Jumat, 11 September 2015

Naru-Hina Fanfiction
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 3
Perasaan Yang Sebenarnya



Beberapa hari berlalu.
Jika Naruto mencoba mengingat kata-kata temannya perutnya terasa begitu penuh hingga ia tak ingin makan apapun bahkan Ramen sekalipun. Jadi ia memutuskan untuk tidak mengingat-ngingat lagi.  Ia mencoba menmandangi Sakura yang berjalan disebelahnya. Terlihat cerah dan sangat bersemangat sekali hari ini gadis itu.  Bagaimana tidak. Hari ini Sasuke kembali dari misinya. Dan Sakura sangat bahagia mendengar kabar itu dari Rokudaime, Kakashi Sensei. Naruto tentu ikut bahagia ketika mendengar kabar itu juga, dan berniat minta traktir makanan enak pada sahabat yang merangkap saingan abadinya itu. Sosok yang ditunggu-tunggu itupun kian terlihat memasuki pintu gerbang Konohagakure.
Seketika Sakura melesat kearah Sasuke dan memeluknya, “ Kyaaaa….Sasuke-kun” Sakura senang sekali.
Naruto yang melihat sakura kegirangan hanya mampu meyeringai.
“Okaeri,Teme .Kau sudah pulang, ya.” Naruto menyapa Sasuke sambil mengepalkan tinjunya pelan kearah tangan Sasuke yang juga membalas hal yang sama.
Sakura mendadak merasa tidak nyaman, bagaimana jika Naruto mencoba mengatakan kalau Sakura sekarang jadi pacarnya. Sehingga, sakura merasa harus terus berada diantara keduanya untuk beberapa waktu.
“Dobe, matamu kenapa? Kurang tidur.” Tanya Sasuke.
“Oh.. ya mungkin karena semalam aku mencoba menantang Shikamaru bermain Shogi.” Tukas Naruto.
“Melawan Shikamaru, … Kau pasti kalah” Jawab Sasuke.
Lalu mereka saling tersenyum satu sama lain.
Mereka bercakap-cakap sambil berjalan menuju Kantor Rokudaime Hokage untuk melapor. Yahh, kakashi sensei akan sangat senang jika Sasuke membawa pulang berita tentang keberhasilan misi itu. Ditambah lagi ketiganya adalah tim 7 yang sangat disayangi Kakashi.

***
“Hinata,… Ayo pergi!” Ajak Gaara yang mendadak muncul dihadapan Hinata, beberapa saat setelah Hinata selesai mengajar di Akademi.
“Kemana?” Tanya Hinata
“Kita akan pergi jalan-jalan, tapi kali ini aku akan mengajakmu menaiki pasirku.”
Mulut Hinata terbuka dan masih kebingungan. Tapi Gaara sudah menarik tangannya untuk naik keatas pasir.
“Ayooo!!” Gaara bersemangat.

“Kyaaaa!!!! Aku takut Gaaraa…Ini cepat sekali bisakah kita lebih pelan??”
“Tenang saja Hinata kau tidak akan jatuh,… kalau jatuhpun aku akan menangkapmu.” Sahut Gara sambil tersenyum kearah Hinata.
Hinata terlihat canggung, tapi tak bisa berbuat apa-apa diatas pasir tebang itu.
“Kemarilah!!” Gaara meminta Hinata untuk berada didepannya dan Gaara memegangi Hinata.
“Ttttaa…tttaa…pii.” Hinata gugup dan memejamkan mata.
“Jangan takut,… sekarang cobalah buka matamu.”
Hinata akhirnya mencoba memberanikan diri untuk membuka mata. Ia melihat pemandangan desa Konoha dari udara yang begitu indah. Ini pertama kalinya ia terbang setinggi itu dengan pasir terbang.
Beberapa orang dibawanya yang melihat itu mencoba mengenali siapa yang sedang terbang diatasnya.
“indah sekali..” Hinata terkesan.
“Kau suka??” Tanya Gaara.
Hinata mengangguk.
“Kalau begitu kita tingkatkan level keberanianmu!”
“Apa??” Hinata penasaran.
Gaara mencoba memutar pasir terbangnya 360 derajat sehingga Hinata sangat terkejut dan berteriak karena itu. Dia menggenggam tangan Gaara dengan kuat karenanya.
“Kau jahat sekali, aku sampai takut.” Seru Hinata sambil tersenyum simpul.
“Mau kuulangi sekali lagi??” Gaara menggoda.
“Jangan… jangan.” Hinata mencoba meyakinkan Gaara untuk tidak mengulanginya, tapi ia mendapati Gaara menatap kedalam matanya.
Gaara mencoba menyampaikan lewat pandangan matanya sebuah perasaan dalam hatinya untuk Hinata tanpa ia sadari. Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.
Hinata tertunduk, semburat merah jambu sedikit mewarnai wajah bulatnya.
Gaara tersenyum dan kemudian kembali konsentrasi pada kendaraan terbangnya itu.

Sasuke yang telah melaporkan keberhasilan misinya itu berbincang-bincang dihalaman kantor Hokage bersama 2 anggota tim yang lain dan Kakashi sensei.  Sudah lama tim 7 tidak berkumpul jadi reuni kecil itu sangat menarik bagi satu sama lain. Tapi ternyata pembicaraan mereka mendadak teralihkan oleh pasir terbang yang melintas diatas mereka.
“ Hah… Hinata?” Sasuke mengenali seseorang yang sedang menaiki pasir terbang itu, dan orang yang lain sudah pasti pemilik senjata pasir, Gaara.
“Dasar pasangan baru.” Sahut Kakashi menggeleng.
“ Pasangan??” Ulangi  Sasuke, ia melihat kearah Naruto, “Dobe,..benarkah?”
Naruto tidak menjawab, ia memandangi pasir terbang itu yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.
“Yaa mereka terlihat sering berkencan akhir-akhir ini, aku rasa Gaara sangat tertarik pada Hinata.” Kakashi mencoba menjelaskan.
Sakura hanya tersenyum.

“……ada sesuatu yang hilang saat kau tak bisa bersama atau memilikinya. Dan kau merasa menemukan sesuatu saat kau bersamanya tanpa banyak melakukan sesuatu. Kau cemburu, merasa marah saat kau melihatnya dimiliki atau bersama dengan orang lain……”

Kalimat itu kemudian muncul lagi di kepala Naruto.

“Kakashi Sensei, Sakura, Teme,… aku pulang dulu. Maaf aku ada urusan lain. Jaa.” Naruto pamit meninggalkan mereka bertiga.

Naruto meninggalkan timnya dengan kebingungan. Tidak biasanya dia seperti itu. Naruto berjalan menuju apartemen kecilnya. Tapi ternyata kakinya tidak dikontrol oleh pikirannya. Tak tahu mengapa kaki itu malah berhenti didepan sebuah dojo besar yang megah, kediaman Hyuga. Dojo besar itu terlihat sepi, tidak terdengar siapapun bersuara dari dalam. Atau bahkan Naruto tidak merasakan chakra Hinata.
Mungkin Hinata belum sampai dirumah itu yang dibilang Naruto pada dirinya sendiri. Naruto mencoba bersandar di tiang listrik dekat pintu masuk dojo itu. Disana dia mencoba untuk menunggu kepulangan Hinata.

1 jam… 2jam….
Akhirnya Naruto melihat Hinata berjalan dari arah kejauhan. Tentu saja tidak sendiri, Gaara ada di sampingnya. Sesampainya didepan pintu Gaara berpamitan pada Hinata. Ketika Hinata berbalik dan hendak memasuki pintu itu, Naruto memanggilnya.
“Hinata,…!!!” Panggil Naruto.
Hinata menoleh kesumber suara.
“Ayo kita bicara!” ajak Naruto.
“Maaf Naruto-kun hari ini aku lelah sekali, mungkin….”
“Jangan membuat alasan lagi untuk menghindariku. “ Sela Naruto.
“Baiklah Naruto-kun ada apa?” Akhirnya Hinata menuruti pemintaan Naruto.
“Akhir-akhir ini kau kenapa Hinata? Kau bahkan tidak menjawab telpon atau membalas smsku,menolak ajakan teman-teman untuk makan dan berkumpul, di pemandian kemarinpun kau terlihat tidak menyapaku, kau marah padaku??” Tanya Naruto.
Marah?? Bolehkah aku marah??” Tanya Hinata dalam hatinya sendiri. Sebelum akhirnya Hinata bersuara, “Tidak Naruto, aku memang cukup sibuk akhir-akhir ini. Gaara memberiku beberapa pekerjaan tambahan jadi aku lebih sibuk dari biasanya.”
“Oh jadi Gaara ya,… akan ku katakan padanya kalau jangan memberimu tugas lagi. Supaya kau tidak terlalu sibuk.”
“Naruto, bukan begitu,…”
“Kenapa?? Kau melarangku bicara seperti itu, apa kau senang bisa terus bersamanya?” Nada bicara Naruto mulai sedikit meninggi.
Hinata terdiam. Naruto melanjutkan, “Kulihat Gaara tertarik padamu. Apa kau juga menyukainya, Hinata??”
Hinata tak menjawab dan membiarkan beberapa detik senyap ada diantara mereka berdua.
“Apa kau menyukai Gaara, Hinata?” Ulangi Naruto sekali lagi dan memecah keheningan.
“Naruto-kun,…”
“Yaa,…”
“Pulanglah,… Sakura mungkin akan berprasangka buruk padaku,…” Hinata mulai melangkah untuk memasuki pintu rumahnya tapi Naruto memegang tangannya dan menghalangi.
“Kenapa kau peduli pada perasaan orang lain? Yang aku tanyakan saat ini adalah tentang perasaanmu sendiri. Kenapa kau tak mau menjawabnya Hinata?” Naruto mempertegas keingintahuannya.
“Naruto-kun,…Sakura akan,…”
“Baiklah, apa ini semua karena Sakura?? Kau menghindariku karena Sakura?? Kalau begitu aku akan segera memutuskannya!” Kata Naruto sambil menatap Hinata.
Sontak Hinata terkejut mendengarnya.  Iris matanya membesar dan menatap mata blue sapphire didepannya itu.
“Itu yang kau mau agar mau menemuiku lagi??”
“Naruto, aku….”
“Aku akan memutuskan Sakura, temui aku besok di taman konoha sepulang kau mengajar dari akademi.” Tukas Naruto yang melepas tangan Hinata dan segera berlalu.

Malam begitu panjang kala itu, Hinata tak hentinya menghitung detik yang berputar di jam dinding kamarnya. Sementara Naruto begitu gelisah menunggu kedatangan Sakura. Yang pasti Sakura sedang tidak bersama Naruto, jika Sasuke sedang ada di desa sudah pasti Sakura akan mengikutinya kemana-mana.
“Sakura-chan” Naruto memanggil nama itu ketika sosoknya mednekati dirinya, “Ayo kita bicara.!”
“Ada apa malam-malam begini menunggu didepan rumahku? Aku baru saja pulang kencan dengan Sasuke.?”
“Iya aku tahu,… karena itu aku merelakanmu dengan Teme.”
Sakura cukup terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Naruto dan membiarkan Naruto melanjutkannya.
“Aku pikir, dengan pacaran denganmu aku bisa bahagia karena aku mencintaimu. Jalan-jalan, menghabiskan waktu dneganmu, pergi kencan, atau mungkin mencoba mengatakan hal romantic. Ternyata itu salah….aku tidak bisa melakukannya. Aku malah merasa tidak menemukan apapun saat bersamamu, dan semakin merasakan kehilangan,…”
“Hinata??” Potong Sakura sambil tersenyum. “Akhirnya kau sadar ya…” Sakura semakin memperlebar senyumnya.
“Eh…kok bisa tahu??” Naruto keheranan sambil menggaruk kepalanya.
“Aku menerimamu memang sengaja,supaya kau bisa menemukan perasaanmu yg sebenarnya memang untuk Hinata. Tapi kau memang terlihat sangat obsesif dan tidak bisa tahu betul perasaanmu jadi aku berpikir aku harus membetulkan cara berpikirmu dan benar kan kalau kau menyukainya. Lagipula Hinata sangat mencintaimu Naruto, dan itu tidak diragukan lagi. Menurutmu siapa lagi yang memebersihkan kamarmu saat kau pergi, yang mengirimkan beberapa ramen instant, susu dan buah-buahan di gantungan pintu kamar apartemenmu tanpa ada yang mengetahuinya kalau bukan dia. Kalau kau memergokinya waktu itu dia mungkin bisa langsung pingsan,…hahaha tapi sudahlah, yang penting kau sudah mengerti perasaannya.”
“Tapii… bagaimana ya,..??” Naruto terlihat frustasi.
“Ada apa?? Kau belum yakin juga?”
“Yang belum yakin Hinata. Bagaimana kalau dia menolakku, besok dattebayo?”
“Kau berencana mengatakannya besok?”
“Aku memang  janji menemuinya stelah memutuskanmu besok setelah dia pulang mengajar, tapi aku tidak tahu apa pasti besok kukatakan atau tidak.”
“Tentu kau harus mengatakannya! Hinata sudah menunggumu bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya kau sadar.Jadi kau juga harus mengatakan perasaanmu padanya.”
“Yooshh!!! Baiklah aku akan mengatakannya besok dattebayo!!”Naruto segera pergi dengan bersemangat. Ia tak sabar menunggu besok.

***

Naruto berjalan menuju tempat yang dituju untuk Hinata datangi,Lapangan Konoha.  Ia melihat Hinata tampak disana, sedang duduk di sebuah ayunan.  Mungkin sudah lama ia datang sebelum Naruto, tapi tidak sedikitpun terlihat gelisah. Mungkin Hinata memang sudah terbiasa untuk menunggu kedatangan Naruto.
“Hai hinata,…” Sapa Naruto.
“…Naa..ruto kun kau sudah datang.” Hinata sedikit terkejut melihat Naruto didepannya, memebuat semua hemoglobin ditubuhnya berkumpul di wajahnya.
“Aku terlambat, maaf ya,…” Ucap naruto.
Hinata menggeleng, tanda ia memaklumi tindakan Naruto.
Naruto duduk di ayaunan yang ada disebelah Hinata, menyamankan duduknya dan bermain ayunan.
“Aku,…sudah putus dengan Sakura-chan.” Sahut Naruto sambil mengayunkan ayunannya pelan.
Hinata tidak menjawab,dia hanya melemparkan sebuah pandangan kearah Naruto dengan penuh pertanyaan didalamnya.
“Seperti yang kubilang padamu tadi malam, Hinata.”
Naruto tak mampu melanjutkan lagi kalimatnya, begitupun Hinata. Untuk pertama kalinya Naruto tidak memulai atau mengatakan apapun dan memilih untuk diam tanpa suara. Tatapan mata Hinata yang begitu teduh dan sayu membuat Naruto kian tenggelam kedalamnya. Jantung Naruto berdegup dengan kencang untuk pertama kali karenanya. Tak ada kata ataupun suara yang keluar dari mulut dua orang yang saling bertatapan itu. Hanya detak jantung mereka masing-masing yang kian tak teratur dan semakin cepat.
“E….e…ee…. Hinata.” Naruto mecoba memecah keheningan sebelum degupan jantungnya itu mendahuluinya untuk memecah keheningan. “ Ayo makan ramen di ichiraku, aku lapar.” Ucapnya sambil menggaruk kepalanya dan menampakkan muka bodohnya.
Hinata memerah lalu menunduk sambil tersenyum. “Baik.”
Naruto berjalan didepan Hinata sambil meletakkan kedua tanggan dibelakang kepalanya. Sesekali ia melihat Hinata dibelakangnya, tapi itu malah membuat degup jantungnya tidak karuan lagi.
Ditengah jalan Naruto menyadari ada sesuatu aneh yang mengikutinya, gumpalan pasir terbang dan tidak salah lagi pasti Gaara.
“Hinata!!!” Teriak Gaara sembari turun dari gumpalan pasir terbangnya.
“Oh,…Ga…Raa. Selamat siang.” Sapa Hinata.
“Aku mencarimu ke akademi, ternyata kau sudah pergi.” Ucap Gaara.
“Ada apa memangnya mencari Hinata? Hinata bukan pembantumu datebayo??” Sahut naruto setengah kesal.
Gaara tidak menjawab, ia segera berlutut didepan Hinata dan mengeluarkan sekuntum mawar merah dari balik bajunya lalu memberikan sekuntum mawar merah untuk Hinata.
“Jadilah milikku Hinata, aku akan menjagamu dengan semua kemampuanku.” Ucap Gaara kepada Hinata.
“Hah….??? A…a..paa??” Hinata terbata-bata bingung dan memerah. Iya bingung harus bagaimana. Gaara mengungkapkan perasaannya didepan Naruto. Bukan hanya itu, semua orang yang tengah ada di jalan konoha menjadi tertarik dengan apa yang terjadi. Itu membuat Hinata tak tahu bersikap apa.
Naruto mengepalkan tangannya, menahan kecewa.
Gaara memberi isyarat pada pasir-pasirnya untuk membentuk sebuah tulisan dilangit. “ Marry Me”
Dan itu semakin membuat Hinata terkejut dan kebingungan.Garaa tersenyum dan kemudian mengelaurkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah cincin permata berwarna lavender yang ia persembahkan untuk gadis indigo dihadapannya.
“Terimalah aku, Hinata.” Ucap Gaara lagi.

Hinata menelan ludahnya, mengatur nafas dan mencoba mengatur jantungnya yang tidak berhenti berdegup semakin kencang dan panik. Melihat sekelilingnya yang mulai riuh menyorakkan kalimat-kalimat dukungan untuk Gaara.
“Terima,….Terima,…!!!!”
“Beruntungnya gadis itu dilamar oleh Kazekage.”
“Wah lihat itu cincin berlian, romantisnya pria itu!!”
Hinata melihat Naruto yang menunduk dan menguasai dirinya.
Hinata tak mampu menjawab, ia masih bungkam.

Gaara segera memasangkan cincin itu di jari manis Hinata. Mata Hinata membelalak melihat Gaara bangkit dan menggenggam tangannya lalu diciumnya tangan itu. Seketika sorak-sorak orang didesa konoha semakin mengema. Hinata tidak mampu berkata apapun mendadak menjadi bisu. Naruto yang melihat itu segera berlalu pergi dan berlari sambil tertunduk. Hinata hanya bisa terdiam mematung tak punya kekuatan. Ia merasa kakinya lemas dan matanya kian gelap. Perlahan ia mendapati tubuhnya kian ringan. Dan suara-suara sorakan itu menghilang dengan tubuhnya yang akan terkapar ditanah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar