Naru-Hina Fanfiction
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 3
Perasaan Yang Sebenarnya
Perasaan Yang Sebenarnya
Beberapa hari berlalu.
Jika Naruto mencoba mengingat
kata-kata temannya perutnya terasa begitu penuh hingga ia tak ingin makan apapun
bahkan Ramen sekalipun. Jadi ia memutuskan untuk tidak mengingat-ngingat
lagi. Ia mencoba menmandangi Sakura yang
berjalan disebelahnya. Terlihat cerah dan sangat bersemangat sekali hari ini
gadis itu. Bagaimana tidak. Hari ini
Sasuke kembali dari misinya. Dan Sakura sangat bahagia mendengar kabar itu dari
Rokudaime, Kakashi Sensei. Naruto tentu ikut bahagia ketika mendengar kabar itu
juga, dan berniat minta traktir makanan enak pada sahabat yang merangkap
saingan abadinya itu. Sosok yang ditunggu-tunggu itupun kian terlihat memasuki
pintu gerbang Konohagakure.
Seketika Sakura melesat kearah Sasuke
dan memeluknya, “ Kyaaaa….Sasuke-kun” Sakura senang sekali.
Naruto yang melihat sakura kegirangan
hanya mampu meyeringai.
“Okaeri,Teme .Kau sudah pulang, ya.” Naruto menyapa Sasuke sambil mengepalkan tinjunya pelan kearah tangan Sasuke yang juga membalas hal yang sama.
“Okaeri,Teme .Kau sudah pulang, ya.” Naruto menyapa Sasuke sambil mengepalkan tinjunya pelan kearah tangan Sasuke yang juga membalas hal yang sama.
Sakura mendadak merasa tidak nyaman,
bagaimana jika Naruto mencoba mengatakan kalau Sakura sekarang jadi pacarnya.
Sehingga, sakura merasa harus terus berada diantara keduanya untuk beberapa
waktu.
“Dobe, matamu kenapa? Kurang tidur.”
Tanya Sasuke.
“Oh.. ya mungkin karena semalam aku
mencoba menantang Shikamaru bermain Shogi.” Tukas Naruto.
“Melawan Shikamaru, … Kau pasti kalah”
Jawab Sasuke.
Lalu mereka saling tersenyum satu sama
lain.
Mereka bercakap-cakap sambil berjalan
menuju Kantor Rokudaime Hokage untuk melapor. Yahh, kakashi sensei akan sangat
senang jika Sasuke membawa pulang berita tentang keberhasilan misi itu.
Ditambah lagi ketiganya adalah tim 7 yang sangat disayangi Kakashi.
***
“Hinata,… Ayo pergi!” Ajak Gaara yang
mendadak muncul dihadapan Hinata, beberapa saat setelah Hinata selesai mengajar
di Akademi.
“Kemana?” Tanya Hinata
“Kita akan pergi jalan-jalan, tapi
kali ini aku akan mengajakmu menaiki pasirku.”
Mulut Hinata terbuka dan masih kebingungan. Tapi Gaara sudah menarik tangannya untuk naik keatas pasir.
Mulut Hinata terbuka dan masih kebingungan. Tapi Gaara sudah menarik tangannya untuk naik keatas pasir.
“Ayooo!!” Gaara bersemangat.
“Kyaaaa!!!! Aku takut Gaaraa…Ini cepat
sekali bisakah kita lebih pelan??”
“Tenang saja Hinata kau tidak akan jatuh,… kalau jatuhpun aku akan menangkapmu.” Sahut Gara sambil tersenyum kearah Hinata.
“Tenang saja Hinata kau tidak akan jatuh,… kalau jatuhpun aku akan menangkapmu.” Sahut Gara sambil tersenyum kearah Hinata.
Hinata terlihat canggung, tapi tak
bisa berbuat apa-apa diatas pasir tebang itu.
“Kemarilah!!” Gaara meminta Hinata
untuk berada didepannya dan Gaara memegangi Hinata.
“Ttttaa…tttaa…pii.” Hinata gugup dan
memejamkan mata.
“Jangan takut,… sekarang cobalah buka
matamu.”
Hinata akhirnya mencoba memberanikan
diri untuk membuka mata. Ia melihat pemandangan desa Konoha dari udara yang
begitu indah. Ini pertama kalinya ia terbang setinggi itu dengan pasir terbang.
Beberapa orang dibawanya yang melihat
itu mencoba mengenali siapa yang sedang terbang diatasnya.
“indah sekali..” Hinata terkesan.
“Kau suka??” Tanya Gaara.
Hinata mengangguk.
“Kalau begitu kita tingkatkan level
keberanianmu!”
“Apa??” Hinata penasaran.
“Apa??” Hinata penasaran.
Gaara mencoba memutar pasir terbangnya
360 derajat sehingga Hinata sangat terkejut dan berteriak karena itu. Dia
menggenggam tangan Gaara dengan kuat karenanya.
“Kau jahat sekali, aku sampai takut.”
Seru Hinata sambil tersenyum simpul.
“Mau kuulangi sekali lagi??” Gaara
menggoda.
“Jangan… jangan.” Hinata mencoba
meyakinkan Gaara untuk tidak mengulanginya, tapi ia mendapati Gaara menatap
kedalam matanya.
Gaara mencoba menyampaikan lewat
pandangan matanya sebuah perasaan dalam hatinya untuk Hinata tanpa ia sadari.
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.
Hinata tertunduk, semburat merah jambu
sedikit mewarnai wajah bulatnya.
Gaara tersenyum dan kemudian kembali
konsentrasi pada kendaraan terbangnya itu.
Sasuke yang telah melaporkan
keberhasilan misinya itu berbincang-bincang dihalaman kantor Hokage bersama 2
anggota tim yang lain dan Kakashi sensei. Sudah lama tim 7 tidak berkumpul jadi reuni
kecil itu sangat menarik bagi satu sama lain. Tapi ternyata pembicaraan mereka
mendadak teralihkan oleh pasir terbang yang melintas diatas mereka.
“ Hah… Hinata?” Sasuke mengenali
seseorang yang sedang menaiki pasir terbang itu, dan orang yang lain sudah
pasti pemilik senjata pasir, Gaara.
“Dasar pasangan baru.” Sahut Kakashi
menggeleng.
“ Pasangan??” Ulangi Sasuke, ia melihat kearah Naruto,
“Dobe,..benarkah?”
Naruto tidak menjawab, ia memandangi
pasir terbang itu yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.
“Yaa mereka terlihat sering berkencan
akhir-akhir ini, aku rasa Gaara sangat tertarik pada Hinata.” Kakashi mencoba
menjelaskan.
Sakura hanya tersenyum.
“……ada sesuatu yang hilang saat kau tak bisa bersama atau memilikinya.
Dan kau merasa menemukan sesuatu saat kau bersamanya tanpa banyak melakukan
sesuatu. Kau cemburu, merasa marah saat kau melihatnya dimiliki atau bersama
dengan orang lain……”
Kalimat itu kemudian muncul lagi di
kepala Naruto.
“Kakashi Sensei, Sakura, Teme,… aku
pulang dulu. Maaf aku ada urusan lain. Jaa.” Naruto pamit meninggalkan mereka
bertiga.
Naruto meninggalkan timnya dengan
kebingungan. Tidak biasanya dia seperti itu. Naruto berjalan menuju apartemen
kecilnya. Tapi ternyata kakinya tidak dikontrol oleh pikirannya. Tak tahu
mengapa kaki itu malah berhenti didepan sebuah dojo besar yang megah, kediaman
Hyuga. Dojo besar itu terlihat sepi, tidak terdengar siapapun bersuara dari
dalam. Atau bahkan Naruto tidak merasakan chakra Hinata.
Mungkin Hinata belum sampai dirumah
itu yang dibilang Naruto pada dirinya sendiri. Naruto mencoba bersandar di
tiang listrik dekat pintu masuk dojo itu. Disana dia mencoba untuk menunggu
kepulangan Hinata.
1 jam… 2jam….
Akhirnya Naruto melihat Hinata
berjalan dari arah kejauhan. Tentu saja tidak sendiri, Gaara ada di sampingnya.
Sesampainya didepan pintu Gaara berpamitan pada Hinata. Ketika Hinata berbalik
dan hendak memasuki pintu itu, Naruto memanggilnya.
“Hinata,…!!!” Panggil Naruto.
Hinata menoleh kesumber suara.
“Ayo kita bicara!” ajak Naruto.
“Maaf Naruto-kun hari ini aku lelah
sekali, mungkin….”
“Jangan membuat alasan lagi untuk
menghindariku. “ Sela Naruto.
“Baiklah Naruto-kun ada apa?” Akhirnya
Hinata menuruti pemintaan Naruto.
“Akhir-akhir ini kau kenapa Hinata?
Kau bahkan tidak menjawab telpon atau membalas smsku,menolak ajakan teman-teman
untuk makan dan berkumpul, di pemandian kemarinpun kau terlihat tidak
menyapaku, kau marah padaku??” Tanya Naruto.
“Marah??
Bolehkah aku marah??” Tanya Hinata dalam hatinya sendiri. Sebelum akhirnya
Hinata bersuara, “Tidak Naruto, aku memang cukup sibuk akhir-akhir ini. Gaara
memberiku beberapa pekerjaan tambahan jadi aku lebih sibuk dari biasanya.”
“Oh jadi Gaara ya,… akan ku katakan
padanya kalau jangan memberimu tugas lagi. Supaya kau tidak terlalu sibuk.”
“Naruto, bukan begitu,…”
“Kenapa?? Kau melarangku bicara seperti itu, apa kau senang bisa terus bersamanya?” Nada bicara Naruto mulai sedikit meninggi.
“Kenapa?? Kau melarangku bicara seperti itu, apa kau senang bisa terus bersamanya?” Nada bicara Naruto mulai sedikit meninggi.
Hinata terdiam. Naruto melanjutkan, “Kulihat
Gaara tertarik padamu. Apa kau juga menyukainya, Hinata??”
Hinata tak menjawab dan membiarkan
beberapa detik senyap ada diantara mereka berdua.
“Apa kau menyukai Gaara, Hinata?”
Ulangi Naruto sekali lagi dan memecah keheningan.
“Naruto-kun,…”
“Yaa,…”
“Pulanglah,… Sakura mungkin akan berprasangka buruk padaku,…” Hinata mulai melangkah untuk memasuki pintu rumahnya tapi Naruto memegang tangannya dan menghalangi.
“Kenapa kau peduli pada perasaan orang lain? Yang aku tanyakan saat ini adalah tentang perasaanmu sendiri. Kenapa kau tak mau menjawabnya Hinata?” Naruto mempertegas keingintahuannya.
“Pulanglah,… Sakura mungkin akan berprasangka buruk padaku,…” Hinata mulai melangkah untuk memasuki pintu rumahnya tapi Naruto memegang tangannya dan menghalangi.
“Kenapa kau peduli pada perasaan orang lain? Yang aku tanyakan saat ini adalah tentang perasaanmu sendiri. Kenapa kau tak mau menjawabnya Hinata?” Naruto mempertegas keingintahuannya.
“Naruto-kun,…Sakura akan,…”
“Baiklah, apa ini semua karena
Sakura?? Kau menghindariku karena Sakura?? Kalau begitu aku akan segera memutuskannya!”
Kata Naruto sambil menatap Hinata.
Sontak Hinata terkejut
mendengarnya. Iris matanya membesar dan
menatap mata blue sapphire didepannya itu.
“Itu yang kau mau agar mau menemuiku
lagi??”
“Naruto, aku….”
“Aku akan memutuskan Sakura, temui aku
besok di taman konoha sepulang kau mengajar dari akademi.” Tukas Naruto yang
melepas tangan Hinata dan segera berlalu.
Malam begitu panjang kala itu, Hinata
tak hentinya menghitung detik yang berputar di jam dinding kamarnya. Sementara
Naruto begitu gelisah menunggu kedatangan Sakura. Yang pasti Sakura sedang
tidak bersama Naruto, jika Sasuke sedang ada di desa sudah pasti Sakura akan
mengikutinya kemana-mana.
“Sakura-chan” Naruto memanggil nama
itu ketika sosoknya mednekati dirinya, “Ayo kita bicara.!”
“Ada apa malam-malam begini menunggu didepan rumahku? Aku baru saja pulang kencan dengan Sasuke.?”
“Ada apa malam-malam begini menunggu didepan rumahku? Aku baru saja pulang kencan dengan Sasuke.?”
“Iya aku tahu,… karena itu aku
merelakanmu dengan Teme.”
Sakura cukup terkejut mendengar
kata-kata yang keluar dari mulut Naruto dan membiarkan Naruto melanjutkannya.
“Aku pikir, dengan pacaran denganmu
aku bisa bahagia karena aku mencintaimu. Jalan-jalan, menghabiskan waktu
dneganmu, pergi kencan, atau mungkin mencoba mengatakan hal romantic. Ternyata
itu salah….aku tidak bisa melakukannya. Aku malah merasa tidak menemukan apapun
saat bersamamu, dan semakin merasakan kehilangan,…”
“Hinata??” Potong Sakura sambil tersenyum. “Akhirnya kau sadar ya…” Sakura semakin memperlebar senyumnya.
“Hinata??” Potong Sakura sambil tersenyum. “Akhirnya kau sadar ya…” Sakura semakin memperlebar senyumnya.
“Eh…kok bisa tahu??” Naruto keheranan
sambil menggaruk kepalanya.
“Aku menerimamu memang sengaja,supaya kau bisa menemukan perasaanmu yg sebenarnya memang untuk Hinata. Tapi kau memang terlihat sangat obsesif dan tidak bisa tahu betul perasaanmu jadi aku berpikir aku harus membetulkan cara berpikirmu dan benar kan kalau kau menyukainya. Lagipula Hinata sangat mencintaimu Naruto, dan itu tidak diragukan lagi. Menurutmu siapa lagi yang memebersihkan kamarmu saat kau pergi, yang mengirimkan beberapa ramen instant, susu dan buah-buahan di gantungan pintu kamar apartemenmu tanpa ada yang mengetahuinya kalau bukan dia. Kalau kau memergokinya waktu itu dia mungkin bisa langsung pingsan,…hahaha tapi sudahlah, yang penting kau sudah mengerti perasaannya.”
“Aku menerimamu memang sengaja,supaya kau bisa menemukan perasaanmu yg sebenarnya memang untuk Hinata. Tapi kau memang terlihat sangat obsesif dan tidak bisa tahu betul perasaanmu jadi aku berpikir aku harus membetulkan cara berpikirmu dan benar kan kalau kau menyukainya. Lagipula Hinata sangat mencintaimu Naruto, dan itu tidak diragukan lagi. Menurutmu siapa lagi yang memebersihkan kamarmu saat kau pergi, yang mengirimkan beberapa ramen instant, susu dan buah-buahan di gantungan pintu kamar apartemenmu tanpa ada yang mengetahuinya kalau bukan dia. Kalau kau memergokinya waktu itu dia mungkin bisa langsung pingsan,…hahaha tapi sudahlah, yang penting kau sudah mengerti perasaannya.”
“Tapii… bagaimana ya,..??” Naruto
terlihat frustasi.
“Ada apa?? Kau belum yakin juga?”
“Yang belum yakin Hinata. Bagaimana
kalau dia menolakku, besok dattebayo?”
“Kau berencana mengatakannya besok?”
“Aku memang janji menemuinya stelah memutuskanmu besok
setelah dia pulang mengajar, tapi aku tidak tahu apa pasti besok kukatakan atau
tidak.”
“Tentu kau harus mengatakannya! Hinata
sudah menunggumu bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya kau sadar.Jadi kau juga
harus mengatakan perasaanmu padanya.”
“Yooshh!!! Baiklah aku akan mengatakannya
besok dattebayo!!”Naruto segera pergi dengan bersemangat. Ia tak sabar menunggu
besok.
***
Naruto berjalan menuju tempat yang
dituju untuk Hinata datangi,Lapangan Konoha. Ia melihat Hinata tampak disana, sedang duduk
di sebuah ayunan. Mungkin sudah lama ia
datang sebelum Naruto, tapi tidak sedikitpun terlihat gelisah. Mungkin Hinata
memang sudah terbiasa untuk menunggu kedatangan Naruto.
“Hai hinata,…” Sapa Naruto.
“…Naa..ruto kun kau sudah datang.”
Hinata sedikit terkejut melihat Naruto didepannya, memebuat semua hemoglobin
ditubuhnya berkumpul di wajahnya.
“Aku terlambat, maaf ya,…” Ucap
naruto.
Hinata menggeleng, tanda ia memaklumi
tindakan Naruto.
Naruto duduk di ayaunan yang ada
disebelah Hinata, menyamankan duduknya dan bermain ayunan.
“Aku,…sudah putus dengan Sakura-chan.”
Sahut Naruto sambil mengayunkan ayunannya pelan.
Hinata tidak menjawab,dia hanya
melemparkan sebuah pandangan kearah Naruto dengan penuh pertanyaan didalamnya.
“Seperti yang kubilang padamu tadi
malam, Hinata.”
Naruto tak mampu melanjutkan lagi
kalimatnya, begitupun Hinata. Untuk pertama kalinya Naruto tidak memulai atau
mengatakan apapun dan memilih untuk diam tanpa suara. Tatapan mata Hinata yang
begitu teduh dan sayu membuat Naruto kian tenggelam kedalamnya. Jantung Naruto
berdegup dengan kencang untuk pertama kali karenanya. Tak ada kata ataupun
suara yang keluar dari mulut dua orang yang saling bertatapan itu. Hanya detak
jantung mereka masing-masing yang kian tak teratur dan semakin cepat.
“E….e…ee…. Hinata.” Naruto mecoba
memecah keheningan sebelum degupan jantungnya itu mendahuluinya untuk memecah
keheningan. “ Ayo makan ramen di ichiraku, aku lapar.” Ucapnya sambil menggaruk
kepalanya dan menampakkan muka bodohnya.
Hinata memerah lalu menunduk sambil
tersenyum. “Baik.”
Naruto berjalan didepan Hinata sambil
meletakkan kedua tanggan dibelakang kepalanya. Sesekali ia melihat Hinata
dibelakangnya, tapi itu malah membuat degup jantungnya tidak karuan lagi.
Ditengah jalan Naruto menyadari ada
sesuatu aneh yang mengikutinya, gumpalan pasir terbang dan tidak salah lagi
pasti Gaara.
“Hinata!!!” Teriak Gaara sembari turun
dari gumpalan pasir terbangnya.
“Oh,…Ga…Raa. Selamat siang.” Sapa
Hinata.
“Aku mencarimu ke akademi, ternyata
kau sudah pergi.” Ucap Gaara.
“Ada apa memangnya mencari Hinata?
Hinata bukan pembantumu datebayo??” Sahut naruto setengah kesal.
Gaara tidak menjawab, ia segera
berlutut didepan Hinata dan mengeluarkan sekuntum mawar merah dari balik
bajunya lalu memberikan sekuntum mawar merah untuk Hinata.
“Jadilah milikku Hinata, aku akan
menjagamu dengan semua kemampuanku.” Ucap Gaara kepada Hinata.
“Hah….??? A…a..paa??” Hinata
terbata-bata bingung dan memerah. Iya bingung harus bagaimana. Gaara
mengungkapkan perasaannya didepan Naruto. Bukan hanya itu, semua orang yang
tengah ada di jalan konoha menjadi tertarik dengan apa yang terjadi. Itu membuat
Hinata tak tahu bersikap apa.
Naruto mengepalkan tangannya, menahan
kecewa.
Gaara memberi isyarat pada
pasir-pasirnya untuk membentuk sebuah tulisan dilangit. “ Marry Me”
Dan itu semakin membuat Hinata
terkejut dan kebingungan.Garaa tersenyum dan kemudian mengelaurkan sesuatu dari
kantongnya. Sebuah cincin permata berwarna lavender yang ia persembahkan untuk
gadis indigo dihadapannya.
“Terimalah aku, Hinata.” Ucap Gaara
lagi.
Hinata menelan ludahnya, mengatur
nafas dan mencoba mengatur jantungnya yang tidak berhenti berdegup semakin
kencang dan panik. Melihat sekelilingnya yang mulai riuh menyorakkan
kalimat-kalimat dukungan untuk Gaara.
“Terima,….Terima,…!!!!”
“Beruntungnya gadis itu dilamar oleh
Kazekage.”
“Wah lihat itu cincin berlian,
romantisnya pria itu!!”
Hinata melihat Naruto yang menunduk
dan menguasai dirinya.
Hinata tak mampu menjawab, ia masih
bungkam.
Gaara segera memasangkan cincin itu di
jari manis Hinata. Mata Hinata membelalak melihat Gaara bangkit dan menggenggam
tangannya lalu diciumnya tangan itu. Seketika sorak-sorak orang didesa konoha
semakin mengema. Hinata tidak mampu berkata apapun mendadak menjadi bisu.
Naruto yang melihat itu segera berlalu pergi dan berlari sambil tertunduk.
Hinata hanya bisa terdiam mematung tak punya kekuatan. Ia merasa kakinya lemas
dan matanya kian gelap. Perlahan ia mendapati tubuhnya kian ringan. Dan suara-suara
sorakan itu menghilang dengan tubuhnya yang akan terkapar ditanah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar