Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 2
Dishonesty Feeling
Tidak biasanya Hinata merasa
bermalas-malasan. Matahari sudah meninggi tapi ia tak kunjung beranjak dari
tempat tidurnya. Tak ada semangat. Menatap langit di saat ia bangun tidur tak
lagi ia lakukan seperti biasanya.
“Nee-chan, Ada apa?? Terjadi sesuatu
kah? Ayo sarapan!” Hanabi memasuki kamar Hinata tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
“atau mungkin sedang sakit ya?”
“Tidak kok,… Cuma aku merasa kurang
enak badan saja.” Jawab hinata sambil menyingkap selimutnya kemudian duduk.
“Ada tamu tuh…. Tousan sedang bicara
dengannya.”
“Tamu? “ ulang hinata sekali lagi.
“Ya,.. tamu rambutnya merah tapi tidak
punya alis. Jangan-jangan tousan sudah memilihkan pria buatmu??” ujar Hanabi
memprovokasi.
“Gaara,..ada apa ya pagi-pagi sudah
bertemu dengan tousan.” Hinata jadi ikut penasaran.
Hinata bersiap. Ia membersihkan
dirinya, mandi, berpakaian dan menyisir rambutnya sebelum keluar dari kamarnya.
Di ruang tamu ia mendapati ayahnya sedang berbicara dengan Kazekage keempat
itu. Hinata tidak menuju ketempat ayahnya, tapi iya menuju dapur dan mengambil
air untuknya sendiri.
“Hinata,…!!” Panggil Hiashi.
“Ya tousan,…ada apa?”
“ Kau kedatangan tamu pagi-pagi.
Kazekage-sama datang kemari ingin bertemu denganmu.”
Segera Hanabi berbisik pada Hinata
sebelum Hinata melangkah kearah mereka berdua, “ Benarkan kataku, tousan
menjodohkan kau sama orang itu”
“Ohayo gosaimasu, Kazekage-sama. Apa
yang membuatmu datang menemuiku?” sapa Hinata pada Gaara.
“ Ohayo,… tidak jangan bersikap formal
begitu. Aku kesini Cuma sekedar mampir. Juga mengembalikan ini padamu.” Ia
mengeluarkan sebuah dompet berwarna putih dan notabene milik Hinata. “ Kau
tidak sadar saat menjatuhkannya kemarin.”
“oh… Arigatou, Gaara. Kau sudah mau
mengantarkan dompetku. Kalau tidak mungkin aku akan bingung mencarinya kemana.
Aku sedang terburu-buru kemarin. Sekali lagi terimakasih. “ Hinata tampak sangat
lega.
“Syukurlah. Kalau begitu aku pamit.”
Ucap gara sembari melempar senyum balasan.
“Oh… kalau tidak keberatan ayo kita
sarapan dulu, Kazekage-sama. Anggap saja sebagai rasa terima kasih kami karena
sudah mengembalikan dompet Hinata. Kau tidak sedang buru- buru kan?” Sela
Hiashi menghalangi Gaara yang hendak pamit.
“Baiklah, jika tidak merepotkan, aku
akan sangat tersanjung menerima undangannya Hiashi-sama.” Jawab Gaara.
Hiashi mempersilahkan Gaara untuk sarapan bersama di kediaman Hyuga
pagi itu. Hiashi tampak begitu antusias dengan Gaara yang berada di Konoha saat
itu. Gaara berencana untuk mendirikan akademi ninja untuk calon ninja di
Tsunagakure. Gara juga sedang berada di Konoha untuk beberapa waktu kedepan
karena sedang menyaksikan ujian chunin juga pertemuan para kage. Jadi
setidaknya Gaara akan tinggal di Konoha satu bulan kedepan.
“ Oh,.. Hinata-sama maukan kau
menemaniku untuk mengumpulkan beberapa hal yang diperlukan untuk membuat
akademi baru seperti yang dipunyai Konoha? Kau juga mengajar di akademi itu
kan?” Ucap Gaara meminta tolong pada Hinata.
“Tentu,..aku akan membantu.” Seru Hinata.
“Tentu,..aku akan membantu.” Seru Hinata.
“Dan kalau kau tidak sibuk hari ini,…
bersediakah kau menemaniku jalan-jalan di konoha setelah dari sana. Aku bosan
harus berada di kamar terus. Hari ini agenda pertemuan dibatalkan jadi besok.”
“Baiklah,” Jawab Hinata singkat.
“Baiklah,” Jawab Hinata singkat.
Setelah makan, Hinata dan Gaara segera
menuju Akademi Ninja untuk mengumpulkan informasi. Hinata tidak terlalu banyak
bicara, sehingga Gaara selalu berusaha untuk mencoba membuka pembicaraan. Tidak
seperti yang Hinata bayangkan sebelumnya, Gaara ternyata tidak terlalu pendiam.
Tapi itu tak cukup menyingkirkan sosok yang masih terbias di pikiran dan
hatinya kemarin. Yang ia cintai lebih dari dirinya, dan yang menyakiti hatinya
lebih dari siapapun.
“Hinata, setelah ini kira-kira kita
jalan-jalan kemana ya? Kau lebih suka tempat yang ramai atau tenang?” Gaara
mencoba menawarkan tempat yang akan mereka kunjungi setelah Akademi ninja
konoha.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke
danau dibelakang akademi? Saat siang begini rasanya akan sangat teduh jika bisa
duduk bersantai dibawah pohon yang ada disana.” Jawab Hinata.
“ Ah… ide bagus.” Jawab Gaara.
Mereka saling tersenyum dan segera
bergegas kesana.
Hinata menghela nafas panjang. Ia menghirup
banyak-banyak udara disekitar danau yang masih sangat sejuk itu sebelum
mengeluarkannya. Dikejauhan,… dibalik sebuah pohon besar. Ia mengenali
seseorang yang ada dibaliknya. Berjaket olahraga warna hitam dengan kombinasi
oranye, berambut kuning dan yang lain berambut pink dan mengenakan baju
berwarna merah. Tidak salah lagi,.. itu adalah Naruto dan Sakura. Sepertinya
Hinata telah salah memilih tempat yang jadi tujuannya untuk bersantai.
“Ada apa Hinata??” Tanya Gaara.
“Tidak, ….Tidak… Bukan apa-apa.” Jawab
Hinata.
Gaara mencoba melihat kearah yang sama
dengan yang dilihat Hinata.
“ Itu kan Naruto dan Sakura??? Apa
mereka sedang berkencan??”
Hinata terdiam.
“Wah,… Naruto berani sekali. Dia
mendekatkan kepalanya sepertinya dia akan mencium Sakura.Iya kan Hinata?” Ujar
Gaara.
Hinata menangis. Hinata tak kuat
menyaksikan semua itu. Tapi iapun tak dapat beranjak atau bergerak dari
tempatnya berpijak. Gaara menoleh, dan melihat air mata Hinata yang mengalir
jatuh ke tanah.
Gaara sepertinya paham mengapa Hinata
sampai menangis sesenggukan begitu. Gaarapun segera membalikkan tubuh Hinata
untuk disembunyikan dibalik dadanya. Dipeluknya gadis berambut indigo itu.
“Jangan melihat kearah sana,…Sekarang
menangislah.” Pinta gaara pada Hinata.
Hinata semakin terisak. Ia menangis
semakin sesenggukan. Dan Gaara mempererat pelukannya pada gadis yang tengah
menangis itu.
Cukup lama Hinata bersembunyi dibalik
pelukan pria berambut merah tak beralis itu. Satu jam atau mungkin hamper dua
jam, sebelum Hinata mampu menguasai dirinya sendiri dan menghentikan air
matanya yang menetes itu. Hinata menyeka airmatanya dengan kedua tangannya.
“Kau baik-baik saja??” Tanya Gaara.
Hinata menangguk dan mencoba
tersenyum. Tapi ia tak mampu tersenyum banyak.
“ Aku tahu ini berat buatmu, tapi
cobalah untuk tegar.” Ucap Gaara.
“ Ya,..akan kucoba.” Seru hinata.
“Mungkin akan lebih baik jika kau
mencoba untuk menyelesaikan perasaanmu
dengan Naruto. Kau bisa mencoba untuk memeberitahunya” Gaara mencoba member
saran.
“Tidak. Kurasa itu percuma. Sudah
beberapa kali aku mengatakannya.”
“Lalu? Kau takkan mampu menyudahi
kisahmu dengan Naruto bukan?”
“Bukan. Kisahku dan Naruto tak pernah
dimulai, jadi bagaimana mungkin diakhiri?” Ujar Hinata sambil mencoba menatap
kemata Gaara yang bersimpati padanya.
“Terus, apa yang akan kau lakukan
Hinata?”
“Apalagi…. Aku harus tegar kan?
Seperti yang kau bilang. Jadi akan kuanggap ini cuma cinta monyet anak-anak
biasa. Jadi aku harus memulai kehidupanku dengan lebih baik dan dewasa.”
Tandasnya dengan suara parau.
Gaara tersenyum kecil dan menggenggam
tangan Hinata. “ Ayo, kuantar kau
pulang.”
Hinata mengangguk.
***
Hinata mencoba mengurangi kegiatannya
akhir-akhir ini. Ia tidak ingin melakukan kegiatan yang kurang berguna dan
malah akan mempertemukannya pada sosok Naruto dan Sakura. Sementara ini Hinata
menghindarinya. Tapi itupun sangat sulit dilakukan olehnya. Setiap jalan di
konoha, setiap tempat, dan setiap orang-orang yang ditemuinya selalu
mengingatkannya pada Naruto. Hinata juga tidak menghadiri acara-acara yang
sekiranya membuat ia bertemu dengan Naruto.
Setiap kali ada yang menelpon mengajak untuk pergi makan ia memilih untuk
tidak mengahadirinya, ia membuat alasan dan mungkin membuat teman-temannya
geram dan enggan mengajak Hinata lagi. Dia pun tidak mengangkat telepon dari
Naruto.Beberapa kali Naruto mengirimkan sms menanyakan kabarnya atau mengajak
keluar, tapi hinata berusaha untuk tidak membalasnya atau mengatakan kalau
sedang sibuk. Ia menyibukkan diri dan mencoba untuk tidak lagi mengingat
Naruto. Dua minggu berlalu, sepertinya Hinatapun sesungguhnya tak mampu
menyembuhkan lukanya sendiri.
“Hinata kau sibuk?” Tanya seseorang
dari balik jendela diruangan kerja Hinata di ruang Guru Akademi Ninja tersebut.
“Oh,…Gaara…Tidak… tidak sibuk.” Jawab
Hinata.
“Ayo kita jalan-jalan.” Ajak Gaara.
Akhir-akhir ini memang Gaara mempunyai
posisi rangkap selain sebagai Kazekage, yaitu sebagai teman baru Hinata.
Mungkin lebih dari itu. Gaara memang sejak lama mengagumi gadis indigo bermata
byakugan yang pendiam itu, hanya saja Gaara tidak terlalu serius dengan
perasaannya. Gaara belum tahu pasti perasaannya kepada Hinata. Gaara merasa
cukup nyaman untuk pergi bersama gadis itu. Selebihnya Gaara belum
memperhitungkannya lagi. Anggap saja sebagai teman baru, ini adalah pertama
kalinya Gaara mencoba berteman dengan seorang perempuan. Gaara sangat
protektif, terlebih saat mengetahui jika Hinata sudah banyak terluka oleh
Naruto yang memilih dengan Sakura. Tidak ingin Hinata melihat mereka berdua,
Gara mencoba member beberapa pekerjaan tambahan untuk Hinata, misalnya
mengirimkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk Gaara, atau mungkin sekedar
menemani Gaara mencari angin segar di konoha. Gaara tidak banyak bicara, juga
bertanya tentang apa yang terjadi atau perasaannya terhadap Naruto, itu adalah
salah satu alasan Hinata tidak keberatan menghabiskan waktu bersamanya.
“Ini,…” Gara menyodorkan satu cup
eskrim untuk Hinata.
“Terima kasih” tukas Hinata.
“Hinata, sepertinya aku akan terus
membutuhkanmu. Aku akan mencoba berbicara pada Rokudaime-sama jika aku
membutuhkanmu di desaku untuk membuka Akademi Ninja. Tapi jika kau tidak
keberatan.” Ucap Gaara yang memakan eskrim sambil berjalan pelan.
“ehmm… ano… aku….” Hinata bingung
menggunakan kalimat apa untuk menjawab tawaran Kazekage yang berjalan
disampingnya itu. “Akan… ku pertimbangkan, akan kutanyakan pada tousan..”
“Heii Hinataaaa!!!!!!!” teriak
seseorang dari arah berlawanan dengan mereka. Seseorang berambut kuning berbaju
olah raga hitam dan kombinasi oranye dari arah berlawanan menyapa dan
melambaikan tangan dan memanggil mereka.
Hinata jadi ragu untuk melangkah
menemui orang yang memanggil namanya itu. Tapi dia tidak mungkin mundur atau
berbalik.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Gaara
“Entahlah.” Jawabnya pasrah.
“Kita temui mereka dan jika kau tidak
mampu kita bisa segera pamit ada urusan, betulkan?” Gaara mencoba memberi
solusi.
Naruto mendekati mereka mencoba
berputar-putar mengelilingi Gaara dan Hinata, sambil menyeringai dan penasaran.
Sakura yang juga penasaran dengan itu langsung saja nyeletuk.
“Hinata, kalian sedang kencan ya?”
Tanya Sakura mencoba mengkorek informasi.
“….ee….ee….eee t..tt….ti…tid…” Hinata
kelabakan menjawab pertanyaan Sakura, seketika Gaara menyela jawaban Hinata.
“Yaa, Benar sekali Sakura. Kami memang
sedang kencan. Lagipula siapa yang bisa menolak tawaran dari seorang Kazekage
sepertiku.” Ucap Garaa dengan sedikit sombong.
Sontak Hinata kaget dan melongo mendengar
kalimat itu terlontar dari mulut Gaara.
Naruto mengangkat satu alisnya tidak
bicara namun memandang sinis kearah mereka berdua.
“Ahh…. Baguslah kalau sedang
berkencan…” Sakura menggoda Hinata.
“Kalian sendiri,… apa yang sedang
kalian berdua lakukan disini?? Tanya Gaara.
Naruto langsung mengepal tangannya dan
bersemangat. “ Apa kau tidak lihat kami juga sedang kk……”
“SHANAROOO” . Sakura meninjukan kepalan tangannya ke kepala Naruto. “Diam kau Naruto” Ujarnya.
“SHANAROOO” . Sakura meninjukan kepalan tangannya ke kepala Naruto. “Diam kau Naruto” Ujarnya.
Gaara yang melihat itu hanya tersenyum
ringan, sementara Hinata terdiam.
“Ayo kita pergi ke pemandian air
panas, aku bosan berputar- putar dan diikuti orang bodoh seperti dia.” Ajak
Sakura.
“Eh,… tapi kalian tahu kan Kazekage
sangat sibuk,… mungkin sebaiknya kami….” Hinata mencoba menjawab namun di
potong oleh Gaara.
“Air panas?? Sepertinya itu hal yang
menarik??Ayo kita pergi kesana Hinata!!!” Seru Gaara.
“Ayo!!!!” Sakura menarik tangan Hinata
dan menariknya pergi menuju kolam air panas. “ Eh, kau tidak bilang kalau saat
ini sedang kencan sama Gaara. Berarti kemarin-kemarin tidak bisa keluar itu
juga karena sibuk kencan dengannya yaa???” Bisik Sakura pada Hinata.
Hinata tak menjawab, hanya tertunduk.
****
“Jadi kau sering kencan dengan Hinata
ya?? Pantas saja dia jadi tak pernah mau ku jak keluar akhir-akhir ini” Naruto
mencoba menginterogasi Gaara saat berendam bersama Gaara.
“Ya,…dia gadis yang menyenangkan.
Hanya saja tidak terlalu banyak bicara itu saja. Hemm kau sendiri kau sudah
resmi pacaran dengan Sakura-chan ya??”
“Yosh…. hebat bukan dattebayo??” Ucap
naruto semangat.
Gaara meringis. “Menurutmu apa itu
pacaran?” Tanya Gaara.
“Apa ya,…???” Naruto bingung tak mampu
menjelaskan. “Ah pokoknya pacaran dan aku sudah berhasil mengalahkan Sasuke dan
mendapatkan Sakura-chan.”
“kalau begitu menururtku itu bukan
pacaran,…”timpal Gaara. “Kau Cuma tidak ingin kalah dengan Sasuke.”
“Berjalan-jalan dengan orang yang kau
suka kemana-mana juga dengan orang yang kau suka apa tidak bisa disebut dengan
pacaran ya???”
“ Dengar, apa kau bisa bedakan suka
dan cinta? Kau pacaran dengan orang yang kau suka memang. Tapi sebenarnya kau
harusnya pacaran dengan orang yang kau cintai.”
“Ahhh… tidak ada bedanya. Sama saja
kan dengan aku menyukai ramen dan aku mencintai ramen, jadi aku memakannya setiap
hari.” Jawab naruto.
“Cinta itu akan membuatmu merasa ada
sesuatu yang hilang saat kau tak bisa bersama atau memilikinya. Dan kau merasa
menemukan sesuatu saat kau bersamanya tanpa banyak melakukan sesuatu. Kau
cemburu, merasa marah saat kau melihatnya dimiliki atau bersama dengan orang
lain. Kau rela mengorbankan sesuatu yang sangat berharga untukmu bahkan nyawamu
tanpa kau perhitungkan sebelumnya.”
“Haash… Membingungkan” Jawab Naruto.
“Yang penting Sakura sudah jadi milikku. Teme sudah kalah.” Naruto
terbahak-bahak. Sementara Gaara hanya nyengir dan menggelengkan kepalanya
mendengar kalimat itu terlontar dari Naruto.
Di tempat pemandian Hinata tak banyak
berbicara pada Sakura.
“Hinata, apa kau sakit? Kau terlihat
pucat.” Jawab Sakura.
Hinata menggeleng.
Sakura tersenyum lega dan kemudian ia
bersandar didinding kolam menikmati air panas menyegarkan tubuhnya.
“Sakura,… tolong jaga dia buatku.”
Ucap Hinata.
Sakura terkejut, ia mulai tidak
mengerti.
“Kau tahu betul perasaanku padanya,
aku hanya ingin dia bahagia. Jadi aku turut bahagia jika kalian juga bisa
bahagia.” Kata Hinata pada Sakura.
“Hinata,… maaf kan aku aku menerima
Naruto hanya ingin mebuat dia sadar kalau aku tidak mencintainya dan aku masih
menunggu Sasuke-kun”
“Apa kau berniat mencampakkan Naruto??
Menyakitinya atau bahkan tidak peduli pada perasaannya?”
“Hinata, bukan begitu,….”
“Sakura,… aku mohon. Cobalah untuk berada disisinya. Orang yang disukainya adalah kamu, bukan aku. Aku tidak bisa menggantikan posisimu dihatinya atau bahkan memaksanya menyukaiku. Jadi aku mohon cobalah. Dia sangat mencintaimu,…” ujar hinata sambil tertunduk.
“Sakura,… aku mohon. Cobalah untuk berada disisinya. Orang yang disukainya adalah kamu, bukan aku. Aku tidak bisa menggantikan posisimu dihatinya atau bahkan memaksanya menyukaiku. Jadi aku mohon cobalah. Dia sangat mencintaimu,…” ujar hinata sambil tertunduk.
“Hinata, tidakkah kau juga mengerti
perasaanku. Siapa yang aku sukapun kau sudah tahu sejak dulu. Iya kan?”
“Sakura,… kumohon,…bantulah aku juga
Naruto. Aku merelakanmu bersamanya agar dia bisa bahagia dan memberikan apa
yang tak bisa kuberikan padanya.” Hinata mengucap sambil menangis.
Sakura tak mampu berkata apapun. Ia
hanya melihat Hinata yang menangis dan berusaha menyeka airmatanya. Kemudian
segera keluar dari dalam kolam untuk segera berpakaian. Sakura mengikutinya
dari belakang.
***
“Saatnya pulang, aku pamit dulu.” Ucap
Gaara pada Naruto dan Sakura.
“Jaa Ne Naruto, Jaa Ne Sakura.” Hinata
menundukkan kepalanya memberi salam, tapi entah apa yang terjadi, tubuh Hianta
lemas dan sempoyongan setelahnya dengan sigap Gaara yang ada disebelahnya
menangkap tubuh itu.
“Hinata, hati-hati, kau pasti
kelelahan. Aku akan mengantarmu pulang. “ ucap Gaara khawatir.
Hinata menganggguk kemudian mencoba
melangkahkan kakinya tapi malah merasa kepalanya semakin berputar dan iapun
memegangi kepala itu.
“ Kau bisa berjalan??” Tanya Gaara.
“Aku gendong saja ya, aku takut terjadi apa-apa denganmu.” Ucap Gaara pada
Hinata.
Hinata tidak menjawab, tubuhnya
semakin melunglai dan lemas.
Gaarapun segera mengangkat tubuh
mungil Hinata itu dengan kedua tanggannya dan segera pergi melompat ke udara, menghilang dan
pergi.
“Mereka berdua serasi ya?” celetuk
Sakura yang membuyarkan pandangan Naruto yang mengikuti semburat kepergian
Hinata dan Gaara.
“Oh,… benarkah? Kulihat Hinata tidak
bahagia.” Jawab Naruto Sinis.
“Itu karena Hinata sedang
sakit,….bodoh….ahh… semoga mereka bahagia. ”ucap sakura sembari berlalu
meninggalkan Naruto.
Naruto teringat ucapan Gaara saat berendam di
kolam tadi,
“……ada sesuatu yang hilang saat kau tak bisa bersama atau memilikinya.
Dan kau merasa menemukan sesuatu saat kau bersamanya tanpa banyak melakukan
sesuatu. Kau cemburu, merasa marah saat kau melihatnya dimiliki atau bersama
dengan orang lain……”
Naruto duduk sendiri di Ichiraku Ramen
setelah mengantar Sakura pulang. Sambil memegangi gelas Ocha didepanya
pikirannya jauh melayang. Sekelebat bayangan Hinata tampak dalam fikiran itu.
Naruto merasa ada yang tidak nyaman dihatinya. Tapi ia tidak tahu pasti
perasaan apa itu. Itu bukan seperti Naruto biasanya. Karena Naruto pasti akan
menyapa orang yang dipikirannya itu ketika dia memikirkannya entah melalui sms,
telepon atau mungkin mencoba menemuinya. Tapi kali ini dia tidak begitu. Ada sesuatu
yang menghalangi untuk melakukannya, perasaan itu lebih mirip perasaan kecewa. Tapi
dia juga ingin marah tapi tak tahu untuk apa atau mungkin itu adalah perasaan
khawatir karena Hinata tadi sempoyongan saat di pemandian air panas.
“Ahhhh Sial…” Katanya sambil
mengacak-ngacak rambut jabrik kuningnya.
“Hei Naruto kau ini kenapa??”
seseorang menepuk bahu Naruto dan segera duduk disampingnya.
“Eh,… Kiba, Shino. Darimana kalian?”
Tanya Naruto.
“ Dari rumah Hinata,… kudengar dari
Sakura dia sedang sakit tadi kami mengantar surat dari Rokudaime-sama sebentar sekaligus
melihatnya dan menemaninya sebentar karena tidak ada Hanabi karena masih belum
pulang.” Shino menjelaskan.
“Eh… ternyata sudah ada si Gaara. Ya sudah
kami berpikir untuk memberi kesempatan mereka berdua saja.” Celetuk Kiba.
“AAAAPPAAA??? Kalian tinggalkan Hinata
dan Gaara sendirian saja dirumah? Kenapa dattebayo??” Naruto terlihat marah dan
sedikit frustasi.
“Mereka sudah besar, lagipula Gaara
sangat perhatian pada Hinata akhir-akhir ini. Ku pikir sebaiknya kami pergi.”
Ucap shino sambil menyeruput kuah Ramen yang baru dihidangkan.
Naruto mendiamkan Ramennya dan mengaduk-ngaduknya.
“Hinata sangat aneh akhir-akhir ini. Dia
tidak menjawab teleponku, juga jarang membalas smsku, beberapa kali aku dan
teman-teman yang lain mencoba mengajaknya keluarpun dia selalu bilang sibuk. Sebenarnya
sesibuk apa sih kalau tidak ada misi?” Naruto bingung.
“Semua orang didesa ini tahu
jawabannya. Tapi malah kau sendiri tidak tahu.” Shino menimpali singkat.
“Kau ini memang benar-benar bodoh
Naruto. Dia seperti itu tentu saja karenamu. Apalagi dalam hidupnya kalau bukan
kau.” Kiba melanjutkan, “ seumur hidup dia menyukaimu, dan kau malah jadian
dengan Sakura. Kalau dia menghindar ya sudah jelaslah alasannya tidak ingin
melihatmu dan tidak ingin semakin melukainya lagi.”
“Dia menyukaiku? Yang benar saja?? Hinata
sendiri yang selalu menyuruhku untuk mengungkapkan perasaan pada Sakura. Memberitahuku
cara-cara kencan yang disukai Sakura, dia juga orang yang selalu
menyemangatiku. Dia juga,…..” Naruto menyangkal.
“Baakaa!” ucap Shino singkat. “Kami
mengenal Hinata lebih dari kau mengenalnya. Mana mungkin dia berani mengucapkan
perasaannya padamu kalau kau sudah memilih Sakura duluan.”
Beberapa detik mereka bertiga terdiam.
“Sudahlah, kau kan sudah punya Sakura.
Jadi biarkan Gaara yang menyembuhkan lukanya jangan menyakitinya lagi. Kau tidak
kasihan padanya? Jangan mengusiknya lagi.” Shino menarik kesimpulan.
“Habiskan makananmu,… kau membiarkan
ramen nya dingin!” Seru Kiba.
Malam itu Naruto tak bisa tidur
setelah perkataan teman-temannya hinggap dikepalanya. Terlebih perkataan Gaara
itu membuatnya bingung minta ampun. Sementara Kiba dan Shino menyarankan mereka
untuk tidak lagi mengusik Hinata dan cukup memikirkan Sakura saja. Sakura,…
betulkah hanya Sakura saja yang ada dipikirannya?. Naruto bahkan tak mampu mencium
Sakura saat didanau meskipun Sakura sudah jadi pacarnya. Tak ada yang berubah
antara Naruto dan Sakura setelah mereka pacaran. Sakura tetap mengharapkan
Sasuke, dan saat mereka berdua membicarakan Sasuke Naruto tak keberatan atau
bahkan tidak cemburu atau malah marah. Saat Naruto menemani Sakura dan Sakura
membelikan sesuatu untuk Sasuke Naruto juga tidak melarangnya. Mungkinkah
perasaan Naruto ke Sakura itu bukan cinta? Lalu kalau bukan cinta kenapa Naruto
berusaha merebut perhatian Sakura dari Sasuke?
Naruto mengacak-ngacak rambutnya dan
semakin frustasi.
****