Rabu, 26 Agustus 2015

Naru-Hina Fanfiction 
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 1
Unexpressed Feelings


Hinata menyeka peluh yang menetes dari dahinya, sebelum ia mengemasi sampah dalam sebuah kantong besar untuk disingkirkan. Ia memastikan lagi tidak ada sampah yang terjatuh ataupun tersisa.
Segera ia bergegas membuka pintu dan meletakkan sampah itu ditempatnya.
Hari sudah sore, ia mencoba melihat sekelilingnya. Tak ada satu orang pun yang melihatnya melakukan hal ini. Seperti biasa apartemenmungil Naruto memang selalu sepi.
“Hari ini dia akan datang,…” bisiknya lirih lalu kembali menutup pintu kamar apartemen itu.

Setelah perang dunia ninja ke empat Naruto tak henti-hentinya menjalankan misi tingkat S. sehingga Hinata tak punya cukup waktu untuk bertemu apalagi berbincang dengannya. Hinata yang selalu merindukan pria bermata sapphire itu selalu datang ke apartemennya saat rindu mendesir di hatinya. Tentu dia berani melakukan hal itu,…karena Naruto tidak berada ditempat jadi dia tidak akan pernah malu saat pemilik kamar itu tidak ada. Hinata kembali melihat kesekeliling ruangan, ia mendapati sebuah foto yang berbingkai. Ada Naruto didalamnya, foto tim 7 . ia membelai foto naruto kecil disana sambil tersenyum.  Sebelum akhirnya menghela nafas panjang yang berat.
“Sakura,…” bisiknya sambil menatap gadis kecil disebelah naruto dalam foto itu.

Tak mau larut dalam kebimbangannya sendiri, Hinata berfikir kalau mungkin Naruto akan segera datang. Dia mungkin bisa jadi kepiting rebus mendadak atau nyaris pingsan saat bertemu Naruto jadi mungkin sebaiknya dia harus segera pergi.
“owhya,… kalau baru pulang dari misi…..mungkin naruto lapar.” Hinata segera meletakkan beberapa ramen instant dan air panas dalam termos itu. Jika saja naruto datang dan kelelahan ia tidak perlu merebus air.

“Tadaima” Teriak seseorang dari luar pintu.
Segera hinata meloncat kearah jendela dan bersembunyi di balik dinding jendela itu.

“Okaeri ,… Naruto. Akhirnya kau pulang.”  Hinata tersenyum sebelum akhirnya meloncati atap dan segera menghilang dari apartemen naruto.

“ Wah, …. Sudah lama kutinggal pergi kamarku jadi bersih begini???” Seringai Naruto. “ Pasti Konohamaru yang melakukannya.” Naruto melihat beberapa Ramen yang ada dimeja dia segera membuka Ramen gelas dan menuang air panas kedalamnya lalu ia segera pergi mandi. Dia akan segera menyantapnya setelah badannya bersih.

****
Hinata sangat senang,karena Naruto sudah pulang kembali. Dia melihat sebuah artikel di Koran tentang keberhasilan Naruto dalam misi kali ini. Seperti biasa yang dia lakukan, menggunting dan menandai hal-hal tentang Naruto lalu menempelkannya dalam diary nya.
“Nee-chan, tousan memanggilmu.” Hanabi membuka pintu kamar kakaknya dan memanggil kakaknyaitu
“ Baik. “ Jawab Hinata sambil tersenyum pada Hanabi.

“Ada apa tousan memanggilku kemari??” Tanya hinata pada ayahnya.
“Hmm, duduklah. Aku ingin bicara” Ayah Hinata menyuruh Hinata duduk dan hinata pun menurut, seperti biasa Hiashi memanglah orang yang terkesan kaku dan tak banyak bicara. Hinatapun jarang terlibat pembicaraan dengan ayahnya sendiri.
“ Tahun ini kau sudah 18 tahun kan??”
Hinata menangguk, Hiashi melanjutkan.
“Kau sudah dewasa. Berfikirlah tentang seorang pria baik yang akan menikahimu. Kau sudah punya??” Tanya hiashi to the point.
Sontak hinata terkejut, “Ano…ano….ttt..tousan aku belum berani memikirkan hal itu,…ano…” sangat jarang ayahnya membicarakan hal-hal selain misi dan latihan. Apalagi ini tentang seorang pria.
“Hinata, aku tahu bukan mungkin ayah yang baik, aku sempat mengabaikanmu. Tapi sekarang sudah tidak lagi demikian. Kau harus temukan seorang pria yang akan mendampingi hidupmu, yang baik dan mampu menjagamu. “
“……….” Hinata hanya tertunduk dan terdiam
“Apa ayah perlu mengenalkamu pada sesorang???”
“ttt…tou..saan……” Hinata terbata-bata dan tak mampu melanjutkan lagi.
“Baiklah,… katakan padanya aku ingin bertemu dengannya. Aku yakin kau pasti sudah punya seseorang itu dalam hatimu bukan??”
“Baa….ik ayah” Hinata menjawab dengan suara yang berat. Sementara Hiashi pergi meninggalkan ruangan itu.

Hinata tidak tahu harus bagaimana. Naruto mungkin sudah tahu perasaannya ketika hinata mencoba menyelamatkannya saat bertarung dengan Pain, tapi Naruto tetap dingin-dingin saja.
Hinata sendiri tidak mengetahui bagaimana perasaan Naruto terhadapnya. Naruto selalu membiacarakan hal-hal biasa yang dibicarakan teman, kabar, angin cuaca,sibuk apa akhir-akhir ini. Hanya itu.  Tidak…bukan hanya itu. Naruto bahkan tidak peduli pada perasaan Hinata, Naruto selalu meminta saran dari Hinata tentang apa yang harus dia lakukan agar Sakura mau kencan dengannya.
Dan itu lebih membuat hati hinata semakin nyeri. Tapi apa lagi yang bisa dilakukannya,… selain menyarankan Naruto untuk terus maju meyakini perasaan cinta dan hati kecilnya.jadi bagaimana mungkin dia membawa naruto pulang kerumahnya untuk dikenalkan sebagai calon suami kepada Ayahnya itu.
“Nee-chan ayah memintamu menikah ya??”
“Hanabi,…aku harus bagaimana??” Hinata terlihat cukup putus asa dengan permintaan ayahnya.
“Nee-chan, kenapa tidak mencoba mengatakan hal ini padanya? Mungkin Kak Naruto akan mau jadi pasanganmu.”
“Entahlah Hanabi,…apa aku mampu mengutarakannya lagi. Aku sudah pernah mengatakannya, tapi Naruto sepertinya tidak peduli.”
“Cobalah Nee-chan,… tidak ada salahnya mencoba kembali kan??? Daripada ayah harus mengenalkanmu dengan cowok gak jelas yang jelek . atau bagaimana kalau dy adalah seorang cowok yang menyebalkan… sudahlah cobalah lagi Nee-chan??”
“huft.. baiklah. Akan kutemui naruto besok” semoga dia akan mengerti perasaannya.

***
Pagi yang sibuk bagi Hinata, ia menyiapkan bento dan membuat sebuah hidangan yang menarik didalamnya. Memasang Naruto di Onikiri yang dibentuk seperti Naruto. Sama seperti yang dilakukannya saat misi bersama naruto dulu bersama Kiba dan juga Shino. Naruto sempat mengatakan kalau Hinata akan menjadi seorang istri yang baik suatu hari nanti, dan hinata tersipu mendengarnya. Setelah bento dibungkus hinata berniat pergi menemui Naruto dirumahnya. Mungkin sepagi ini Hinata akan menemui pria yang dicintainya itu masih tidur dengan topi bodohnya.

Tapi ternyata tidak demikian ternyata. Ditengah perjalanan kerumah Naruto ia melihat sosok Naruto tengah memilih-milih bunga di toko bunga milik Ino.
“ Heh… Ino kau tidak punya bunga Sakura ya???” Tanya naruto pada Ino.
“Baka. Ini musim apa??? Mana mungkin ada bunga sakura di musim gugur! Tanam saja sendiri!”
‘Iya…iyaa ini namanya bunga apa?” Tanya Naruto pada Ino sambil menunjuk sebuah bunga kecil berwarna ungu.
“ Itu bunga Lavender. Itu adalah symbol cinta yang mendalam, ketenangan dan juga keanggunan.”
“ Bunganya terlalu kecil, tidak menarik,…. Hemmm… seperti warna mata Hinata ya??” kata Naruto,” warnanya ungu. Tapi aku butuh bunga untuk mengungkapkan cinta, cepat berikan padaku!”
“Kalau memang mau mengungkapkan cinta tentu kau harus bawa mawar merah!”
“Baiklah, ino kuterima saranmu.”
Setelah ber adu tawar dengan Ino tentang harga sebuah bunga akhirnya Naruto segera pergi dari toko itu. Ia tidak tahu kalau Hinata mengikutinya dari belakang. Ia melihat Naruto tampak sangat bersemangat. Ia menuju sebuah taman bermain. Dan Sakura sedang duduk disana sendirian.

“Sakura chan…!!” Teriak naruto yang berlari menghampiri Sakura begitu ia menemukan sosoknya.
Sakura mengepalkan tangannya, kemudian dia memukul kepala naruto “Baka!! Kau ini menyuruhku datang pagi- pagi sekali tapi malah kau yang telat!!”
“hehe,… iyaa…iyaa maaf  Sakura.” Jawab Naruto.” Ini untukmu.” Kata Naruto pada Sakura sambil menyodorkan setangkai bunga Mawar Merah yang dibelinya tadi.
Sakura terdiam memandangi bunga itu.
“Sakura,…kau tahu betul bagaimana perasaanku padamu bukan? Maukah kau jadi pacarku?? Yah aku tahu aku mungkin tidak bisa seperti Sasuke tapi bagaimana kalau kita coba pacaran. Beri aku kesempatan.”
Sakura masih tidak menjawab.
Hinata mematung ditempatnya bersembunyi ketika mendengar hal itu. Jantungnya bedetak dengan berat, sakit. Mungkin ia terkena serangan jantung kardiovaskuler mendadak hingga sangat sulit memompa paru-parunya tuk kembali bernafas normal.
“Naruto,… aku masih berharap Sasuke akan datang dan menemuiku. Dan aku tidak bisa menghapus namanya di hatiku.” Kata Sakura.
“Yahhh sakura….aku tahu. Biarkan aku disisimu, setidaknya biarkan aku mencoba. Kita tidak tahu kapan Sasuke kembali. Dan kaupun tidak tahu bagaimana perasaan Sasuke padamu. Jadi, … aku bersedia selalu ada untukmu disaat-saat itu.”
Hinata tertegun,… air matanya menetes. Tapi ia masih berharap Sakura tidak menjawabnya seperti tahun-tahun sebelumnya atau mungkin menolaknya untuk menunggu Sasuke.
Setelah bebrapa menit berpiikir, akhirnya Sakura pun mulai membuka percakapan kembali.
“Naruto,…”
“Ya,…”
“Ayo kita coba.” Kata sakura
Deg.
Hinata semakin tak mampu membendung air matanya. Ia tak lagi bisa berbuat apa-apa saat Sakura menerima tawaran Naruto.
“Benarkah kau mau Sakura dattebayo??” Naruto Sumringah.
“ ehem… “ Sakura mengangguk.

Hinata menangis lebih sesenggukan lagi, ia tak sanggup berada ditempat itu lebih lama lagi. Ia putuskan berlari. Momen bahagia bagi Naruto itu ternyata sangat menyakitinya.

“Tapi Naruto,…kalau ternyata aku masih tidak bisa mencintaimu bagaimana?? Dan aku minta putus karena sasuke pulang,….Kau tidak terluka??” Tanya sakura pada Naruto.
“Tidak apa Sakura,.. Asal kau memberi aku kesempatan akan kugunakan sebaik mungkin. Sampai kau benar-benar mampu mecintaiku dan lupa kata putus itu dattebayo!!!”
Naruto meloncat-loncat kegirangan.

***
Hinata berlari tanpa melihat siapa yang asedanga da dijalan, dia tak mampu melihat jelas. Bahkan byakugannya pun tersimpang karena air matanya sendiri. Ia tidak memiliki tempat di hati Naruto sama sekali, hanya ada Sakura selama ini.
Bruuukkk.
“Gomen ni…Gomen ni… aku tidak melihat anda dengan baik maaf sekali lagi” kata hinata ketika ia menabrak seseorang yang tidak ia sadari. Bento untu Naruto yang dibawanya pun berserakan dan berhamburan. Tak berbentuk lagi, mungkin sama seperti hatinya saat ini yang sedang kacau.
“Hinata-sama,…” Sapa orang yang ditabraknya. “Kau terlihat terburu-buru, ada apa sebenarnya?”
Hinata mengangkat kepalanya dan melihat orang itu, “Oh Kazekage-sama maaf, aku menabrakmu aku tidak melihatmu dengan jelas.”
“Kau tidak perlu memanggilku itu,… panggil saja namaku. “ Jawab Gara sambil mencoba membetukan kotak bento yg ada ditanah lalu memberikannya pada Hinata. “ kau ini lucu,ya… punya byakugan tapi tak bisa melihatku yang ada didepanmu.” Timpal Gaara.
“Gaara,… maaf aku…”
“Tidak apa-apa,aku…..”
“Maaf,.. sekali lagi maaf aku sedang terburu-buru.” Hinata memotong sambil membungkukkan badannya lalu dia segera berlari untuk sedapat mungkin sampai dirumahnya.

“Naruto-kun,… naruto-kun,…. Kenapa harus Sakura?? Apa aku tidak boleh masuk kehatimu?”
Hinata terisak dan menyembunyikan wajahnya kebantal. Ia tidak tahu lagi, mungkin kesempatannya sudah tertutup. Haruskah dia berbahagia untuk hubungan Naruto dan Sakura? Atau haruskah dia tetap maju mengutarakan perasaannya. Tapi majupun percuma jika mereka sudah bersama.
‘Kling-kling’ Handphone Hinata berdering
Hinata harusnya sumringah kerena tertulis Naruto sedang mencoba menelponnya.  Tapi ia tak mampu untuk tersenyum saat itu. Ia sebenarnya tidak ingin mengangkat telepon itu. Tapi telepon it uterus berdering. Mungkin ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan Naruto. Ia putuskan menghapus air matanya lalu mengangkat telepon itu.
“Halo Hinata!” Sapa suara itu dengan penuh Semangat.
“Oh,… Hallo Naruto kun,..” ucap Hinata parau. “Kok tumben?”
“ah… aku tidak melihatmu sejak aku pulang kemarin. Kau tidak ingin bertemu aku yaa?? Kau terdengar sakit Hinata, apa kau baik-baik saja??”
“Ya… aku baik-baik saja kok” Ucap Hinata singkat.
“ Hn,.. Kau ada waktu Hinata,… aku ingin mengajakmu makan di Ichiraku. Kau mau??” Tanya Naruto.
“ehm… Naruto, … maaf aku sedang tidak bisa keluar, tidak bisakah kita bicara lewat telepon saja?” Hinata mencoba menawarkan pilihan itu agar Naruto tidak melihat matanya yang sembab. Mungkin juga jika Hinata menerima ajakan itu ia tak mampu menguasai diri setelah kejadian yang dilihatnya tadi. Itu pertama kali dalam hidup Hinata ia menolak ajakan Naruto untuk pergi keluar bersamanya.
“Oh,… ya boleh.” Naruto mencoba mencari posisi ternyaman untuk berbicara dengan teleponnya sebelum melanjutkan. “ Hinata aku punya kabar baik. Aku jadian dengan sakura dattebayo!!”
“….”
“Kau tahu aku senang sekali,… dan aku akan berkencan dengan sakura besok.”
“ Owh itu… Selamat ya,…”
“Kau terlihat tidak bahagia hinata?? Ada apa??”
“Aku sedang terkena radang tenggorokan Naruto,.. jadi maaf aku tak banyak bicara” Hinata menyangkal.
“Owh,… kau harus banyak istirahat kalau begitu. Kalau begitu istirahatlah,… Jaa…”
“Jaa… Ne “ jawab Hinata.

Telepon ditutup dan Hinata kembali sedih lagi setelahnya. Setelah invasi Pain ke Konoha hubungan Naruto dan hinata memang jauh lebih baik. Tapi tak terjadi apa-apa dantara keduanya. Naruto menjadi lebih terbuka dan menganggap Hinata sahabatnya. Mereka sering pergi keluar makan dan jalan-jalan,jika Naruto tidak sibuk dengan misi. Hinata juga sering mengirim sms ke Naruto saat sedang senggang. Tapi tak ada yang istimewa bagi Naruto, karena dia Sakura dan Sasuke juga pernah melakukannya bersama-sama. Tentu saja Hinata merasa senang Naruto mengajaknya bertemu dan berbicara. Sementara Hinata semakin berharap kedekatan itu membuat naruto mengerti akan ketulusan cinta Hinata. Tapi ternyata tidak demikian. Sakura,…Sakura… dan Sakura yang selalu Naruto tanyakan kepada Hinata.

Hari ini hari yang berat bagi hinata. Melihat orang yang dicintainya harus jadian dengan wanita lain, dan bukan dia. Hinata seperti mendapati ada lubang besar dihatinya. Sampai-sampai ia tidak mampu untuk bangun dari tempat tidurnya untuk makan malam bersama hanabi dan ayahnya. Ia lebih memilih untuk tenggelam bersama malam dan terlelap sampai pagi menjelang.

***To be continued*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar