa hal yang diperlukan untuk membuat akademi baru seperti yang dipunyai Konoha? Kau juga mengajar di akademi itu kan?” Ucap Gaara meminta tolong pada Hinata.
“Tentu,..aku akan membantu.” Seru Hinata.
“Dan kalau kau tidak sibuk hari ini,… bersediakah kau menemaniku jalan-jalan di konoha setelah dari sana. Aku bosan harus berada di kamar terus. Hari ini agenda pertemuan dibatalkan jadi besok.”
“Baiklah,” Jawab Hinata singkat.

Setelah makan, Hinata dan Gaara segera menuju Akademi Ninja untuk mengumpulkan informasi. Hinata tidak terlalu banyak bicara, sehingga Gaara selalu berusaha untuk mencoba membuka pembicaraan. Tidak seperti yang Hinata bayangkan sebelumnya, Gaara ternyata tidak terlalu pendiam. Tapi itu tak cukup menyingkirkan sosok yang masih terbias di pikiran dan hatinya kemarin. Yang ia cintai lebih dari dirinya, dan yang menyakiti hatinya lebih dari siapapun.
“Hinata, setelah ini kira-kira kita jalan-jalan kemana ya? Kau lebih suka tempat yang ramai atau tenang?” Gaara mencoba menawarkan tempat yang akan mereka kunjungi setelah Akademi ninja konoha.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke danau dibelakang akademi? Saat siang begini rasanya akan sangat teduh jika bisa duduk bersantai dibawah pohon yang ada disana.” Jawab Hinata.
“ Ah… ide bagus.” Jawab Gaara.
Mereka saling tersenyum dan segera bergegas kesana.

Hinata menghela nafas panjang. Ia menghirup banyak-banyak udara disekitar danau yang masih sangat sejuk itu sebelum mengeluarkannya. Dikejauhan,… dibalik sebuah pohon besar. Ia mengenali seseorang yang ada dibaliknya. Berjaket olahraga warna hitam dengan kombinasi oranye, berambut kuning dan yang lain berambut pink dan mengenakan baju berwarna merah. Tidak salah lagi,.. itu adalah Naruto dan Sakura. Sepertinya Hinata telah salah memilih tempat yang jadi tujuannya untuk bersantai.
“Ada apa Hinata??” Tanya Gaara.
“Tidak, ….Tidak… Bukan apa-apa.” Jawab Hinata.
Gaara mencoba melihat kearah yang sama dengan yang dilihat Hinata.
“ Itu kan Naruto dan Sakura??? Apa mereka sedang berkencan??”
Hinata terdiam.
“Wah,… Naruto berani sekali. Dia mendekatkan kepalanya sepertinya dia akan mencium Sakura.Iya kan Hinata?” Ujar Gaara.
Hinata menangis. Hinata tak kuat menyaksikan semua itu. Tapi iapun tak dapat beranjak atau bergerak dari tempatnya berpijak. Gaara menoleh, dan melihat air mata Hinata yang mengalir jatuh ke tanah.
Gaara sepertinya paham mengapa Hinata sampai menangis sesenggukan begitu. Gaarapun segera membalikkan tubuh Hinata untuk disembunyikan dibalik dadanya. Dipeluknya gadis berambut indigo itu.
“Jangan melihat kearah sana,…Sekarang menangislah.” Pinta gaara pada Hinata.
Hinata semakin terisak. Ia menangis semakin sesenggukan. Dan Gaara mempererat pelukannya pada gadis yang tengah menangis itu.

Cukup lama Hinata bersembunyi dibalik pelukan pria berambut merah tak beralis itu. Satu jam atau mungkin hamper dua jam, sebelum Hinata mampu menguasai dirinya sendiri dan menghentikan air matanya yang menetes itu. Hinata menyeka airmatanya dengan kedua tangannya.
“Kau baik-baik saja??” Tanya Gaara.
Hinata menangguk dan mencoba tersenyum. Tapi ia tak mampu tersenyum banyak.
“ Aku tahu ini berat buatmu, tapi cobalah untuk tegar.” Ucap Gaara.
“ Ya,..akan kucoba.” Seru hinata.
“Mungkin akan lebih baik jika kau mencoba untuk menyelesaikan  perasaanmu dengan Naruto. Kau bisa mencoba untuk memeberitahunya” Gaara mencoba member saran.
“Tidak. Kurasa itu percuma. Sudah beberapa kali aku mengatakannya.”
“Lalu? Kau takkan mampu menyudahi kisahmu dengan Naruto bukan?”
“Bukan. Kisahku dan Naruto tak pernah dimulai, jadi bagaimana mungkin diakhiri?” Ujar Hinata sambil mencoba menatap kemata Gaara yang bersimpati padanya.
“Terus, apa yang akan kau lakukan Hinata?”
“Apalagi…. Aku harus tegar kan? Seperti yang kau bilang. Jadi akan kuanggap ini cuma cinta monyet anak-anak biasa. Jadi aku harus memulai kehidupanku dengan lebih baik dan dewasa.” Tandasnya dengan suara parau.
Gaara tersenyum kecil dan menggenggam tangan Hinata.  “ Ayo, kuantar kau pulang.”
Hinata mengangguk.

***
Hinata mencoba mengurangi kegiatannya akhir-akhir ini. Ia tidak ingin melakukan kegiatan yang kurang berguna dan malah akan mempertemukannya pada sosok Naruto dan Sakura. Sementara ini Hinata menghindarinya. Tapi itupun sangat sulit dilakukan olehnya. Setiap jalan di konoha, setiap tempat, dan setiap orang-orang yang ditemuinya selalu mengingatkannya pada Naruto. Hinata juga tidak menghadiri acara-acara yang sekiranya membuat ia bertemu dengan Naruto.  Setiap kali ada yang menelpon mengajak untuk pergi makan ia memilih untuk tidak mengahadirinya, ia membuat alasan dan mungkin membuat teman-temannya geram dan enggan mengajak Hinata lagi. Dia pun tidak mengangkat telepon dari Naruto.Beberapa kali Naruto mengirimkan sms menanyakan kabarnya atau mengajak keluar, tapi hinata berusaha untuk tidak membalasnya atau mengatakan kalau sedang sibuk. Ia menyibukkan diri dan mencoba untuk tidak lagi mengingat Naruto. Dua minggu berlalu, sepertinya Hinatapun sesungguhnya tak mampu menyembuhkan lukanya sendiri.

“Hinata kau sibuk?” Tanya seseorang dari balik jendela diruangan kerja Hinata di ruang Guru Akademi Ninja tersebut.

“Oh,…Gaara…Tidak… tidak sibuk.” Jawab Hinata.

“Ayo kita jalan-jalan.” Ajak Gaara.
Akhir-akhir ini memang Gaara mempunyai posisi rangkap selain sebagai Kazekage, yaitu sebagai teman baru Hinata. Mungkin lebih dari itu. Gaara memang sejak lama mengagumi gadis indigo bermata byakugan yang pendiam itu, hanya saja Gaara tidak terlalu serius dengan perasaannya. Gaara belum tahu pasti perasaannya kepada Hinata. Gaara merasa cukup nyaman untuk pergi bersama gadis itu. Selebihnya Gaara belum memperhitungkannya lagi. Anggap saja sebagai teman baru, ini adalah pertama kalinya Gaara mencoba berteman dengan seorang perempuan. Gaara sangat protektif, terlebih saat mengetahui jika Hinata sudah banyak terluka oleh Naruto yang memilih dengan Sakura. Tidak ingin Hinata melihat mereka berdua, Gara mencoba member beberapa pekerjaan tambahan untuk Hinata, misalnya mengirimkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk Gaara, atau mungkin sekedar menemani Gaara mencari angin segar di konoha. Gaara tidak banyak bicara, juga bertanya tentang apa yang terjadi atau perasaannya terhadap Naruto, itu adalah salah satu alasan Hinata tidak keberatan menghabiskan waktu bersamanya.
“Ini,…” Gara menyodorkan satu cup eskrim untuk Hinata.
“Terima kasih” tukas Hinata.
“Hinata, sepertinya aku akan terus membutuhkanmu. Aku akan mencoba berbicara pada Rokudaime-sama jika aku membutuhkanmu di desaku untuk membuka Akademi Ninja. Tapi jika kau tidak keberatan.” Ucap Gaara yang memakan eskrim sambil berjalan pelan.
“ehmm… ano… aku….” Hinata bingung menggunakan kalimat apa untuk menjawab tawaran Kazekage yang berjalan disampingnya itu. “Akan… ku pertimbangkan, akan kutanyakan pada tousan..”

“Heii Hinataaaa!!!!!!!” teriak seseorang dari arah berlawanan dengan mereka. Seseorang berambut kuning berbaju olah raga hitam dan kombinasi oranye dari arah berlawanan menyapa dan melambaikan tangan dan memanggil mereka.

Hinata jadi ragu untuk melangkah menemui orang yang memanggil namanya itu. Tapi dia tidak mungkin mundur atau berbalik.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Gaara
“Entahlah.” Jawabnya pasrah.
“Kita temui mereka dan jika kau tidak mampu kita bisa segera pamit ada urusan, betulkan?” Gaara mencoba memberi solusi.

Naruto mendekati mereka mencoba berputar-putar mengelilingi Gaara dan Hinata, sambil menyeringai dan penasaran. Sakura yang juga penasaran dengan itu langsung saja nyeletuk.
“Hinata, kalian sedang kencan ya?” Tanya Sakura mencoba mengkorek informasi.
“….ee….ee….eee t..tt….ti…tid…” Hinata kelabakan menjawab pertanyaan Sakura, seketika Gaara menyela jawaban Hinata.
“Yaa, Benar sekali Sakura. Kami memang sedang kencan. Lagipula siapa yang bisa menolak tawaran dari seorang Kazekage sepertiku.” Ucap Garaa dengan sedikit sombong.
Sontak Hinata kaget dan melongo mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Gaara.
Naruto mengangkat satu alisnya tidak bicara namun memandang sinis kearah mereka berdua.
“Ahh…. Baguslah kalau sedang berkencan…” Sakura menggoda Hinata.
“Kalian sendiri,… apa yang sedang kalian berdua lakukan disini?? Tanya Gaara.
Naruto langsung mengepal tangannya dan bersemangat. “ Apa kau tidak lihat kami juga sedang kk……”
“SHANAROOO” . Sakura meninjukan kepalan tangannya ke kepala Naruto. “Diam kau Naruto” Ujarnya.
Gaara yang melihat itu hanya tersenyum ringan, sementara Hinata terdiam.
“Ayo kita pergi ke pemandian air panas, aku bosan berputar- putar dan diikuti orang bodoh seperti dia.” Ajak Sakura.
“Eh,… tapi kalian tahu kan Kazekage sangat sibuk,… mungkin sebaiknya kami….” Hinata mencoba menjawab namun di potong oleh Gaara.
“Air panas?? Sepertinya itu hal yang menarik??Ayo kita pergi kesana Hinata!!!” Seru Gaara.
“Ayo!!!!” Sakura menarik tangan Hinata dan menariknya pergi menuju kolam air panas. “ Eh, kau tidak bilang kalau saat ini sedang kencan sama Gaara. Berarti kemarin-kemarin tidak bisa keluar itu juga karena sibuk kencan dengannya yaa???” Bisik Sakura pada Hinata.
Hinata tak menjawab, hanya tertunduk.

****

“Jadi kau sering kencan dengan Hinata ya?? Pantas saja dia jadi tak pernah mau ku jak keluar akhir-akhir ini” Naruto mencoba menginterogasi Gaara saat berendam bersama Gaara.
“Ya,…dia gadis yang menyenangkan. Hanya saja tidak terlalu banyak bicara itu saja. Hemm kau sendiri kau sudah resmi pacaran dengan Sakura-chan ya??”
“Yosh…. hebat bukan dattebayo??” Ucap naruto semangat.
Gaara meringis. “Menurutmu apa itu pacaran?” Tanya Gaara.
“Apa ya,…???” Naruto bingung tak mampu menjelaskan. “Ah pokoknya pacaran dan aku sudah berhasil mengalahkan Sasuke dan mendapatkan Sakura-chan.”
“kalau begitu menururtku itu bukan pacaran,…”timpal Gaara. “Kau Cuma tidak ingin kalah dengan Sasuke.”
“Berjalan-jalan dengan orang yang kau suka kemana-mana juga dengan orang yang kau suka apa tidak bisa disebut dengan pacaran ya???”
“ Dengar, apa kau bisa bedakan suka dan cinta? Kau pacaran dengan orang yang kau suka memang. Tapi sebenarnya kau harusnya pacaran dengan orang yang kau cintai.”
“Ahhh… tidak ada bedanya. Sama saja kan dengan aku menyukai ramen dan aku mencintai ramen, jadi aku memakannya setiap hari.” Jawab naruto.
“Cinta itu akan membuatmu merasa ada sesuatu yang hilang saat kau tak bisa bersama atau memilikinya. Dan kau merasa menemukan sesuatu saat kau bersamanya tanpa banyak melakukan sesuatu. Kau cemburu, merasa marah saat kau melihatnya dimiliki atau bersama dengan orang lain. Kau rela mengorbankan sesuatu yang sangat berharga untukmu bahkan nyawamu tanpa kau perhitungkan sebelumnya.”
“Haash… Membingungkan” Jawab Naruto. “Yang penting Sakura sudah jadi milikku. Teme sudah kalah.” Naruto terbahak-bahak. Sementara Gaara hanya nyengir dan menggelengkan kepalanya mendengar kalimat itu terlontar dari Naruto.

Di tempat pemandian Hinata tak banyak berbicara pada Sakura.
“Hinata, apa kau sakit? Kau terlihat pucat.” Jawab Sakura.
Hinata menggeleng.
Sakura tersenyum lega dan kemudian ia bersandar didinding kolam menikmati air panas menyegarkan tubuhnya.
“Sakura,… tolong jaga dia buatku.” Ucap Hinata.
Sakura terkejut, ia mulai tidak mengerti.
“Kau tahu betul perasaanku padanya, aku hanya ingin dia bahagia. Jadi aku turut bahagia jika kalian juga bisa bahagia.” Kata Hinata pada Sakura.
“Hinata,… maaf kan aku aku menerima Naruto hanya ingin mebuat dia sadar kalau aku tidak mencintainya dan aku masih menunggu Sasuke-kun”
“Apa kau berniat mencampakkan Naruto?? Menyakitinya atau bahkan tidak peduli pada perasaannya?”
“Hinata, bukan begitu,….”
“Sakura,… aku mohon. Cobalah untuk berada disisinya. Orang yang disukainya adalah kamu, bukan aku. Aku tidak bisa menggantikan posisimu dihatinya atau bahkan memaksanya menyukaiku. Jadi aku mohon cobalah. Dia sangat mencintaimu,…” ujar hinata sambil tertunduk.
“Hinata, tidakkah kau juga mengerti perasaanku. Siapa yang aku sukapun kau sudah tahu sejak dulu. Iya kan?”
“Sakura,… kumohon,…bantulah aku juga Naruto. Aku merelakanmu bersamanya agar dia bisa bahagia dan memberikan apa yang tak bisa kuberikan padanya.” Hinata mengucap sambil menangis.
Sakura tak mampu berkata apapun. Ia hanya melihat Hinata yang menangis dan berusaha menyeka airmatanya. Kemudian segera keluar dari dalam kolam untuk segera berpakaian. Sakura mengikutinya dari belakang.
***

“Saatnya pulang, aku pamit dulu.” Ucap Gaara pada Naruto dan Sakura.
“Jaa Ne Naruto, Jaa Ne Sakura.” Hinata menundukkan kepalanya memberi salam, tapi entah apa yang terjadi, tubuh Hianta lemas dan sempoyongan setelahnya dengan sigap Gaara yang ada disebelahnya menangkap tubuh itu.
“Hinata, hati-hati, kau pasti kelelahan. Aku akan mengantarmu pulang. “ ucap Gaara khawatir.
Hinata menganggguk kemudian mencoba melangkahkan kakinya tapi malah merasa kepalanya semakin berputar dan iapun memegangi kepala itu.
“ Kau bisa berjalan??” Tanya Gaara. “Aku gendong saja ya, aku takut terjadi apa-apa denganmu.” Ucap Gaara pada Hinata.
Hinata tidak menjawab, tubuhnya semakin melunglai dan lemas.
Gaarapun segera mengangkat tubuh mungil Hinata itu dengan kedua tanggannya dan segera  pergi melompat ke udara, menghilang dan pergi.

“Mereka berdua serasi ya?” celetuk Sakura yang membuyarkan pandangan Naruto yang mengikuti semburat kepergian Hinata dan Gaara.
“Oh,… benarkah? Kulihat Hinata tidak bahagia.” Jawab Naruto Sinis.
“Itu karena Hinata sedang sakit,….bodoh….ahh… semoga mereka bahagia. ”ucap sakura sembari berlalu meninggalkan Naruto.
 Naruto teringat ucapan Gaara saat berendam di kolam tadi,
“……ada sesuatu yang hilang saat kau tak bisa bersama atau memilikinya. Dan kau merasa menemukan sesuatu saat kau bersamanya tanpa banyak melakukan sesuatu. Kau cemburu, merasa marah saat kau melihatnya dimiliki atau bersama dengan orang lain……”
 ****

Naruto duduk sendiri di Ichiraku Ramen setelah mengantar Sakura pulang. Sambil memegangi gelas Ocha didepanya pikirannya jauh melayang. Sekelebat bayangan Hinata tampak dalam fikiran itu. Naruto merasa ada yang tidak nyaman dihatinya. Tapi ia tidak tahu pasti perasaan apa itu. Itu bukan seperti Naruto biasanya. Karena Naruto pasti akan menyapa orang yang dipikirannya itu ketika dia memikirkannya entah melalui sms, telepon atau mungkin mencoba menemuinya. Tapi kali ini dia tidak begitu. Ada sesuatu yang menghalangi untuk melakukannya, perasaan itu lebih mirip perasaan kecewa. Tapi dia juga ingin marah tapi tak tahu untuk apa atau mungkin itu adalah perasaan khawatir karena Hinata tadi sempoyongan saat di pemandian air panas.
“Ahhhh Sial…” Katanya sambil mengacak-ngacak rambut jabrik kuningnya.
“Hei Naruto kau ini kenapa??” seseorang menepuk bahu Naruto dan segera duduk disampingnya.
“Eh,… Kiba, Shino. Darimana kalian?” Tanya Naruto.
“ Dari rumah Hinata,… kudengar dari Sakura dia sedang sakit tadi kami mengantar  surat dari Rokudaime-sama sebentar sekaligus melihatnya dan menemaninya sebentar karena tidak ada Hanabi karena masih belum pulang.” Shino menjelaskan.
“Eh… ternyata sudah ada si Gaara. Ya sudah kami berpikir untuk memberi kesempatan mereka berdua saja.” Celetuk Kiba.
“AAAAPPAAA??? Kalian tinggalkan Hinata dan Gaara sendirian saja dirumah? Kenapa dattebayo??” Naruto terlihat marah dan sedikit frustasi.
“Mereka sudah besar, lagipula Gaara sangat perhatian pada Hinata akhir-akhir ini. Ku pikir sebaiknya kami pergi.” Ucap shino sambil menyeruput kuah Ramen yang baru dihidangkan.
Naruto mendiamkan Ramennya dan mengaduk-ngaduknya.
“Hinata sangat aneh akhir-akhir ini. Dia tidak menjawab teleponku, juga jarang membalas smsku, beberapa kali aku dan teman-teman yang lain mencoba mengajaknya keluarpun dia selalu bilang sibuk. Sebenarnya sesibuk apa sih kalau tidak ada misi?” Naruto bingung.
“Semua orang didesa ini tahu jawabannya. Tapi malah kau sendiri tidak tahu.” Shino menimpali singkat.
“Kau ini memang benar-benar bodoh Naruto. Dia seperti itu tentu saja karenamu. Apalagi dalam hidupnya kalau bukan kau.” Kiba melanjutkan, “ seumur hidup dia menyukaimu, dan kau malah jadian dengan Sakura. Kalau dia menghindar ya sudah jelaslah alasannya tidak ingin melihatmu dan tidak ingin semakin melukainya lagi.”
“Dia menyukaiku? Yang benar saja?? Hinata sendiri yang selalu menyuruhku untuk mengungkapkan perasaan pada Sakura. Memberitahuku cara-cara kencan yang disukai Sakura, dia juga orang yang selalu menyemangatiku. Dia juga,…..” Naruto menyangkal.
“Baakaa!” ucap Shino singkat. “Kami mengenal Hinata lebih dari kau mengenalnya. Mana mungkin dia berani mengucapkan perasaannya padamu kalau kau sudah memilih Sakura duluan.”
Beberapa detik mereka bertiga terdiam.
“Sudahlah, kau kan sudah punya Sakura. Jadi biarkan Gaara yang menyembuhkan lukanya jangan menyakitinya lagi. Kau tidak kasihan padanya? Jangan mengusiknya lagi.” Shino menarik kesimpulan.
“Habiskan makananmu,… kau membiarkan ramen nya dingin!” Seru Kiba.
Malam itu Naruto tak bisa tidur setelah perkataan teman-temannya hinggap dikepalanya. Terlebih perkataan Gaara itu membuatnya bingung minta ampun. Sementara Kiba dan Shino menyarankan mereka untuk tidak lagi mengusik Hinata dan cukup memikirkan Sakura saja. Sakura,… betulkah hanya Sakura saja yang ada dipikirannya?. Naruto bahkan tak mampu mencium Sakura saat didanau meskipun Sakura sudah jadi pacarnya. Tak ada yang berubah antara Naruto dan Sakura setelah mereka pacaran. Sakura tetap mengharapkan Sasuke, dan saat mereka berdua membicarakan Sasuke Naruto tak keberatan atau bahkan tidak cemburu atau malah marah. Saat Naruto menemani Sakura dan Sakura membelikan sesuatu untuk Sasuke Naruto juga tidak melarangnya. Mungkinkah perasaan Naruto ke Sakura itu bukan cinta? Lalu kalau bukan cinta kenapa Naruto berusaha merebut perhatian Sakura dari Sasuke?
Naruto mengacak-ngacak rambutnya dan semakin frustasi.

****

Rabu, 26 Agustus 2015

Naru-Hina Fanfiction 
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 1
Unexpressed Feelings


Hinata menyeka peluh yang menetes dari dahinya, sebelum ia mengemasi sampah dalam sebuah kantong besar untuk disingkirkan. Ia memastikan lagi tidak ada sampah yang terjatuh ataupun tersisa.
Segera ia bergegas membuka pintu dan meletakkan sampah itu ditempatnya.
Hari sudah sore, ia mencoba melihat sekelilingnya. Tak ada satu orang pun yang melihatnya melakukan hal ini. Seperti biasa apartemenmungil Naruto memang selalu sepi.
“Hari ini dia akan datang,…” bisiknya lirih lalu kembali menutup pintu kamar apartemen itu.

Setelah perang dunia ninja ke empat Naruto tak henti-hentinya menjalankan misi tingkat S. sehingga Hinata tak punya cukup waktu untuk bertemu apalagi berbincang dengannya. Hinata yang selalu merindukan pria bermata sapphire itu selalu datang ke apartemennya saat rindu mendesir di hatinya. Tentu dia berani melakukan hal itu,…karena Naruto tidak berada ditempat jadi dia tidak akan pernah malu saat pemilik kamar itu tidak ada. Hinata kembali melihat kesekeliling ruangan, ia mendapati sebuah foto yang berbingkai. Ada Naruto didalamnya, foto tim 7 . ia membelai foto naruto kecil disana sambil tersenyum.  Sebelum akhirnya menghela nafas panjang yang berat.
“Sakura,…” bisiknya sambil menatap gadis kecil disebelah naruto dalam foto itu.

Tak mau larut dalam kebimbangannya sendiri, Hinata berfikir kalau mungkin Naruto akan segera datang. Dia mungkin bisa jadi kepiting rebus mendadak atau nyaris pingsan saat bertemu Naruto jadi mungkin sebaiknya dia harus segera pergi.
“owhya,… kalau baru pulang dari misi…..mungkin naruto lapar.” Hinata segera meletakkan beberapa ramen instant dan air panas dalam termos itu. Jika saja naruto datang dan kelelahan ia tidak perlu merebus air.

“Tadaima” Teriak seseorang dari luar pintu.
Segera hinata meloncat kearah jendela dan bersembunyi di balik dinding jendela itu.

“Okaeri ,… Naruto. Akhirnya kau pulang.”  Hinata tersenyum sebelum akhirnya meloncati atap dan segera menghilang dari apartemen naruto.

“ Wah, …. Sudah lama kutinggal pergi kamarku jadi bersih begini???” Seringai Naruto. “ Pasti Konohamaru yang melakukannya.” Naruto melihat beberapa Ramen yang ada dimeja dia segera membuka Ramen gelas dan menuang air panas kedalamnya lalu ia segera pergi mandi. Dia akan segera menyantapnya setelah badannya bersih.

****
Hinata sangat senang,karena Naruto sudah pulang kembali. Dia melihat sebuah artikel di Koran tentang keberhasilan Naruto dalam misi kali ini. Seperti biasa yang dia lakukan, menggunting dan menandai hal-hal tentang Naruto lalu menempelkannya dalam diary nya.
“Nee-chan, tousan memanggilmu.” Hanabi membuka pintu kamar kakaknya dan memanggil kakaknyaitu
“ Baik. “ Jawab Hinata sambil tersenyum pada Hanabi.

“Ada apa tousan memanggilku kemari??” Tanya hinata pada ayahnya.
“Hmm, duduklah. Aku ingin bicara” Ayah Hinata menyuruh Hinata duduk dan hinata pun menurut, seperti biasa Hiashi memanglah orang yang terkesan kaku dan tak banyak bicara. Hinatapun jarang terlibat pembicaraan dengan ayahnya sendiri.
“ Tahun ini kau sudah 18 tahun kan??”
Hinata menangguk, Hiashi melanjutkan.
“Kau sudah dewasa. Berfikirlah tentang seorang pria baik yang akan menikahimu. Kau sudah punya??” Tanya hiashi to the point.
Sontak hinata terkejut, “Ano…ano….ttt..tousan aku belum berani memikirkan hal itu,…ano…” sangat jarang ayahnya membicarakan hal-hal selain misi dan latihan. Apalagi ini tentang seorang pria.
“Hinata, aku tahu bukan mungkin ayah yang baik, aku sempat mengabaikanmu. Tapi sekarang sudah tidak lagi demikian. Kau harus temukan seorang pria yang akan mendampingi hidupmu, yang baik dan mampu menjagamu. “
“……….” Hinata hanya tertunduk dan terdiam
“Apa ayah perlu mengenalkamu pada sesorang???”
“ttt…tou..saan……” Hinata terbata-bata dan tak mampu melanjutkan lagi.
“Baiklah,… katakan padanya aku ingin bertemu dengannya. Aku yakin kau pasti sudah punya seseorang itu dalam hatimu bukan??”
“Baa….ik ayah” Hinata menjawab dengan suara yang berat. Sementara Hiashi pergi meninggalkan ruangan itu.

Hinata tidak tahu harus bagaimana. Naruto mungkin sudah tahu perasaannya ketika hinata mencoba menyelamatkannya saat bertarung dengan Pain, tapi Naruto tetap dingin-dingin saja.
Hinata sendiri tidak mengetahui bagaimana perasaan Naruto terhadapnya. Naruto selalu membiacarakan hal-hal biasa yang dibicarakan teman, kabar, angin cuaca,sibuk apa akhir-akhir ini. Hanya itu.  Tidak…bukan hanya itu. Naruto bahkan tidak peduli pada perasaan Hinata, Naruto selalu meminta saran dari Hinata tentang apa yang harus dia lakukan agar Sakura mau kencan dengannya.
Dan itu lebih membuat hati hinata semakin nyeri. Tapi apa lagi yang bisa dilakukannya,… selain menyarankan Naruto untuk terus maju meyakini perasaan cinta dan hati kecilnya.jadi bagaimana mungkin dia membawa naruto pulang kerumahnya untuk dikenalkan sebagai calon suami kepada Ayahnya itu.
“Nee-chan ayah memintamu menikah ya??”
“Hanabi,…aku harus bagaimana??” Hinata terlihat cukup putus asa dengan permintaan ayahnya.
“Nee-chan, kenapa tidak mencoba mengatakan hal ini padanya? Mungkin Kak Naruto akan mau jadi pasanganmu.”
“Entahlah Hanabi,…apa aku mampu mengutarakannya lagi. Aku sudah pernah mengatakannya, tapi Naruto sepertinya tidak peduli.”
“Cobalah Nee-chan,… tidak ada salahnya mencoba kembali kan??? Daripada ayah harus mengenalkanmu dengan cowok gak jelas yang jelek . atau bagaimana kalau dy adalah seorang cowok yang menyebalkan… sudahlah cobalah lagi Nee-chan??”
“huft.. baiklah. Akan kutemui naruto besok” semoga dia akan mengerti perasaannya.

***
Pagi yang sibuk bagi Hinata, ia menyiapkan bento dan membuat sebuah hidangan yang menarik didalamnya. Memasang Naruto di Onikiri yang dibentuk seperti Naruto. Sama seperti yang dilakukannya saat misi bersama naruto dulu bersama Kiba dan juga Shino. Naruto sempat mengatakan kalau Hinata akan menjadi seorang istri yang baik suatu hari nanti, dan hinata tersipu mendengarnya. Setelah bento dibungkus hinata berniat pergi menemui Naruto dirumahnya. Mungkin sepagi ini Hinata akan menemui pria yang dicintainya itu masih tidur dengan topi bodohnya.

Tapi ternyata tidak demikian ternyata. Ditengah perjalanan kerumah Naruto ia melihat sosok Naruto tengah memilih-milih bunga di toko bunga milik Ino.
“ Heh… Ino kau tidak punya bunga Sakura ya???” Tanya naruto pada Ino.
“Baka. Ini musim apa??? Mana mungkin ada bunga sakura di musim gugur! Tanam saja sendiri!”
‘Iya…iyaa ini namanya bunga apa?” Tanya Naruto pada Ino sambil menunjuk sebuah bunga kecil berwarna ungu.
“ Itu bunga Lavender. Itu adalah symbol cinta yang mendalam, ketenangan dan juga keanggunan.”
“ Bunganya terlalu kecil, tidak menarik,…. Hemmm… seperti warna mata Hinata ya??” kata Naruto,” warnanya ungu. Tapi aku butuh bunga untuk mengungkapkan cinta, cepat berikan padaku!”
“Kalau memang mau mengungkapkan cinta tentu kau harus bawa mawar merah!”
“Baiklah, ino kuterima saranmu.”
Setelah ber adu tawar dengan Ino tentang harga sebuah bunga akhirnya Naruto segera pergi dari toko itu. Ia tidak tahu kalau Hinata mengikutinya dari belakang. Ia melihat Naruto tampak sangat bersemangat. Ia menuju sebuah taman bermain. Dan Sakura sedang duduk disana sendirian.

“Sakura chan…!!” Teriak naruto yang berlari menghampiri Sakura begitu ia menemukan sosoknya.
Sakura mengepalkan tangannya, kemudian dia memukul kepala naruto “Baka!! Kau ini menyuruhku datang pagi- pagi sekali tapi malah kau yang telat!!”
“hehe,… iyaa…iyaa maaf  Sakura.” Jawab Naruto.” Ini untukmu.” Kata Naruto pada Sakura sambil menyodorkan setangkai bunga Mawar Merah yang dibelinya tadi.
Sakura terdiam memandangi bunga itu.
“Sakura,…kau tahu betul bagaimana perasaanku padamu bukan? Maukah kau jadi pacarku?? Yah aku tahu aku mungkin tidak bisa seperti Sasuke tapi bagaimana kalau kita coba pacaran. Beri aku kesempatan.”
Sakura masih tidak menjawab.
Hinata mematung ditempatnya bersembunyi ketika mendengar hal itu. Jantungnya bedetak dengan berat, sakit. Mungkin ia terkena serangan jantung kardiovaskuler mendadak hingga sangat sulit memompa paru-parunya tuk kembali bernafas normal.
“Naruto,… aku masih berharap Sasuke akan datang dan menemuiku. Dan aku tidak bisa menghapus namanya di hatiku.” Kata Sakura.
“Yahhh sakura….aku tahu. Biarkan aku disisimu, setidaknya biarkan aku mencoba. Kita tidak tahu kapan Sasuke kembali. Dan kaupun tidak tahu bagaimana perasaan Sasuke padamu. Jadi, … aku bersedia selalu ada untukmu disaat-saat itu.”
Hinata tertegun,… air matanya menetes. Tapi ia masih berharap Sakura tidak menjawabnya seperti tahun-tahun sebelumnya atau mungkin menolaknya untuk menunggu Sasuke.
Setelah bebrapa menit berpiikir, akhirnya Sakura pun mulai membuka percakapan kembali.
“Naruto,…”
“Ya,…”
“Ayo kita coba.” Kata sakura
Deg.
Hinata semakin tak mampu membendung air matanya. Ia tak lagi bisa berbuat apa-apa saat Sakura menerima tawaran Naruto.
“Benarkah kau mau Sakura dattebayo??” Naruto Sumringah.
“ ehem… “ Sakura mengangguk.

Hinata menangis lebih sesenggukan lagi, ia tak sanggup berada ditempat itu lebih lama lagi. Ia putuskan berlari. Momen bahagia bagi Naruto itu ternyata sangat menyakitinya.

“Tapi Naruto,…kalau ternyata aku masih tidak bisa mencintaimu bagaimana?? Dan aku minta putus karena sasuke pulang,….Kau tidak terluka??” Tanya sakura pada Naruto.
“Tidak apa Sakura,.. Asal kau memberi aku kesempatan akan kugunakan sebaik mungkin. Sampai kau benar-benar mampu mecintaiku dan lupa kata putus itu dattebayo!!!”
Naruto meloncat-loncat kegirangan.

***
Hinata berlari tanpa melihat siapa yang asedanga da dijalan, dia tak mampu melihat jelas. Bahkan byakugannya pun tersimpang karena air matanya sendiri. Ia tidak memiliki tempat di hati Naruto sama sekali, hanya ada Sakura selama ini.
Bruuukkk.
“Gomen ni…Gomen ni… aku tidak melihat anda dengan baik maaf sekali lagi” kata hinata ketika ia menabrak seseorang yang tidak ia sadari. Bento untu Naruto yang dibawanya pun berserakan dan berhamburan. Tak berbentuk lagi, mungkin sama seperti hatinya saat ini yang sedang kacau.
“Hinata-sama,…” Sapa orang yang ditabraknya. “Kau terlihat terburu-buru, ada apa sebenarnya?”
Hinata mengangkat kepalanya dan melihat orang itu, “Oh Kazekage-sama maaf, aku menabrakmu aku tidak melihatmu dengan jelas.”
“Kau tidak perlu memanggilku itu,… panggil saja namaku. “ Jawab Gara sambil mencoba membetukan kotak bento yg ada ditanah lalu memberikannya pada Hinata. “ kau ini lucu,ya… punya byakugan tapi tak bisa melihatku yang ada didepanmu.” Timpal Gaara.
“Gaara,… maaf aku…”
“Tidak apa-apa,aku…..”
“Maaf,.. sekali lagi maaf aku sedang terburu-buru.” Hinata memotong sambil membungkukkan badannya lalu dia segera berlari untuk sedapat mungkin sampai dirumahnya.

“Naruto-kun,… naruto-kun,…. Kenapa harus Sakura?? Apa aku tidak boleh masuk kehatimu?”
Hinata terisak dan menyembunyikan wajahnya kebantal. Ia tidak tahu lagi, mungkin kesempatannya sudah tertutup. Haruskah dia berbahagia untuk hubungan Naruto dan Sakura? Atau haruskah dia tetap maju mengutarakan perasaannya. Tapi majupun percuma jika mereka sudah bersama.
‘Kling-kling’ Handphone Hinata berdering
Hinata harusnya sumringah kerena tertulis Naruto sedang mencoba menelponnya.  Tapi ia tak mampu untuk tersenyum saat itu. Ia sebenarnya tidak ingin mengangkat telepon itu. Tapi telepon it uterus berdering. Mungkin ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan Naruto. Ia putuskan menghapus air matanya lalu mengangkat telepon itu.
“Halo Hinata!” Sapa suara itu dengan penuh Semangat.
“Oh,… Hallo Naruto kun,..” ucap Hinata parau. “Kok tumben?”
“ah… aku tidak melihatmu sejak aku pulang kemarin. Kau tidak ingin bertemu aku yaa?? Kau terdengar sakit Hinata, apa kau baik-baik saja??”
“Ya… aku baik-baik saja kok” Ucap Hinata singkat.
“ Hn,.. Kau ada waktu Hinata,… aku ingin mengajakmu makan di Ichiraku. Kau mau??” Tanya Naruto.
“ehm… Naruto, … maaf aku sedang tidak bisa keluar, tidak bisakah kita bicara lewat telepon saja?” Hinata mencoba menawarkan pilihan itu agar Naruto tidak melihat matanya yang sembab. Mungkin juga jika Hinata menerima ajakan itu ia tak mampu menguasai diri setelah kejadian yang dilihatnya tadi. Itu pertama kali dalam hidup Hinata ia menolak ajakan Naruto untuk pergi keluar bersamanya.
“Oh,… ya boleh.” Naruto mencoba mencari posisi ternyaman untuk berbicara dengan teleponnya sebelum melanjutkan. “ Hinata aku punya kabar baik. Aku jadian dengan sakura dattebayo!!”
“….”
“Kau tahu aku senang sekali,… dan aku akan berkencan dengan sakura besok.”
“ Owh itu… Selamat ya,…”
“Kau terlihat tidak bahagia hinata?? Ada apa??”
“Aku sedang terkena radang tenggorokan Naruto,.. jadi maaf aku tak banyak bicara” Hinata menyangkal.
“Owh,… kau harus banyak istirahat kalau begitu. Kalau begitu istirahatlah,… Jaa…”
“Jaa… Ne “ jawab Hinata.

Telepon ditutup dan Hinata kembali sedih lagi setelahnya. Setelah invasi Pain ke Konoha hubungan Naruto dan hinata memang jauh lebih baik. Tapi tak terjadi apa-apa dantara keduanya. Naruto menjadi lebih terbuka dan menganggap Hinata sahabatnya. Mereka sering pergi keluar makan dan jalan-jalan,jika Naruto tidak sibuk dengan misi. Hinata juga sering mengirim sms ke Naruto saat sedang senggang. Tapi tak ada yang istimewa bagi Naruto, karena dia Sakura dan Sasuke juga pernah melakukannya bersama-sama. Tentu saja Hinata merasa senang Naruto mengajaknya bertemu dan berbicara. Sementara Hinata semakin berharap kedekatan itu membuat naruto mengerti akan ketulusan cinta Hinata. Tapi ternyata tidak demikian. Sakura,…Sakura… dan Sakura yang selalu Naruto tanyakan kepada Hinata.

Hari ini hari yang berat bagi hinata. Melihat orang yang dicintainya harus jadian dengan wanita lain, dan bukan dia. Hinata seperti mendapati ada lubang besar dihatinya. Sampai-sampai ia tidak mampu untuk bangun dari tempat tidurnya untuk makan malam bersama hanabi dan ayahnya. Ia lebih memilih untuk tenggelam bersama malam dan terlelap sampai pagi menjelang.

***To be continued***