Disclaimer : Masashi Kishimoto
Chapter 1
Unexpressed Feelings
Hinata
menyeka peluh yang menetes dari dahinya, sebelum ia mengemasi sampah dalam
sebuah kantong besar untuk disingkirkan. Ia memastikan lagi tidak ada sampah
yang terjatuh ataupun tersisa.
Segera ia
bergegas membuka pintu dan meletakkan sampah itu ditempatnya.
Hari sudah
sore, ia mencoba melihat sekelilingnya. Tak ada satu orang pun yang melihatnya
melakukan hal ini. Seperti biasa apartemenmungil Naruto memang selalu sepi.
“Hari ini
dia akan datang,…” bisiknya lirih lalu kembali menutup pintu kamar apartemen
itu.
Setelah
perang dunia ninja ke empat Naruto tak henti-hentinya menjalankan misi tingkat
S. sehingga Hinata tak punya cukup waktu untuk bertemu apalagi berbincang
dengannya. Hinata yang selalu merindukan pria bermata sapphire itu selalu
datang ke apartemennya saat rindu mendesir di hatinya. Tentu dia berani
melakukan hal itu,…karena Naruto tidak berada ditempat jadi dia tidak akan
pernah malu saat pemilik kamar itu tidak ada. Hinata kembali melihat
kesekeliling ruangan, ia mendapati sebuah foto yang berbingkai. Ada Naruto
didalamnya, foto tim 7 . ia membelai foto naruto kecil disana sambil
tersenyum. Sebelum akhirnya menghela
nafas panjang yang berat.
“Sakura,…”
bisiknya sambil menatap gadis kecil disebelah naruto dalam foto itu.
Tak mau
larut dalam kebimbangannya sendiri, Hinata berfikir kalau mungkin Naruto akan
segera datang. Dia mungkin bisa jadi kepiting rebus mendadak atau nyaris
pingsan saat bertemu Naruto jadi mungkin sebaiknya dia harus segera pergi.
“owhya,…
kalau baru pulang dari misi…..mungkin naruto lapar.” Hinata segera meletakkan
beberapa ramen instant dan air panas dalam termos itu. Jika saja naruto datang
dan kelelahan ia tidak perlu merebus air.
“Tadaima”
Teriak seseorang dari luar pintu.
Segera
hinata meloncat kearah jendela dan bersembunyi di balik dinding jendela itu.
“Okaeri ,…
Naruto. Akhirnya kau pulang.” Hinata
tersenyum sebelum akhirnya meloncati atap dan segera menghilang dari apartemen
naruto.
“ Wah, ….
Sudah lama kutinggal pergi kamarku jadi bersih begini???” Seringai Naruto. “
Pasti Konohamaru yang melakukannya.” Naruto melihat beberapa Ramen yang ada
dimeja dia segera membuka Ramen gelas dan menuang air panas kedalamnya lalu ia
segera pergi mandi. Dia akan segera menyantapnya setelah badannya bersih.
****
Hinata
sangat senang,karena Naruto sudah pulang kembali. Dia melihat sebuah artikel di
Koran tentang keberhasilan Naruto dalam misi kali ini. Seperti biasa yang dia
lakukan, menggunting dan menandai hal-hal tentang Naruto lalu menempelkannya
dalam diary nya.
“Nee-chan,
tousan memanggilmu.” Hanabi membuka pintu kamar kakaknya dan memanggil
kakaknyaitu
“ Baik. “
Jawab Hinata sambil tersenyum pada Hanabi.
“Ada apa
tousan memanggilku kemari??” Tanya hinata pada ayahnya.
“Hmm,
duduklah. Aku ingin bicara” Ayah Hinata menyuruh Hinata duduk dan hinata pun
menurut, seperti biasa Hiashi memanglah orang yang terkesan kaku dan tak banyak
bicara. Hinatapun jarang terlibat pembicaraan dengan ayahnya sendiri.
“ Tahun ini
kau sudah 18 tahun kan??”
Hinata menangguk, Hiashi melanjutkan.
Hinata menangguk, Hiashi melanjutkan.
“Kau sudah
dewasa. Berfikirlah tentang seorang pria baik yang akan menikahimu. Kau sudah
punya??” Tanya hiashi to the point.
Sontak
hinata terkejut, “Ano…ano….ttt..tousan aku belum berani memikirkan hal
itu,…ano…” sangat jarang ayahnya membicarakan hal-hal selain misi dan latihan.
Apalagi ini tentang seorang pria.
“Hinata, aku
tahu bukan mungkin ayah yang baik, aku sempat mengabaikanmu. Tapi sekarang
sudah tidak lagi demikian. Kau harus temukan seorang pria yang akan mendampingi
hidupmu, yang baik dan mampu menjagamu. “
“……….”
Hinata hanya tertunduk dan terdiam
“Apa ayah
perlu mengenalkamu pada sesorang???”
“ttt…tou..saan……”
Hinata terbata-bata dan tak mampu melanjutkan lagi.
“Baiklah,…
katakan padanya aku ingin bertemu dengannya. Aku yakin kau pasti sudah punya
seseorang itu dalam hatimu bukan??”
“Baa….ik
ayah” Hinata menjawab dengan suara yang berat. Sementara Hiashi pergi
meninggalkan ruangan itu.
Hinata tidak
tahu harus bagaimana. Naruto mungkin sudah tahu perasaannya ketika hinata
mencoba menyelamatkannya saat bertarung dengan Pain, tapi Naruto tetap
dingin-dingin saja.
Hinata
sendiri tidak mengetahui bagaimana perasaan Naruto terhadapnya. Naruto selalu
membiacarakan hal-hal biasa yang dibicarakan teman, kabar, angin cuaca,sibuk
apa akhir-akhir ini. Hanya itu.
Tidak…bukan hanya itu. Naruto bahkan tidak peduli pada perasaan Hinata,
Naruto selalu meminta saran dari Hinata tentang apa yang harus dia lakukan agar
Sakura mau kencan dengannya.
Dan itu
lebih membuat hati hinata semakin nyeri. Tapi apa lagi yang bisa dilakukannya,…
selain menyarankan Naruto untuk terus maju meyakini perasaan cinta dan hati
kecilnya.jadi bagaimana mungkin dia membawa naruto pulang kerumahnya untuk dikenalkan
sebagai calon suami kepada Ayahnya itu.
“Nee-chan
ayah memintamu menikah ya??”
“Hanabi,…aku
harus bagaimana??” Hinata terlihat cukup putus asa dengan permintaan ayahnya.
“Nee-chan,
kenapa tidak mencoba mengatakan hal ini padanya? Mungkin Kak Naruto akan mau
jadi pasanganmu.”
“Entahlah
Hanabi,…apa aku mampu mengutarakannya lagi. Aku sudah pernah mengatakannya,
tapi Naruto sepertinya tidak peduli.”
“Cobalah
Nee-chan,… tidak ada salahnya mencoba kembali kan??? Daripada ayah harus
mengenalkanmu dengan cowok gak jelas yang jelek . atau bagaimana kalau dy
adalah seorang cowok yang menyebalkan… sudahlah cobalah lagi Nee-chan??”
“huft..
baiklah. Akan kutemui naruto besok” semoga dia akan mengerti perasaannya.
***
Pagi yang
sibuk bagi Hinata, ia menyiapkan bento dan membuat sebuah hidangan yang menarik
didalamnya. Memasang Naruto di Onikiri yang dibentuk seperti Naruto. Sama
seperti yang dilakukannya saat misi bersama naruto dulu bersama Kiba dan juga
Shino. Naruto sempat mengatakan kalau Hinata akan menjadi seorang istri yang
baik suatu hari nanti, dan hinata tersipu mendengarnya. Setelah bento dibungkus
hinata berniat pergi menemui Naruto dirumahnya. Mungkin sepagi ini Hinata akan
menemui pria yang dicintainya itu masih tidur dengan topi bodohnya.
Tapi ternyata
tidak demikian ternyata. Ditengah perjalanan kerumah Naruto ia melihat sosok
Naruto tengah memilih-milih bunga di toko bunga milik Ino.
“ Heh… Ino
kau tidak punya bunga Sakura ya???” Tanya naruto pada Ino.
“Baka. Ini
musim apa??? Mana mungkin ada bunga sakura di musim gugur! Tanam saja sendiri!”
‘Iya…iyaa
ini namanya bunga apa?” Tanya Naruto pada Ino sambil menunjuk sebuah bunga
kecil berwarna ungu.
“ Itu bunga
Lavender. Itu adalah symbol cinta yang mendalam, ketenangan dan juga
keanggunan.”
“ Bunganya
terlalu kecil, tidak menarik,…. Hemmm… seperti warna mata Hinata ya??” kata
Naruto,” warnanya ungu. Tapi aku butuh bunga untuk mengungkapkan cinta, cepat
berikan padaku!”
“Kalau
memang mau mengungkapkan cinta tentu kau harus bawa mawar merah!”
“Baiklah,
ino kuterima saranmu.”
Setelah ber
adu tawar dengan Ino tentang harga sebuah bunga akhirnya Naruto segera pergi
dari toko itu. Ia tidak tahu kalau Hinata mengikutinya dari belakang. Ia
melihat Naruto tampak sangat bersemangat. Ia menuju sebuah taman bermain. Dan
Sakura sedang duduk disana sendirian.
“Sakura
chan…!!” Teriak naruto yang berlari menghampiri Sakura begitu ia menemukan
sosoknya.
Sakura
mengepalkan tangannya, kemudian dia memukul kepala naruto “Baka!! Kau ini
menyuruhku datang pagi- pagi sekali tapi malah kau yang telat!!”
“hehe,…
iyaa…iyaa maaf Sakura.” Jawab Naruto.”
Ini untukmu.” Kata Naruto pada Sakura sambil menyodorkan setangkai bunga Mawar
Merah yang dibelinya tadi.
Sakura
terdiam memandangi bunga itu.
“Sakura,…kau
tahu betul bagaimana perasaanku padamu bukan? Maukah kau jadi pacarku?? Yah aku
tahu aku mungkin tidak bisa seperti Sasuke tapi bagaimana kalau kita coba
pacaran. Beri aku kesempatan.”
Sakura masih
tidak menjawab.
Hinata
mematung ditempatnya bersembunyi ketika mendengar hal itu. Jantungnya bedetak
dengan berat, sakit. Mungkin ia terkena serangan jantung kardiovaskuler
mendadak hingga sangat sulit memompa paru-parunya tuk kembali bernafas normal.
“Naruto,…
aku masih berharap Sasuke akan datang dan menemuiku. Dan aku tidak bisa
menghapus namanya di hatiku.” Kata Sakura.
“Yahhh
sakura….aku tahu. Biarkan aku disisimu, setidaknya biarkan aku mencoba. Kita
tidak tahu kapan Sasuke kembali. Dan kaupun tidak tahu bagaimana perasaan
Sasuke padamu. Jadi, … aku bersedia selalu ada untukmu disaat-saat itu.”
Hinata
tertegun,… air matanya menetes. Tapi ia masih berharap Sakura tidak menjawabnya
seperti tahun-tahun sebelumnya atau mungkin menolaknya untuk menunggu Sasuke.
Setelah
bebrapa menit berpiikir, akhirnya Sakura pun mulai membuka percakapan kembali.
“Naruto,…”
“Ya,…”
“Ya,…”
“Ayo kita
coba.” Kata sakura
Deg.
Hinata
semakin tak mampu membendung air matanya. Ia tak lagi bisa berbuat apa-apa saat
Sakura menerima tawaran Naruto.
“Benarkah
kau mau Sakura dattebayo??” Naruto Sumringah.
“ ehem… “
Sakura mengangguk.
Hinata
menangis lebih sesenggukan lagi, ia tak sanggup berada ditempat itu lebih lama
lagi. Ia putuskan berlari. Momen bahagia bagi Naruto itu ternyata sangat
menyakitinya.
“Tapi
Naruto,…kalau ternyata aku masih tidak bisa mencintaimu bagaimana?? Dan aku
minta putus karena sasuke pulang,….Kau tidak terluka??” Tanya sakura pada
Naruto.
“Tidak apa
Sakura,.. Asal kau memberi aku kesempatan akan kugunakan sebaik mungkin. Sampai
kau benar-benar mampu mecintaiku dan lupa kata putus itu dattebayo!!!”
Naruto
meloncat-loncat kegirangan.
***
Hinata
berlari tanpa melihat siapa yang asedanga da dijalan, dia tak mampu melihat
jelas. Bahkan byakugannya pun tersimpang karena air matanya sendiri. Ia tidak
memiliki tempat di hati Naruto sama sekali, hanya ada Sakura selama ini.
Bruuukkk.
“Gomen
ni…Gomen ni… aku tidak melihat anda dengan baik maaf sekali lagi” kata hinata
ketika ia menabrak seseorang yang tidak ia sadari. Bento untu Naruto yang
dibawanya pun berserakan dan berhamburan. Tak berbentuk lagi, mungkin sama
seperti hatinya saat ini yang sedang kacau.
“Hinata-sama,…”
Sapa orang yang ditabraknya. “Kau terlihat terburu-buru, ada apa sebenarnya?”
Hinata
mengangkat kepalanya dan melihat orang itu, “Oh Kazekage-sama maaf, aku
menabrakmu aku tidak melihatmu dengan jelas.”
“Kau tidak
perlu memanggilku itu,… panggil saja namaku. “ Jawab Gara sambil mencoba
membetukan kotak bento yg ada ditanah lalu memberikannya pada Hinata. “ kau ini
lucu,ya… punya byakugan tapi tak bisa melihatku yang ada didepanmu.” Timpal
Gaara.
“Gaara,…
maaf aku…”
“Tidak apa-apa,aku…..”
“Maaf,.. sekali lagi maaf aku sedang terburu-buru.” Hinata memotong sambil membungkukkan badannya lalu dia segera berlari untuk sedapat mungkin sampai dirumahnya.
“Tidak apa-apa,aku…..”
“Maaf,.. sekali lagi maaf aku sedang terburu-buru.” Hinata memotong sambil membungkukkan badannya lalu dia segera berlari untuk sedapat mungkin sampai dirumahnya.
“Naruto-kun,… naruto-kun,…. Kenapa harus
Sakura?? Apa aku tidak boleh masuk kehatimu?”
Hinata
terisak dan menyembunyikan wajahnya kebantal. Ia tidak tahu lagi, mungkin
kesempatannya sudah tertutup. Haruskah dia berbahagia untuk hubungan Naruto dan
Sakura? Atau haruskah dia tetap maju mengutarakan perasaannya. Tapi majupun
percuma jika mereka sudah bersama.
‘Kling-kling’
Handphone Hinata berdering
Hinata
harusnya sumringah kerena tertulis Naruto sedang mencoba menelponnya. Tapi ia tak mampu untuk tersenyum saat itu.
Ia sebenarnya tidak ingin mengangkat telepon itu. Tapi telepon it uterus
berdering. Mungkin ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan Naruto. Ia
putuskan menghapus air matanya lalu mengangkat telepon itu.
“Halo
Hinata!” Sapa suara itu dengan penuh Semangat.
“Oh,… Hallo
Naruto kun,..” ucap Hinata parau. “Kok tumben?”
“ah… aku
tidak melihatmu sejak aku pulang kemarin. Kau tidak ingin bertemu aku yaa?? Kau
terdengar sakit Hinata, apa kau baik-baik saja??”
“Ya… aku
baik-baik saja kok” Ucap Hinata singkat.
“ Hn,.. Kau
ada waktu Hinata,… aku ingin mengajakmu makan di Ichiraku. Kau mau??” Tanya
Naruto.
“ehm…
Naruto, … maaf aku sedang tidak bisa keluar, tidak bisakah kita bicara lewat
telepon saja?” Hinata mencoba menawarkan pilihan itu agar Naruto tidak melihat
matanya yang sembab. Mungkin juga jika Hinata menerima ajakan itu ia tak mampu
menguasai diri setelah kejadian yang dilihatnya tadi. Itu pertama kali dalam
hidup Hinata ia menolak ajakan Naruto untuk pergi keluar bersamanya.
“Oh,… ya
boleh.” Naruto mencoba mencari posisi ternyaman untuk berbicara dengan
teleponnya sebelum melanjutkan. “ Hinata aku punya kabar baik. Aku jadian
dengan sakura dattebayo!!”
“….”
“Kau tahu
aku senang sekali,… dan aku akan berkencan dengan sakura besok.”
“ Owh itu… Selamat ya,…”
“ Owh itu… Selamat ya,…”
“Kau
terlihat tidak bahagia hinata?? Ada apa??”
“Aku sedang terkena
radang tenggorokan Naruto,.. jadi maaf aku tak banyak bicara” Hinata
menyangkal.
“Owh,… kau
harus banyak istirahat kalau begitu. Kalau begitu istirahatlah,… Jaa…”
“Jaa… Ne “
jawab Hinata.
Telepon
ditutup dan Hinata kembali sedih lagi setelahnya. Setelah invasi Pain ke Konoha
hubungan Naruto dan hinata memang jauh lebih baik. Tapi tak terjadi apa-apa
dantara keduanya. Naruto menjadi lebih terbuka dan menganggap Hinata
sahabatnya. Mereka sering pergi keluar makan dan jalan-jalan,jika Naruto tidak
sibuk dengan misi. Hinata juga sering mengirim sms ke Naruto saat sedang
senggang. Tapi tak ada yang istimewa bagi Naruto, karena dia Sakura dan Sasuke
juga pernah melakukannya bersama-sama. Tentu saja Hinata merasa senang Naruto
mengajaknya bertemu dan berbicara. Sementara Hinata semakin berharap kedekatan
itu membuat naruto mengerti akan ketulusan cinta Hinata. Tapi ternyata tidak
demikian. Sakura,…Sakura… dan Sakura yang selalu Naruto tanyakan kepada Hinata.
Hari ini hari
yang berat bagi hinata. Melihat orang yang dicintainya harus jadian dengan
wanita lain, dan bukan dia. Hinata seperti mendapati ada lubang besar dihatinya.
Sampai-sampai ia tidak mampu untuk bangun dari tempat tidurnya untuk makan malam
bersama hanabi dan ayahnya. Ia lebih memilih untuk tenggelam bersama malam dan
terlelap sampai pagi menjelang.
***To be continued***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar